• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Esai

Mengapa Laki-Laki Lebih Mudah Menangis karena Sepakbola daripada Cinta?

Fathan Arindi by Fathan Arindi
4 January 2026
in Esai, Kabar Baru, Opini
0
0
Foto ilustrasi pameran di Kulidan Space oleh Dhira

Oleh: Muhammad Fathan Arindi

Lampu stadion meredup perlahan, layar raksasa menampilkan skor akhir yang tak ingin dilihat siapa pun. Sekali lagi, timnas Indonesia kembali gagal melangkah menuju Piala Dunia. Ribuan suporter yang sebelumnya bernyanyi lantang kini terdiam. Di antara mereka, seorang laki-laki berdiri memeluk syalnya dengan erat. air matanya jatuh tanpa ia cegah. Ia bukan penggemar baru, ia tumbuh bersama harapan yang terus berulang, “Mungkin tahun ini kita bisa”.

Namun setiap kegagalan selalu terasa seperti patah kecil di dalam dada yang sulit dijelaskan. Menangis karena sepakbola? Ia tidak sendirian. Puluhan ribu orang di stadion, jutaan lainnya di rumah, merasakan patah yang sama. Menariknya, ekspresi emosional seperti ini justru dianggap wajar. Laki-laki yang menangis karena sepakbola bukan fenomena baru di Indonesia.

Dari final AFF sampai babak kualifikasi Piala Dunia, tangis suporter hampir selalu hadir sebagai latar emosional kolektif. Anehnya, hal yang sama tidak selalu terjadi ketika menyangkut urusan cinta. Banyak laki-laki yang justru kaku, menahan diri, atau memilih diam saat menghadapi patah hati (Oliffe dkk., 2023). Fenomena ini menyingkap dinamika emosional yang unik: mengapa lebih mudah bagi sebagian laki-laki untuk menangis akibat sepakbola dibandingkan cinta?

Bagi banyak laki-laki, sepakbola bukan sekadar pertandingan. Ia menjadi ruang emosional yang aman, tempat mereka boleh merasa marah, kecewa, bangga, dan berduka tanpa harus mempertanggungjawabkan kerentanan mereka. Ketika Indonesia gagal lolos Piala Dunia, tangis tersebut merupakan bukti cinta pada negara dan tim, bukan sebagai bentuk kelemahan (Duarte dkk., 2017). Kawan di sebelahnya mengerti. Orang asing di belakangnya pun mengerti. Ada rasa kebersamaan yang membuat air mata terasa “sah”.

Berbeda dengan cinta, ia tinggal dalam ruang yang jauh lebih personal dan intim. Menangis karena cinta berarti membuka sisi paling rapuh dari diri sendiri. Banyak laki-laki tumbuh dalam budaya yang menempatkan kerentanan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Air mata untuk hubungan, patah hati, atau kehilangan justru menjadi beban yang “tidak boleh” ditampilkan.

Keengganan untuk mengungkapkan tekanan emosional juga terkait dengan kesesuaian dengan norma-norma maskulin tradisional yang mencegah mencari bantuan dan mempromosikan penanganan masalah secara mandiri, sehingga memperburuk perasaan kesepian dan depresi (Wagner & Reifegerste, 2024; Kwasi dkk., 2025). Emosi itu ada, bahkan lebih dalam, tetapi tidak punya ruang sosial yang memberi izin untuk dilepaskan. Tangis karena cinta cenderung lahir di kamar gelap, bukan di tengah ribuan orang yang bersorak dan meratap bersama.

Faktor psikologis juga ikut bermain. Sepakbola memicu emosi yang meledak secara tiba-tiba. Gol dramatis, penalti yang gagal, ataupun menit akhir yang menentukan. Sistem saraf bereaksi cepat, adrenalin mengalir, dan keterikatan emosional jangka panjang terhadap tim memuncak seketika (Götz dkk., 2020).

Ledakan mendadak inilah yang membuat air mata mudah pecah. Sebaliknya, cinta bergerak perlahan. Konfliknya bertahap, kekecewaannya menumpuk perlahan. Ritme ini memberi ruang untuk menekan, merasionalisasi, atau mengubur emosinya sebelum sempat tumpah (Bili? dkk., 2022). Lingkungan sosial memperkuat jurang ini. Suasana menonton sepakbola bersifat komunal. Sorakan, makian, pelukan, dan air mata saling berbaur tanpa rasa canggung. Ketika menangis karena timnas, laki-laki tidak pernah sendirian.

Sebaliknya, ketika menghadapi patah hati, mereka jarang memiliki ruang bercerita yang suportif. Tidak semua laki-laki terbiasa mengungkapkan isi hati pada teman dekat. Banyak yang memilih diam, memendam, dan memberi kesan “baik-baik saja” meski emosinya berantakan (Oliffe dkk., 2023). Bukan berarti laki-laki tidak menangis karena cinta, mereka hanya jarang terlihat melakukannya. Ekspresi emosinya tidak mendapat panggung sosial seperti sepakbola. Menangis karena cinta butuh keberanian untuk terlihat rapuh, sementara budaya masih sering menekan ekspresi itu. Sepakbola menawarkan celah pelarian, kesempatan untuk melepaskan emosi tanpa harus membuka diri secara pribadi.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan betapa luasnya dunia emosional laki-laki, meski sering terkurung dalam batas budaya dan norma. Mereka menangis pada hal yang memberi izin dan menahan diri pada hal yang membuat mereka takut tersingkap. Memahami perbedaan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membuka percakapan yang lebih sehat tentang ekspresi emosi.

Ketika masyarakat memberi ruang yang sama bagi laki-laki untuk menangis karena cinta, kehilangan, atau luka batin lainnya, air mata mereka tidak lagi bergantung pada hasil pertandingan. Pada titik itu, air mata tidak lagi menjadi simbol kelemahan, melainkan bukti bahwa manusia, apapun gendernya, tetaplah makhluk yang merasa. Dan mungkin saja, dari keberanian untuk menangis itulah, mereka menemukan kembali dirinya.

Daftar pustaka

Bili?, V., Eterovi?, M., & Mar?inko, D. (2022). Psychodynamic aspects of love: a narrative review. Psychiatria Danubina, 34(1), 3-10.

Duarte, I. C., Afonso, S., Jorge, H., Cayolla, R., Ferreira, C., & Castelo-Branco, M. (2017). Tribal love: the neural correlates of passionate engagement in football fans. Social cognitive and affective neuroscience, 12(5), 718-728.

Götz, F. M., Stieger, S., Ebert, T., Rentfrow, P. J., & Lewetz, D. (2020). What drives our emotions when we watch sporting events? An ESM study on the affective experience of German spectators during the 2018 FIFA World Cup. Collabra: Psychology, 6(1), 15.

Kwasi, E. K. E. D. E., Miezah, G. B. M. G. B., & Agba, P. A. A. P. A. (2025). The Silent Burden: How Toxic Masculinity Creates Psychological Distress and Prevents Help-Seeking Among Ghanaian Men. Interdisciplinary Journal of the African Alliance for Research, Advocacy and Innovation, 1-13.

Oliffe, J. L., Broom, A., Ridge, D., Kelly, M. T., Gonzalez Montaner, G., Seidler, Z. E., & Rice, S. M. (2023). Masculinities and men’s emotions in and after intimate partner relationships. Sociology of health & illness, 45(2), 366-385.

Wagner, A. J., & Reifegerste, D. (2024). Real men don’t talk? Relationships among depressiveness, loneliness, conformity to masculine norms, and male non-disclosure of mental distress. SSM-Mental Health, 5, 100296.

Tags: esaiSepakbola
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Fathan Arindi

Fathan Arindi

Related Posts

Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

8 December 2025
Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

13 August 2024
Pantai di Bali Bisa Saja Dibuka Lagi, tetapi…

Percayalah, Dunia Tak Akan Lagi Sama setelah Pandemi Ini

8 July 2020
Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

22 June 2020
Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari

Puisi untuk Melawan Kuatnya Patriarki

28 December 2019
Garuda dan Citra Orang Bali

Garuda dan Citra Orang Bali

7 December 2019
Next Post
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia