
Sama seperti Instagram sebagian banyak orang di Indonesia saat ini, feed dan story Instagramsaya akhir-akhir ini dipenuhi dengan berita banjir yang melanda pulau Sumatera. Sayangnya (dan betapa tragisnya), situasi serupa–berita bencana yang tak henti-henti muncul di media sosial–sekarang menjadi hal yang berulang, seperti tak pernah ada habisnya bencana yang melanda negara ini. Bali sendiri belum lama mengalami banjir hebat dan media sosial saya sangat ramai mengenai banjir di Bali, baik dari teman yang tinggal di Bali maupun di luar Bali.
Setiap post yang membahas bencana tersebut muncul di feed, jari saya terkadang bergerak otomatis ke arah ikon repost karena ada keinginan untuk ikut bersuara. Tapi, yang sering terjadi adalah saya akhirnya enggan untuk melakukan hal tersebut. Kenapa? Karena seperti ada rasa malu untuk berbicara tentang suatu masalah ketika saya sendiri hanya sedang duduk bermain HP. Setiap ada keinginan untuk melakukan repost, pikiran yang mengikuti adalah “bagaimana kalau saya adalah bagian dari masalah?”, “apakah yang saya lakukan selama ini dalam kehidupan sehari-hari sudah cukup untuk tidak menjadi bagian dari masalah?”.
Kemudian saya sadari, apa yang saya lakukan masih jauh dari sempurna. Meski telah berusaha untuk menjadi konsumen yang sadar lingkungan, tetap masih ada aspek dari hidup saya yang secara tidak langsung berkontribusi pada deforestasi. Misalnya produk-produk yang saya gunakan di rumah masih ada yang mengandung minyak kelapa sawit. Belum lagi penggunaan tisu di toilet, tisu di meja makan, hingga tisu travel pack di dalam tas. Lantas, apakah saya layak untuk bersuara?
Awalnya, saya pikir saya tidak layak untuk bersuara. Tapi, kemudian saya sadari bahwa suara kita berperan penting dalam mengawal kebijakan pemerintah. Bahwa, titik permasalahan bukan hanya di permukaan deforestasi, tetapi juga bagaimana proses izin pembukaan lahan terjadi, bagaimana status hutan lindung bisa sekejap berubah menjadi hutan industri, hingga siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang paling dirugikan dari kebijakan-kebijakan tersebut? Jika kita terdiam bisu, maka sama dengan kita menutup mata dan telinga.
Meski demikian, saya juga menekankan pentingnya aksi yang kita bisa lakukan dalam skala individu. Meski terlihat kecil, prinsip supply dan demand ada di tangan kita. Menjadi konsumen yang bijak dapat dimulai dari mempertanyakan asal-usul dari setiap produk yang kita beli atau konsumsi. Jika bisa dihindari, maka hindarilah. Jika ada alternatif lain yang lebih ramah lingkungan, maka pilihlah alternatif tersebut. Dengan memilih produk yang lebih ramah lingkungan, maka kita turut mendukung ekosistem bisnis yang berkelanjutan, bukan sebaliknya.
Tentu hal ini penuh tantangan, apalagi dengan kebiasaan hidup yang serba cepat dan simpel. Tapi jika kamu benar-benar peduli dengan apa yang kamu repost di media sosial, saya rasa kamu punya motivasi dan justifikasi yang kuat untuk merubah kebiasaan, supaya aksi kita tidak berhenti hanya di media sosial. Berisik dan beraksi.









