
Informasi penggemar dan pengguna sehari-hari transportasi umum memang tak kalah penting, karena mereka lah yang secara langsung berinteraksi dengannya—meraba, merasakan, mengalami, bahkan mereka pun memiliki perasaan, seakan-akan transportasi umum layaknya makhluk hidup.
Bagus, Sukma, dan Gede baru pulang dari kerja. Mereka merupakan pengguna sekaligus pengamat transportasi umum di Bali. Mereka tengah berbincang bareng dengan saya perihal Trans Metro Dewata. perbincangan membahas seputaran pengalaman mereka dengan transportasi umum—masa lalu, masa kini, dan harapan mereka kedepannya.
Trayeksi sejarah sebelum TMD
Trans Metro Dewata (TMD) terbentuk dari sejarah yang panjang angkutan umum di Bali. Mereka bertiga menjelaskan bagaimana perjalanan transportasi umum di Bali—dimulai dari Trans Sarbagita, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Teman Bus, hingga Trans Metro Dewata (TMD).
“Dulu ada ruang kosong di tengah, yang biasanya buat kursi roda. Longgar—sepeda utuh saja muat,” kata Bagus, mengenang armada besar Trans Sarbagita generasi awal yang berbasis Mitsubishi dan Hino.
Trans Sarbagita pernah punya jangkauan luas, seperti sebut Sukma, “Dulu, waktu Sarbagita, emang bagus loh. Sebanyak itu ada trayeknya zaman dulu.”
Rutenya disebut menjangkau hingga Lebih di Gianyar, dengan armada pengumpan (feeder) Elf yang menyisir Tanah Lot, Mengwi, Uluwatu, hingga GWK. “Katanya dulu rencananya mau tujuh belas koridor,” ujar Gede. “Tapi belum terjadi sampai sekarang,” sambungnya
Rencana itu tak pernah utuh terwujud. Sekitar 2016 atau 2017—para narasumber sendiri tak sepakat soal tahun pastinya—terjadi rasionalisasi yang mematikan banyak trayek. Armada besar digantikan bus sedang.
Sekitar waktu Covid-19 dan era G-20, terdapat bus KSPN. Mereka mengingat munculnya bus KSPN yang melayani rute-rute pariwisata, dari Ubud sampai eks Pelabuhan Buleleng. Sebut Gede, “Saya pernah lihat KSPN di eks Pelabuhan Buleleng. Dia kan ke mana-mana itu KSPN.”
Pada awal 2022 operasional sempat beralih ke program Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), dengan titik keberangkatan berpindah dari Batubulan ke GOR Ngurah Rai. PPD kemudian merger ke DAMRI—perubahan yang, bagi pengguna biasa, hanya terlihat dari kode bodi yang berganti dari “PPD” menjadi “DMR”.
Trans Metro Dewata sendiri lahir di bawah program Teman Bus bentukan Kementerian Perhubungan, dan mulai beroperasi pada 2020.
Perbedaan Teman Bus dan TMD
Bagus, Sukma, dan Gede berbincang mengenai perbedaan fasilitas antara TMD (dikelola oleh Kementerian Perhubungan) dan Teman Bus (dikelola oleh Pemerintah Provinsi Bali). Dari perbincangan, terdapat perbedaan dari beberapa hal: armada, saluran pengaduan, serta perawatan dan pengawasan.
Sukma menyebutkan terdapat perbedaan jumlah armada yang cukup signifikan antara Teman Bus dan TMD. “Dari 105 (Teman Bus) terus akhirnya gara-gara masalah berhenti itu berkurang sekitar berapa ya? 30 jadi 75 (TMD),” kata Sukma.
Bagus menceritakan perihal perbandingan layanan pengaduan antara Teman Bus dan TMD. “Layanan pengaduannya cuma bisa diaplikasi sama grup WhatsApp besar. Dulu Teman Bus lebih apa ya? Banyak gitu pengaduannya. Teman Bus itu punya hotline, jadi kalau ada apa-apa bisa langsung telepon,” sebut Bagus.
Gede mengkonfirmasi, “Kalau sekarang kan enggak punya hotline. Bisanya protes di aplikasi kalau enggak langsung di WhatsApp grup gitu.”
Dengan sistem pengaduan ini, mereka bertiga lebih memilih untuk langsung menghubungi salah satu pihak pengaduan yang ada di grup WA tersebut. “Nah, kalau aku lebih sering males bikin ribut, langsung tak japri aja. Mending langsung ngomong ke orang yang langsung aja. Tak kasih foto dan juga timestamp-nya—jam sekian,” sebut Gede.
Sukma di sini menyebut pengawasan sewaktu Teman Bus sangat sering. “Apa mungkin perawatannya juga dulu lebih apa karena kan diawasi oleh Kemenhubnya langsung kali ya. Zaman Kemenhub kan kalau pas berhenti di titik tertentu kan ada yang kayak ngawasin itu loh. Ada orang yang bawa gadget gitu,” tutur Sukma.
Untuk TMD, pengawasan bisa dibilang jarang. “Kalau dulu itu rutin. Di setiap titik itu ada. Tapi sekarang, kadang pada saat tertentu saja disurvei sama supervisornya. Biasanya akhir tahun kelihatan supervisornya,” tutur Gede.
Perubahan rute bus
Perbincangan Bagus dan Sukma membahas perihal rute bus TMD sebelumnya yang dianggap kurang baik. “Awalnya Ubung, terus di GOR Ngurah Rai. Terus balik lagi ke Ubung. Balik lagi ke GOR. Terus habis itu ke Ubung lagi,” kata Bagus. (ni tambah lagi)
Bagus menambahi soal rutenya yang ikut berubah. “Kalau enggak salah dulu waktu di GOR Ngurah Rai itu kita enggak lewat Gatsu, tapi lewat Supratman”.
Rute Supratman itu bertahan cukup lama, “2024 tuh masih lewat Supratman, terus akhirnya diubah lagi ke rute yang sekarang ini,” sambung Bagus.
Sukma menjelaskan kenapa rute Supratman ditinggalkan. “Kalau Supratman tuh pagi macetnya agak parah. Apalagi di sana banyak sekolahnya juga. Anak-anak sekolah pulang pergi itu pasti ada saja macetnya di jam-jam segitu.”
Sukma ingat betul titik macet itu, dari zaman ia masih sekolah. “Waktu aku SMA aku pernah lewatin SMK 1 itu tuh kayak udah lampu merah. Udah ada anak SMK pulang pergi, apalagi pulang sekolah gitu. Itu tuh kayak busnya diam di sana, ribet banget sih gitu,” katanya. “Tapi sekarang aku enggak pernah lihat bus itu semalam di sana,” sambungnya.
Rute sekarang, menurut Sukma, jauh lebih mudah. “Yang paling gampang diingat dan diakses gitu loh.”
Bagus membahas mengenai rute TMD terdahulu yang melewati Penatih. “Dulu kan lewat penatih, dan di Penatih banyak banget haltenya yang sudah jadi.”
“Sekarang udah ga lewat sana lagi karena ada perbaikan jalan. Karena itu, sekarang busnya full lewat Gatot Suboroto. Dulu, waktu lewat Penatih, muter busnya—dari Nangka Utara, terus ke Penatih, lalu keluarnya dari jalan samping Living World itu,” sambungnya.
Selain membahas halte, Bagus menceritakan kesulitannya naik TMD. “Saya biasanya nitip motor di Cening Bagus. Tapi, waktu itu di usir sama satpam sana, karena yang boleh parkir di sana itu khusus pengunjung. Biasanya saya nitip disana cuma bayar Rp2.000 disana. Selain di Cening Bagus, di Jembatan Timbang juga bisa—gratis.”
Stigmatisasi masyarakat terhadap TMD
Bagus, Sukma, dan Gede menyebut adanya stigmatisasi terhadap TMD—disebut biang macet. Padahal yang menyebabkan macet adalah kendaraan biasa. “Trans Metro Dewata tuh dibilang biang macet padahal ya kalau kadang kayak di Jalan Sanur tuh ya, sampai Titi Banda gitu macetnya. Kendaraan biasa itu yang numpuk,” sebut Sukma.
Bagus menyahut dengan menjelaskan stigma ini pernah terjadi sewaktu Trans Jakarta diluncurkan. “Perasaan ini deh. Dulu zaman-zaman awal-awal ada TJ kan juga gitu kan omongannya. Orang-orang nya dibilang oh matiin angkot lah. Macam-macam. Istilah-istilah mereka ngomong ini bisa mati nih angkot kalau ada TJ.”
Selain itu, Gede pula menjelaskan ada beberapa perumpamaan yang dibuat oleh masyarakat, seperti halnya “bus hantu” dan “cumi darat”. “Maksudnya dari concern-nya kita soal tanggapan negatif dari para masyarakat lokal sini, contohnya kaya bus ini bus hantu. Dan yang terakhir disebut cumi darat,” kata Gede.
Selain itu pula, Gede bercerita adanya warga yang komplain terhadap TMD. “Waktu itu ada yang nyalah-nyalahin TMD karena keserempet. Kan salah dia itu, ga paham rambu lalu lintas,” sebutnya.
Yang perlu di perbaiki dari TMD
Perbincangan antara Sukma dan Bagus berlanjut membahas mengenai tiang halte merupakan penanda rambu stop yang ditumpuk di suatu titik. “Dulu di Ary’s tuh ada rambu stopnya gitu kan, tapi sekarang udah enggak ada gitu loh, karena kan rambu stopnya ditumpuk sama stiker penanda halte gitu kan?” kata Sukma.
Bagus membalas Sukma. “Iya, penanda haltenya tempelan. Itu aslinya dilarang parkir atau gimana ya?”
Bagus lalu memberi pendapat mengenai penempatan tiang halte yang ideal. “Iya, seharusnya di sana mungkin bisa dikasih penanda halte yang baru. Kalau tidak memungkinkan, mungkin bisa pakai halte yang sudah ada dulu (halte bus Sarbagita) yang tidak terpakai,” kata Bagus.
Ketika mereka bertiga ditanya perihal Trans Metro Dewata ke depannya, mereka serentak setuju mengenai penambahan wayfinding. Wayfinding adalah sistem penunjuk arah, peta rute, dan informasi visual yang dipasang pada area layanan bus atau di dalam bus untuk membantu penumpang bernavigasi dengan mudah. “Sama ini nambahin wayfinding juga. Karena kan sekarang walaupun udah ada wayfinding-nya tapi dia rusak gitu loh. Perlu kasih wayfinding yang paten,” sebut Sukma.
Pendapat Bagus di sini memperlihatkan adanya prioritas yang kurang baik terhadap pembangunan fasilitas TMD. “Ya itu peresmian halte kemarin. Ngapain halte diresmiin? Mending tanda halte itunya dulu diresmiin,” sebutnya.
Bagus di sini menyebut perihal feeder agar TMD lebih terjangkau trayeknya. “Kurang feeder aja. Pantesan orang pada bilang Trans Metro Dewata ini tidak menjangkau banyak orang. Kalau ada feeder kan mirip kaya di Sanur itu sekarang, yang shuttle bus itu,” sebutnya.
Gede menyambung dengan menjelaskan pentingnya feeder untuk warga. “Mudah-mudahan sih kalau di hari itu benar juga ya. Kalau dulu TransJakarta, feeder itu juga ya prioritas sih untuk menjangkau lebih banyak penumpang,” sebutnya.







