• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Hush: Perempuan dan Seks dalam Kegelisahan yang Sama

Cisilia Agustina by Cisilia Agustina
19 October 2017
in Gaya Hidup, Kabar Baru
0
0

“721000 sexual crimes were committed against women last year alone. Sexual violation can happen to anyone, anywhere...”

Kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak menjadi lead HUSH, film karya kolaborasi Djenar Maesa Ayu dengan Kan Lume, sutradara asal Singapura. Isu yang cukup relevan hingga hari ini. Apalagi melihat maraknya kasus kekerasan seksual yang menjadikan perempuan sebagai korban.

Perempuan dan seksualitas sebenarnya bukan hal baru dalam kekaryaan Djenar. Hal yang kerap dianggap tabu untuk diperbincangkan dalam konteks budaya timur Indonesia tersebut justru menjadi isu sentral dalam setiap karyanya, baik lewat buku maupun film telurannya. Mereka Bilang Saya Monyet (2008), SAIA (2009), dan Nay (2015) adalah tiga film sebelumnya yang mengangkat tema senada dengan gaya berbeda.

Film keempat Djenar ini menjadi salah satu film yang diputar pada perhelatan festival film tahunan Bali International Film Festival (BALINALE 2017) di Cinemax Lippo Mall Kuta. Festival ini satu di antara festival film berskala internasional di Bali yang menghadirkan film-film kontroversial dan berkaitan dengan isu terkini.

Dengan konsep mokumenter, sebuah garapan fiksi yang dikemas seolah nyata dengan gaya documenter, Djenar dan Lume menghadirkan sosok Cinta Ramlan. Cinta yang berperan sebagai seorang penyanyi asal Bali yang berkarier di ibu kota, sebagai tokoh yang mewakili isu feminis dalam tataran seksualitas yang menjadi bahasaanya.

Dalam film ini diceritakan bagaimana Cinta mencari penyegaran dari segala kesemerawutan Jakarta, dengan bertolak ke Gili, Nusa Tenggara Barat hingga akhirnya kembali ke rumahnya di Bali. Tidak langsung merujuk pada konteks awal, yakni kasus kekerasan seksualitas perempuan yang menjadi pembuka dan footage di beberapa bagian film tersebut.

Namun, di film ini, juga ingin menggambarkan bagaimana pandangan mengenai seks itu sendiri yang belum setara pada dua gender, perempuan dan laki-laki.

Di mana laki-laki dengan daya dan imaji seksualitasnya adalah sesuatu yang wajar bahkan menjadi hal yang superior, sementara sebaliknya jika perempuan berada posisi tersebut mendapatkan label negatif. Sementara bagi Cinta yang ingin merdeka dengan tubuhnya dan tidak segan-segan mengungkapkan kesukaannya pada seks. Di mana seks menjadi kebutuhan baik perempuan dan laki-laki.

“Di Indonesia itu, kalau laki-laki berhubungan seks dengan banyak orang, dinilai maskulin, mereka bangga. Tapi kalau perempuan yang begitu, perempuan itu, kami, dianggap pelacur. Ini nggak adil,” ujar Cinta dalam salah satu tuturannya di film Hush dalam bahasa Inggris.

Sesungguhnya ini sebuah tuturan menarik untuk dibahas dengan latar belakang Cinta yang notabene seorang public figure seolah berani “menelanjangi dirinya” dengan pengalaman yang ia tuturkan dalam film ini. “Hushhhh”, kata yang kerap dijadikan peringatan untuk tidak membicarakan hal-hal yang dianggap tabu ini, secara tidak langung juga mengingatkan publik untuk berbicara, mendobrak dan meluruskan konstruksi yang salah ini.

Isu yang Melebar

Hanya saja ada jarak antara lead di awal dan apa yang ingin disampaikan Cinta dalam perjalanannya ini sehingga membuat isu yang diangkat justru melebar. Benang merah antara kasus kekerasan seksual yang diangkat di awal atau pembuka film ini justru hadir hampir di penghujung film ini. Saat Cinta akhirnya menuturkan pengalaman bagaimana ia mendapati kekerasan seksual tersebut di usianya yang masih anak-anak.

Sesungguhnya jarak yang dihadirkan bisa jadi sebagai pengantar, menambah pemahaman dan perspektif lainnya akan isu ini sendiri. Namun, sebaliknya, justru tidak ada hal baru yang kemudian lahir dari sana.

Apalagi dihadirkan dengan dengan gaya dokumenter lama, yakni wawancara face-to-face, dalam durasi yang tidak pendek, yakni 90 menit, penonton tidak lebih dari sekadar mendengarkan curhat seorang Cinta Ramlan selama di Gili dan Bali. Akan lebih menarik jika Djenar dan Lume mampu mengeksplorasi cara pengemasan film itu sendiri.

Terlebih pada era milenial hari ini dan berbagai perkembangan gaya dokumenter dalam medium film, menampilkan gagasan dengan penuturan gaya lama seperti itu tidak akan membedakan dengan sekadar membaca sebuah artikel atau justru dengan film-film Djenar sebelumnya.

Ide dan pesan yang ingin disampaikan sejatinya adalah hal yang sangat menarik dan tidak bisa dikatakan tidak penting untuk membuka pikiran publik hingga hari ini. Namun kembali yang menjadi tantangan bagi film maker adalah bagaimana mengemas ide terebut agar pesan dapat tersampaikan dan menggugah orang untuk gelisah setelah menontonnya. [b]

Tags: BALINALE 2017FilmResensi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Cisilia Agustina

Cisilia Agustina

menuliskan bisik-bisik di warung kopi.

Related Posts

Mamak dan Kecemasan akan Kesendirian dalam Film Lahn Mah

Mamak dan Kecemasan akan Kesendirian dalam Film Lahn Mah

8 June 2024
Film Sekeping Kenangan, Merajut Ingatan Para Eks Tapol 65 di Bali

Film Sekeping Kenangan, Merajut Ingatan Para Eks Tapol 65 di Bali

3 October 2022
Perempuan yang Melawan dalam Film Tanah Ibu Kami

Proyeksi Industri Film di Bali

2 September 2021
FSAI 2021: Seberapa Kenalkah Kita Pada Tetangga Kita?

FSAI 2021: Seberapa Kenalkah Kita Pada Tetangga Kita?

23 June 2021
Nobar Pulau Plastik di Fairfield by Marriott Bali Kuta

Nobar Pulau Plastik di Fairfield by Marriott Bali Kuta

27 April 2021
You and I, tentang Memori dan Dekatnya Kematian

You and I, tentang Memori dan Dekatnya Kematian

17 April 2021
Next Post
AWAL: Nasib Manusia, yang Absen dari Kepulangan Sang Eksil

AWAL: Nasib Manusia, yang Absen dari Kepulangan Sang Eksil

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia