• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, September 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ironi Mewahnya Vila-vila dan Kondisi Sekolah Negeri di Bali

I Dewa Gede Putra by I Dewa Gede Putra
17 February 2026
in Kabar Baru, Opini, Pendidikan
0
0

Ilustrasi foto sekolah saat banjir.


Bangku sekolah negeri adalah tempat pertama bagi banyak anak Indonesia untuk membaca negara. Bukan melalui buku undang-undang atau pidato pejabat, melainkan melalui ruang kelas tempat mereka duduk setiap hari—melalui atap yang bocor atau kokoh, lantai yang terawat atau rusak, ruang yang sejuk atau pengap. Di sanalah negara hadir secara konkret, atau justru terasa jauh dan absen.

Sekolah negeri merupakan ruang publik paling awal dan paling intens yang mempertemukan anak dengan negara. Di ruang inilah anak belajar bukan hanya membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menyerap pesan simbolik tentang bagaimana negara memperlakukan warganya. Ketika ruang belajar dibiarkan dalam kondisi minimal, pesan yang diterima anak-anak menjadi jelas: pendidikan bukan prioritas utama.

Masalah sarana dan prasarana sekolah negeri sering direduksi sebagai persoalan teknis—rehabilitasi bangunan, laporan aset, atau proyek fisik tahunan. Padahal, kondisi ruang sekolah adalah hasil langsung dari keputusan kebijakan dan politik anggaran. Ia mencerminkan keberpihakan: sektor mana yang dirancang dengan serius dan sektor mana yang sekadar dipelihara agar tetap berjalan.

Sebagai orangtua, saya memandang sekolah sebagai sebuah ekosistem pendidikan. Ruang kelas, halaman sekolah, koridor, ruang guru, perpustakaan, dan fasilitas pendukung lainnya membentuk pengalaman belajar yang utuh. Ruang yang buruk tidak hanya mengganggu konsentrasi dan kesehatan, tetapi juga menggerus rasa dihargai, baik bagi murid maupun guru.

Dalam tiga tahun terakhir, sekolah negeri di Bali menghadapi persoalan yang berulang.
Ruang kelas rusak ringan hingga berat, sanitasi tidak memadai, fasilitas pembelajaran terbatas, serta bangunan yang tidak dirancang menghadapi iklim tropis dan cuaca ekstrem. Setiap musim hujan lebat, kegiatan belajar mengajar terganggu. Situasi ini menunjukkan bahwa sekolah masih diperlakukan sebagai bangunan fungsional minimum, bukan sebagai infrastruktur publik strategis.

Persoalan ruang semakin kompleks ketika dikaitkan dengan kondisi guru.
Guru dituntut profesional, adaptif, dan inovatif, tetapi bekerja dalam ruang yang tidak mendukung kerja pedagogis. Di Bali, persoalan kekurangan guru, distribusi yang tidak merata, dan kesejahteraan yang belum sepenuhnya memadai masih menjadi tantangan.
Negara menuntut hasil, tetapi sering mengabaikan prasyarat.

Ironi ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan arah pembangunan Bali secara keseluruhan. Pulau ini dibangun dengan standar tinggi untuk pariwisata—hotel, vila, bandara, dan kawasan komersial dirancang secara serius dan detail. Sementara itu, banyak sekolah negeri tetap berada pada standar minimum. Ketimpangan ini bukan persoalan kemampuan teknis, melainkan pilihan kebijakan.

Kritik ini tidak lahir dari sikap pesimis terhadap sekolah negeri. Saya masih percaya—dan memilih untuk percaya—bahwa sekolah negeri memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang pendidikan yang bermutu dan adil. Keyakinan ini, juga merupakan keputusan personal. Anak-anak saya sendiri saya percayakan untuk bersekolah di sekolah negeri. Tentunya dengan tambahan berbagai kegiatan diluar sekolah.

Masalahnya dari negara, bukan semata ketiadaan dana, melainkan ketiadaan keberanian politik. Selama pendidikan dipuji sebagai prioritas tetapi ruang belajarnya dibiarkan tertinggal, ketimpangan akan terus berulang. Bangku sekolah akan terus menjadi tempat anak-anak membaca negara—dan menemukan bahwa negara belum sepenuhnya hadir.

Sekolah negeri adalah etalase paling jujur dari komitmen negara. Jika negara ingin dihormati, perbaikannya harus dimulai dari ruang kelas. Dari bangku sekolah itulah legitimasi negara dibangun, atau justru dipertanyakan.


—

I Dewa Gede Putra, warga Bali, orangtua dari anak yg bersekolah negeri.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: Opinisekolah di Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Dewa Gede Putra

I Dewa Gede Putra

Related Posts

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Next Post
Monkey Millennial, Simbol Konsumerisme Hari Ini

Berhati-hati dengan Rekayasa Genetika

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan Kusamba Bisa Jadi Tinggal Kenangan

Nelayan Kusamba Bisa Jadi Tinggal Kenangan

13 September 2026
IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

12 September 2026
Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

11 September 2026
Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

11 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia