
Ruris, teman saya, berceletuk ketika kami memasuki lobi ARTOTEL Sanur, “lukisannya kayak video klip Katy Perry!” Saya sendiri tidak bisa lebih sepakat lagi. Lukisan yang terpamer di lobi merangkap galeri tersebut mengingatkan kami pada California Gurls yang disenandungkan Katy Perry dan Snoop Dogg. Tanggalnya 1 September 2023, kami berempat menyambangi pameran tunggal Dayu Sartika bertajuk Manis Manis. Bertempat di ARTOTEL Sanur, pameran karya rupa ini berlangsung dari 1 September 2023 hingga 14 November 2023.
Manis Manis memamerkan 12 karya lukis dan satu karya instalasi. Dayu Sartika, sang seniman, merupakan lulusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Ganesha. Sejak 2020, beliau mulai berani menggambarkan dirinya sendiri karena terinspirasi oleh kredo milik Frida Kahlo. Bunyi kredonya begini, “I am my own muse. I am the subject I know best. I want to know the subject better.” Dalam karyanya, Dayu berusaha menemukan harmoni dan penemuan diri, sembari menyingkap misteri tubuhnya sendiri.
“Welcome to my birthday party. I mean that.” Begitulah ujar Dayu mengantar Manis Manis. Dalam penggalian artistiknya, Dayu mengisyaratkan kelahiran baru dari dirinya. Penolakan dan hasrat yang terlukis dari tubuhnya di atas kanvas, adalah paradoks pamungkas: pun kanvas bertindak sebagai cermin diri identik, ia juga bertindak sebagai representasi perlawanan dan gejolak dari dalam diri untuk menolak diri sendiri. Laiknya musuh bebuyutan, ujar Dayu.
Potret diri menjadi subyek sentral dalam perbincangan diegetik (dalam-semesta-teks, artinya yang terlukiskan di atas kanvas) dalam karya-karya yang terpampang. Bersanding dengan makanan manis yang merupakan jelmaan dari hasrat tak sampai. Hasrat ini terasa remeh secara tipikal, namun dalam penandaannya merupakan tembok yang luar biasa curam. Sebagaimana ujar sang seniman ketika membuka pamerannya, “Kenyataannya, aku memang tidak bisa memakan manisan lagi karena terdiagnosa kanker payudara sejak 2015. Namun dalam seri karya ini, bukan hanya menyoal tentang penyakit, namun musuh hidup secara luas. Ekspektasi yang tinggi, emosi yang tidak bisa dikendalikan.”
Menggunakan tubuh sendiri sebagai subyek merupakan praktik yang jamak dilakukan para seniman. Dalam penalaran estetika paling jamak—dan tidak terhindarkan, berada dalam kungkungan konteks patriarki—tubuh (perempuan) kemudian terbeban makna eksotis.1 Tafsir atasnya kemudian berganda. Berger meletakkan perbincangan ini dalam lensa male gaze.2 Kemudian para sarjana feminis pun urun pendapat mengembangkan dan memberi catatan kritis atas konsep male gaze itu sendiri.
Male gaze sebagaimana dicetuskan oleh Berger pada tahun 1972, merujuk pada cara memandang dan menafsirkan dunia dengan mengutamakan sudut pandang laki-laki. Konsep ini berdiri di bawah mata pemirsa laki-laki heteroseksual yang secara aktif mengendalikan cara pandang, sementara perempuan didudukkan sebagai objek hasrat pasif—di mana secara tipikal tubuh mereka ada hanya untuk ditatap dan dikagumi. Dinamika ini memperkuat struktur kuasa patriarki dengan menerawang perempuan melalui lensa objektifikasi laki-laki dan membatasi agensi perempuan dalam budaya visual.

Bila disandingkan dengan makanan penutup, pemirsa membebankan makna lain lagi atas tubuh perempuan. Simbol makanan manis sebagai hasrat secara eksplisit, juga mempunyai makna objektifikasi secara implisit. ‘Manis’ sendiri merupakan kata sifat yang jamak disampirkan ketika membincangkan ke-perempuan-an; adjektiva yang terbilang opresif dalam konteks androsentris. ‘Makanan’ adalah konotasi belaka, mengandung di dalamnya makna ‘dinikmati’, ‘disantap’; konotasi yang menghamparkan perbincangan soal subjek pada masalah objektifikasi.3 Namun, bagaimana bila jalinan relasi simbol ini dilakukan sendiri oleh perempuan—sebagai representasi pengalaman perempuan?
Dari 13 karya yang dipamerkan, 12 menggunakan subjek tubuh perempuan dan potret diri Dayu Sartika sebagai sang seniman. Nihil atau terbatasnya penutup pada subjek bisa jadi berarti dua hal. Pertama, subversi atas norma—dan ini, secara menggairahkan, membawa wacana kebebasan perempuan dalam tahbis feminisme. Kedua, adalah perayaan—atas tubuh dan perbincangan melampaui hasrat. Kebermaknaan ganda ini bukan sesuatu yang terpisah secara diametral; ia merupakan paradoks sama absahnya. Kemarahan sebagai motivasi subversi dan kesenangan (joy) sebagai akar perayaan adalah wajar mengada beriringan.
Potret-potret diri ini tentu saja menggugat kewacanaan male gaze. Tubuh tidak dilukiskan belaka. Penanda (signifier) lain masuk melalui makanan penutup—dan dijabarkan padanya teks sampiran (parateks)—berupa pernyataan sang seniman—tentang pantangan makan sebagai konteks. Cara pandang male gaze teranulir karena perbincangan eksotis soal tubuh tidak boleh dilepaskan dari perbincangan soal hasrat yang terlukis melalui yang-Imajiner (citra dan representasi) dan yang-Simbolik (bahasa dan peran sosial).4 Maka, penggambaran diri dalam karya-karya Dayu adalah usahanya untuk mengklaim kembali tubuh dan seksualitasnya dari male gaze.5
Yang menarik, usaha mengklaim kembali tubuh dalam karya-karya Manis Manis ini merupakan usaha eksplisit yang dijabarkan dalam konteks—dan disampaikan oleh senimannya sendiri. Dengan tidak mempersoalkan male gaze sejak dari intensi dan aspirasi, serta menegaskan bahwa usaha klaim tubuhnya adalah atas dirinya sendiri, laki-laki disingkirkan dari perbincangan sejak mula. Manis Manis kemudian menjadi pameran karya feminis in toto, seutuhnya dan seluruhnya.
Namun, ada satu karya terpisah yang ‘tidak tunduk’ pada tema yang telah panjang lebar dibahas. Lukisan berjudul Ready to Eat #3 hanya menampilkan rupa tiga potong cake, berwarna putih dan coklat. Lukisan dengan dimensi 30 x 40 cm ini turut memuat tipografi bertuliskan “Where’s my Dessert?” Subyek kue ini justru menjadi potongan karya yang mengamplifikasi tema pada seluruh karya Manis Manis. Karya ini menarik, karena nihil subyek diri sang pelukis, namun justru memuat beban makna yang merangkum, menggemakan, memadukan, dan melengkapi katalog Manis Manis. Bagaimana bisa?

Kehilangan subyek diri bisa dimaknai dua hal: transendensi dan penekanan pada hasrat sebagai tema. Transendensi adalah yang paling sederhana—yang Imajiner terandaikan melampaui manusia. Subyek mewujud dalam bentuknya karsa manusia (dalam bentuk kue/cake) namun berdiri tanpa representasi manusia. Jejak manusia tertinggal pada tipografi berwujud tanya—tentang pantangan, gugatan, dan tekanan hasrat untuk melanggarnya, paralel dengan bagaimana manusia menjadi dalam mitologi. Sebagaimana mitologi penciptaan, khuldi, apel, dan cake dalam lukisan ini menempati kedudukan yang sama. Transendensi, kemudian bukan melulu soal subyek-diri-yang-tiada (atau tidak-tertera), namun kesejajaran dalam menalar hasrat terjelma lintas mitologi.
Tentu, cake menjadi subyek yang terlampau personal jika disandingkan dengan konteks perjuangan Dayu melawan kanker payudaranya. Pantangan makan makanan manis menjadi wacana gugatan untuk membicarakan dirinya. Hasrat yang ditekan menjelma tema besar. Makanan manis kemudian menjadi motif simbolis untuk menegangkan perkara hasrat.6 Dalam penalaran semiotik, tafsir atas makanan manis adalah wakil dari kesenangan dan kenyamanan belaka. Dalam tipologi kultural, pencuci mulut yang manis menjadi jalur laku bagi ikatan keibuan (maternal bonding), biasanya dengan buah-buahan. Kenyamanan dan kesenangan kemudian tergugat, dengan Ready to Eat #3 dan absennya sosok Dayu, menciptakan ketegangan antara hasrat dan penolakan (denial). Subyek diri kali ini berjarak dengan subyek materi; menggaris bawahi tegangan antara pertarungan melawan sakit di tingkat emosi dan fisik. Jika Dayu mengibaratkan pikirannya sebagai wahana bermain, maka permainan ini mengandung kekerasan bawaannya tersendiri.
Kembali pada konteks budaya patriarki dan androsentris, pencuci mulut punya pemaknaan simbolis tipikalnya sendiri. Sebagaimana video klip Katy Perry dan kartun seperti The Amazing World of Gumball (2011-) dan Adventure Time (2010-2018), makanan manis selalu diasosiasikan dengan ke-perempuan-an. Feminitas mudah digambarkan dengan kesenangan dan hasrat yang diwakili oleh gula-gula. Sugar dan honey menjadi panggilan wajar yang punya sejarah mula diperuntukkan bagi perempuan. Di medan androsentris, gula-gula—secara harfiah pula7—dimaknai sebagai desakan hasrat yang harus direpresi. Gula menjadi kata sifat untuk menggambarkan tubuh ideal, namun menjadi kata benda yang dijauhi untuk mencapai tubuh ideal itu sendiri.

Namun, semua makna yang termapankan laki-laki itu digugat oleh Dayu. Dengan menggunakan makanan manis, Dayu meletakkan stereotip dalam tegangan maknanya yang tipikal. Ketersandingan subyek diri dan subyek materi bekerja untuk menggaungkan makna alternatif: bahwa hasrat perlu dirayakan, walau kondisi tidak mengizinkan untuk menunaikannya. Ready to Eat #3 kemudian menggandakan makna alternatifnya, mengepalai jukstaposisi kekaryaan Manis Manis dan mengejawantahkan ulang hubungan antar makanan manis dan diri.
- Butler, Judith. 1990. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge. ↩︎
- Berger, John. 1973. Ways of Seeing. BBC dan Penguin Books. ↩︎
- Korsmeyer, Carolyn. 1995. Making Sense of Taste: Food and Fine-Dining Culture. Cornell University Press. ↩︎
- Dalam penjabaran Lacanian, makanan manis bisa saja mewakili yang-Riil, sebuah alam hasrat pralinguistik (sebelum-bahasa) dan kenikmatan yang selamanya elusif atau susah didapat. Hasrat atas makanan manis menyimbolkan upaya untuk meraih yang-Riil namun mustahil dicapai melalui yang-Imajiner i.e citra makanan manis dalam lukisan serta yang-Simbolis i.e patriarki dan eksesnya seperti male gaze dan pembagian peran gender nan biner. Selengkapnya baca Leader, Darian, et al. 2000. Introducing Lacan. Icon Books. ↩︎
- Mulvey, Laura. 1975. Visual Pleasure and Narrative Cinema. Routledge. ↩︎
- Bordo, Susan. 1993. Unbearable Weight: Feminist Theory and the Body. University of California Press ↩︎
- John Harvey Kellog, penemu corn flakes dan sereal—seorang Adventis pula, percaya bahwa mengonsumsi pangan hambar akan membantu menjinakkan hasrat dan mencegah orang-orang untuk menuruti insting ‘rendah’ mereka. Beliau juga percaya bahwa masturbasi adalah sumber dari penyakit kronis. Dilansir dari Braun, Whitny. 2017. How the Seventh-Day Adventist Church Gave You Breakfast Cereal: You’re Welcome. Hufftington Post Blog. ↩︎






![Cek Fakta: [SALAH] “Baru saja banjir bandang bak tsunami. Bali Hari ini 7/7/2023. Kendaraan dan rumah terseret”](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2024/03/banjir-bandang-75x75.jpg)


