Eco Defender Movie Hadirkan Rumah di Seribu Ombak

Eco-Defender-Movie-Night2

Setelah sukses dengan pentas musik, kali ini dengan film.

Kamis (14/2) mulai pukul 20.00 WITA publik di Bali kembali mendapat kesempatan menikmati film layar lebar Rumah di Seribu Ombak karya sutradara Erwin Arnada. Pemutaran film ini momen istimewa, pasalnya terkait dengan program Eco Defender, gerakan komunitas yang digagas Jerinx, Superman Is Dead, untuk menyokong penuh upaya penyelamatan lingkungan di Bali yang dilakukan WALHI Bali bersama organisasi serta komunitas lainnya.

Jerinx menyampaikan, Eco Defender awalnya sebuah project dari RUMBL, yang memiliki misi memberi kontribusi nyata untuk sebuah perjuangan penyelamatan lingkungan. Sokongan perjuangan yang dipilih adalah apa yang dilakukan WALHI Bali dalam mempertahankan keseimbangan ekologi di Bali. Eco Defender awalnya berbentuk acara pentas musik dengan mengajak band-band Bali turut berkontribusi mengajak para penyukanya terlibat dalam aktivitas menjaga lingkungan Bali. Hasil pentas musik, yang merupakan ajang penggalangan dana ini, didedikasikan bagi WALHI Bali untuk memfasilitasi program-program yang dibuatnya.

Gagasan Eco Defender semakin meluas dengan hadirnya dukungan berbagai komunitas dan pihak-pihak yang membantu. Termasuk di antaranya Erwin Arnada yang memberikan dukungan dengan mendedikasikan karyanya untuk turut menjadi bagian dari kampanye Eco Defender. Eco Defender Movie Night sendiri pertama kali diadakan di Jakarta pada Januari 2013 lalu. Kali ini dilanjutkan di Wisnu Open Space Kerobokan Kuta pada Kamis ini.

Bagi Erwin, dedikasinya sangat erat dengan gagasan film Rumah di Seribu Ombak yang berlatar alam Singaraja, Bali. Dalam film ini dikisahkan persahabatan dua anak laki-laki di Bali yang berbeda keyakinan. Kisah ini hasil permenungan Erwin atas kisah-kisah miris pelecehan seksual yang dialami banyak bocah di Singaraja.

Hasil riset dan permenungannya itu kemudian dituangkan dalam novel berjudul Rumah di Seribu Ombak. Novel ini ia selesaikan di LP Cipinang yang kemudian menjadi dasar cerita film dengan judul sama.

Totalitas
Rumah di Seribu Ombak adalah film layar lebar pertama yang disutradarai Erwin Arnada. Sebelumnya Erwin adalah produser dari beberapa film seperti Asmara Dua Diana (2009), Jelangkung 3 (2007), Jakarta Undercover (2006), Cinta Silver (2005), Catatan akhir sekolah (2005), 30 Hari Mencari Cinta (2004) dan Tusuk jelangkung (2003).

Totalitas Erwin menyutradarai film Rumah di Seribu Ombak ini beroleh apresiasi di Festival Film Indonesia (FFI) dengan mendapat empat penghargaan untuk kategori Best Script, Best Editing, Best Sound Design dan Best New Talent. Bukan itu saja, di ajang AFI Film Festival, Rumah di Seribu Ombak mendapatkan penghargaan untuk Best Visual Art dan Best Music Scoring.

Maret 2013 ini, Erwin diundang membawa Rumah di Seribu Ombak tampil di sebuah festival film internasional.

Erwin memastikan akan menghadirkan para pemeran utama film ini pada acara Eco Defender Movie Night ini, termasuk termasuk Jerinx, dan para pekerja di balik layar.

Setelah pemutaran film, jika pemirsa berminat akan dilanjutkan dengan bincang-bincang bersama para pemeran dan pembuat filmnya. Kesempatan ini memang sangat berharga karena Erwin sendiri telah memutuskan untuk tidak akan merekam Rumah di Seribu Ombak dalam keping DVD. “Kalau tidak nonton sekarang, bakalan rugi,” ujar Erwin tidak bercanda.

Sementara Made Suarnatha selaku pendiri Yayasan Wisnu dan penggagas Wisnu Open Space yang menjadi tuan rumah bagi acara Eco Defender Movie Night ini menyampaikan dukungannya. Ia membuka peluang pengembangan kolaborasi komunitas yang memperjuangkan lingkungan dan keberlanjutan di Bali.

“Sebagai tuan rumah, kami berharap Wisnu Open Space turut memberikan stimulus bagi terciptanya pemikiran dan karya kreatif yang merepresentasi nilai-nilai sosial, lingkungan dan budaya,” ujar Made Suarnatha.

Informasi lebih lanjut mengenai Eco Defender Movie Night silakan menghubungi Dodix di 087779997713 atau email: dodix@supermanisdead.net. [b]