• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, July 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

Ida Bagus Surya Manuaba by Ida Bagus Surya Manuaba
30 June 2026
in Kabar Baru, Opini, Sosial
0
0

Pembukaan jalur penerimaan mahasiswa baru khusus penyandang disabilitas oleh Universitas Udayana patut diapresiasi sebagai langkah positif dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Di tengah masih terbatasnya kesempatan yang tersedia bagi teman-teman dengan disabilitas untuk mengenyam pendidikan tinggi, kebijakan afirmatif seperti ini tentu memberikan harapan bagi terwujudnya kampus yang lebih terbuka dan ramah terhadap keberagaman.

Namun, apresiasi tersebut perlu disertai ruang refleksi. Dalam pengumuman yang diterbitkan, peserta yang dapat mengikuti jalur khusus disabilitas dibatasi pada ragam disabilitas fisik atau tuna daksa. Artinya, ragam disabilitas lain seperti disabilitas netra, tuli, psikososial, intelektual, maupun ragam disabilitas lainnya belum memperoleh kesempatan yang sama melalui jalur tersebut.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan yang layak didiskusikan bersama, apakah sebuah jalur yang diberi label “khusus penyandang disabilitas” sudah cukup mencerminkan keberagaman ragam  disabilitas itu sendiri?

Penting dipahami bahwa teman-teman dengan disabilitas bukanlah kelompok yang homogen. Setiap ragam disabilitas memiliki kebutuhan, hambatan, serta bentuk dukungan yang berbeda-beda. Karena itu, pendekatan inklusif tidak cukup hanya menghadirkan akses bagi satu kelompok disabilitas, melainkan perlu mempertimbangkan keseluruhan ragam disabilitas secara proporsional dan bertahap.

Tentu dapat dipahami bahwa perguruan tinggi memiliki berbagai pertimbangan dalam merancang kebijakan, termasuk kesiapan sumber daya, sarana prasarana, dan layanan pendukung. Akan tetapi, keterbatasan tersebut sebaiknya tidak menjadi alasan untuk menutup ruang partisipasi kelompok disabilitas lainnya. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi titik awal untuk menyusun peta jalan pengembangan layanan yang lebih inklusif di masa mendatang.

Lebih dari itu, pendidikan inklusif bukan sekadar persoalan akses masuk ke perguruan tinggi. Pendidikan inklusif adalah komitmen untuk memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan akademik tanpa diskriminasi. Komitmen tersebut akan semakin kuat apabila dirancang berdasarkan pengalaman dan kebutuhan nyata bagi teman-teman dengan disabilitas.

Karena itu, pelibatan ragam disabilitas secara bermakna sejak awal proses penyusunan kebijakan menjadi sangat penting. Organisasi disabilitas, mahasiswa disabilitas, komunitas, keluarga, serta para pemerhati isu disabilitas perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan dan kebutuhan mereka. Keterlibatan ini tidak hanya dilakukan pada tahap sosialisasi, melainkan sejak perencanaan, penyusunan, implementasi, hingga evaluasi kebijakan.

Prinsip “nothing about us without us” telah lama menjadi salah satu fondasi gerakan disabilitas di berbagai negara. Prinsip tersebut mengingatkan bahwa kebijakan yang menyangkut teman-teman dengan disabilitas akan lebih tepat sasaran apabila teman-teman dengan disabilitas sendiri turut menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, harapan masyarakat bukanlah sekadar melihat semakin banyak program yang menggunakan istilah “inklusif”. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai inklusi benar-benar tercermin dalam kebijakan yang dihasilkan. Sebab, inklusi yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa sering istilah tersebut digunakan, melainkan dari sejauh mana seluruh kelompok dapat merasakan manfaatnya secara setara.

Universitas Udayana telah mengambil langkah awal. Kini, tantangan berikutnya adalah memperluas makna inklusi itu sendiri agar tidak berhenti pada sebagian ragam disabilitas. Dengan membuka ruang dialog dan melibatkan ragam disabilitas secara bermakna sejak awal, kampus dapat menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar label atau citra kelembagaan, melainkan komitmen nyata untuk menghadirkan pendidikan yang adil bagi semua.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: Disabilitaskampus inklusifOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ida Bagus Surya Manuaba

Ida Bagus Surya Manuaba

Ida Bagus Surya Manuaba adalah hipnoterapis netra yang telah tersertifikasi kompeten oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi Hipnoterapi Indonesia. Selain sebagai hipnoterapis, ia juga aktif menyuarakan berbagai isu terkait disabilitas melalui tulisan dan kegiatan sosial.

Related Posts

Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Next Post
Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia