• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Ketika Rabies Mengancam Pariwisata Bali

Sang Gede Purnama by Sang Gede Purnama
15 September 2015
in Berita Utama, Lingkungan, Opini
0
0
Masyarakat Bali sudah terbiasa memelihara anjing. Foto Luh De Suriyani.
Masyarakat Bali sudah terbiasa memelihara anjing. Foto Luh De Suriyani.

Belakangan kejadian rabies semakin meningkat jumlahnya di Bali.

Provinsi Bali sudah menyandang status Kejadian Luar Biasa (KLB) Rabies. Upaya penanganan rabies selama ini patut dipertanyaakan karena jumlah kasusnya justru semakin meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Kejadian Rabies ini juga menjadi perhatian dunia internasional. Kedutaan Besar Jepang dan Australia sudah mulai memberi perhatian terhadap penanganan rabies di Bali. Mereka merasa terancam terhadap kondisi ini.

Hal ini juga dapat mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali karena mempertimbangkan faktor kesehatan warganya. Walaupun sampai saat ini belum dikeluarkan travel warning untuk kejadian rabies, namun kita harus bertindak sebelum kejadian rabies menjadi lebih besar lagi.

Kita menyadari sebagian besar masyarakat Bali bergantung pada pariwisata. Sektor pariwisata juga terkait dengan faktor keamanan dan kesehatan. Menyatakan Bali sebagai daerah endemis rabies serta mengalami Kejadian Luar Biasa tentu perlu dilakukan penanganan serius terhadap masalah ini. Semua negara menginginkan warganya berkunjung ke daerah yang aman dan tidak membahayakan.

Isu rabies dapat menjadi sensitif terhadap perkembangan pariwisata kita ke depannya.

Jumlah vaksin anti rabies (VAR) yang berkurang persediaannya menunjukkan ketidak siapan kita menghadapi kejadian luar biasa rabies. Persediaan VAR harus segera ditambah dan didistribusikan ke daerah-daerah rawan rabies. Sehingga apabila ada kasus gigitan anjing maka dapat segera mendapatkan vaksin. Hal ini juga untuk mengurangi angka kematian akibat rabies.

Selama ini kita masih belum optimal dalam melakukkan penanganan pada anjing penular rabies. Masih belum semua anjing divaksin, anjing yang sudah divaksin juga ada yang hilang tandanya. Harusnya setiap anjing ada rekam datanya sudah lengkap vaksinnya atau belum.

Administrasi pendataan anjing inilah yang belum ada. Setiap pemilik anjing harusnya memiliki sertifikat kepemilikan disana ada kelengkapan dokumennya.

Sebagian besar anjing terutama di pedesaan anjing liar dan anjing diliarkan pemiliknya. Saat mau ditangkap untuk dilakukan vaksinasi seringkali tidak jelas siapa pemiliknya sehingga sulit untuk ditangkap. Kasus rabies saat ini sudah memasuki daerah pedesaan.

Seperti diketahui jumlah anjing liar di desa sangat banyak. Sedangkan tindakan kita masih lambat dalam pendataan dan pengendaliannya.

Gerakan pemberian vaksin pada anjing dan hewan penular rabies (HPR) di Bali memang sangat diperlukan ini juga dapat menangkal penyebaran rabies. Terkait dengan anjing liar dan tidak terurus maka eliminasi menjadi salah satu pilihan. Anjing liar yang tidak terurus juga dapat menjadi masalah kesehatan lainnya. Orang yang mendapat gigitan anjing harus dibersihkan lukanya dan mendapatkan vaksin serta serum anti rabies.

Penangan rabies harus cepat dan tepat kerena penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Apalagi kalau sampai ada wisatawan asing yang terkena maka dampaknya akan menjadi besar. Kawasan pariwisata harus mendapatkan perhatian terutama terkait dengan anjing yang liar agar dilakukan vaksin atau dieliminasi.

Keterlibatan Desa Pakraman dalam sosialisasi dan membuat perarem (peraturan adat) tentang anjing mengganggu orang agar ditertibkan. Lembaga sosial masyarakat harus diajak bareng dalam menyukseskan vaksinasi rabies secara masal. Dengan keterlibatan masyarakat maka ada rasa memiliki terhadap program tersebut.

Kejadian kematian akibat rabies seringkali karena keterlambatan penanganan. Warga yang digigit anjing menganggap hal itu sudah biasa sehingga dibiarkan begitu saja.

Sosialisasi terhadap penanganan luka akibat gigitan anjing perlu dilakukan. Luka gigitan anjing harus di dicuci dengan sabun pada air mengalir. Berikan antiseptik kemudian segera bawa ke layanan kesehatan untuk mendapatkan vaksin dan serum anti rabies. [b]

Tags: KesehatanOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sang Gede Purnama

Sang Gede Purnama

Pemerhati kesehatan masyarakat. Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM), Fakutas Kedokteran, Universitas Udayana (Unud) Bali.

Related Posts

Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Sambah Ayunan, Bermain Bersama Mencegah Bala

Patriarki Sebagai Bentuk Ketidakadilan: Patriarki Nggak?

18 December 2025
Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

17 December 2025
Cukupkah Bisnis Online Hanya dengan Website?

Generasi Check Out : Jerat Konstruksi Pasar

11 December 2025
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
Next Post
Festival Film Jerman di Bali 2015

Festival Film Jerman di Bali 2015

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia