• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini

Men Coblong by Men Coblong
22 April 2018
in Berita Utama, Esai
0
0

MEN COBLONG memajukan kursinya. Wajahnya tepat berada di depan sahabatnya yang sejak pagi uring-uringan.

Tidak jelas ke mana arah pembicaraannya. Kelihatan sekali perempuan yang usianya sebaya dengan Men Coblong itu dilumuri bau stres akut. Terasa sekali hawa kesedihan dan luka hati terlacak mengguyur seluruh tubuh sahabat Men Coblong. Di usia yang tidak lagi muda apakah yang sesungguhnya dicari seorang perempuan di dalam rumah perkawinannya?

Perkawinan itu bagi Men Coblong adalah tumpukan tangga-tangga yang harus dilewati oleh pasangan. Setiap tangga memiliki kisah-kisahnya sendiri. Ada urutan tangga yang terasa nyaman untuk dikenang dan ditimbang. Ada urutan tangga yang selalu ingin dijebol dan dirusak karena memiliki kesan dan justru membuat hidup yang rumit jadi bertambah rumit.

Tangga yang mengandung beragam masalah-masalah tidak enak dan “menyakitkan” itu tentu tidak bisa ditinggal, tidak bisa dipotong. Juga tidak bisa dihilangkan. Kalau dihilangkan tentu ornamen rumah jadi terlihat “aneh”.

“Aku sudah membesarkan anak-anak dengan seluruh kemampuan yang kumiliki,” kata sahabat Men Coblong terdengar getir. Sebentar-sebentar perempuan itu menark napas. Matanya yang bulat terlihat cekung dan penuh warna merah.

Men Coblong melirik kaca di sampingnya. Terpantul wajahnya yang terlihat agak berubah. Tubuh dan wajah dalam pantulan kaca di samping kirinya terlihat berbeda. Tubuh di pantulan kaca itu terlihat lebih besar dan tambun.

Men Coblong memonyongkan mulutnya. Di usianya yang setengah abad, dia merasa makin tertimbun lemak. Berat tubuhnya 52 kg, 10 kg lebih berat dari biasanya. Tetapi Men Coblong kok merasa sehat-sehat saja. Di usianya yang setengah abad ini, dia merasa tidak lagi memiliki banyak target di kepalanya. Target-target yang bertumpuk dan selalu menghantui setiap langkahnya menuju tangga-tangga berikutnya.

Sejak muda Men Coblong dikenal teman-temannya sebagai perempuan ambisius.

“Masa muda itu harus dinikmati. Jika kau tua, kau tidak akan bisa melakukan apa pun dengan bebas,” itu kata-kata teman-teman Men Coblong ketika masih berumur 20-an. Bagi mereka hidup itu harus diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Puaskan hidup dengan beragam kesenangan selagi tubuh masih bisa diajak kompromi.

“Benarkah hidupku terasa aneh bagi orang-orang di sekitarku?” gumam Men Coblong dingin pada diri sendiri.

Men Coblong terus memainkan bibirnya. Secangkir cokelat panas belum tersentuh. Men Coblong masih asyik dengan pantulan wajahnya di dinding kaca yang agak gelap. “Ah, aku kok merasa baik-baik saja, aku juga sudah mengisi masa mudanya dengan hal-hal gila.”

Ada arogansi yang berlebihan juga, terutama jika bersama para sahabatnya semasa kuliah dulu. Men Coblong juga merasa hidupnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang direkayasa.

“Ah, kamu itu sewaktu mahasiswa sok angkuh. Kamu itu lebih terlihat rileks justru setelah usia saat ini. Kulihat tubuhmu juga lebih berisi. Sorot matamu juga lebih ramah dan bersahabat,” kata teman yang lain.

Sorot mata bersahabat?

“Iya, dulu matamu penuh perhitungan,” jawab sahabat yang lain.

Mata penuh perhitungan? Ada-ada saja istilah para perempuan menilai perempuan-perempuan lain.

“Jangan menganggap negatif para perempuan? Tanpa perempuan dunia ini ambruk. Siapa yang akan mengurus anak? Siapa yang memasak? Siapa yang bisa membuat rumah bersih dan nyaman? Siapa yang mengatur kebun? Mengantar jemput anak? Memilihkan mereka sekolah itu juga bagian dari tanggungjawab kita. Makanya jadi perempuan itu hebat,” suatu hari Men Coblong mendengar seorang teman berkata sedikit ketus dengannya ketika Men Coblong berada di ruang tunggu menunggu anak semata wayangnya keluar dari kelas.

“Lelaki itu bisanya apa, sih?” jawab ibu teman anak Men Coblong itu getir.

Men Coblong menarik napas. Perempuan-perempuan atau ibu-ibu yang berderet menjemput anaknya di sebuah sekolah di bilangan jalan Hayam Wuruk itu terus berkata-kata dan yang satu memperkuat yang lain. Bahwa tanpa seorang perempuan di Bumi ini, mungkin matahari tidak akan pernah terbit dari Timur.

Sebagai perempuan pada saat itu Men Coblong memang merasa bahwa perkawinannya dibanding para ibu-ibu itu baru saja beranjak hitungan satu tangan. Belum memahami beragam “cuaca” buruk dan “cuaca” baik. Juga belum paham “arah angin”. Men Coblong baru menikmati saat-sat memiliki seorang anak yang terasa ganjil dan aneh. Seorang manusia yang selalu memerintah dirinya. Terasa lucu peran “jadi ibu” itu jika dihayati.

Sekarang di usia setengah abad, Men Coblong harus berhadapan kembali dengan seorang temannya, perempuan 60 tahun yang merasa “dibuang” oleh lima anak perempuannya. Lima anak perempuan yang telah dibesarkannya dengan susah payah. Perempuan itu menanggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar demi membesarkan lima anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat dasar dan memilih bekerja di rumah dengan membuat usaha kuliner. Syukurnya usahanya maju, lima anak perempuannya bisa sekolah di luar Bali di universitas-universitas ternama di dalam negeri.

Kemana lelakinya? Menikah lagi karena teman Men Coblong itu tidak memiliki anak lelaki. Menyedihkan juga, sih. Dan saat ini Men Coblong berhadapan dengan perempuan “hebat” itu, wajahnya kuyu dan terlihat tidak bahagia. Dia merasa ditinggalkan oleh lima anak perempuannya yang memilih hidup terpisah satu sama lain.

Men Coblong terdiam. Tidak menemukan solusi. Menjadi perempuan saat ini adalah sebuah pilihan yang cukup rumit juga. Hanya perempuan yang bisa mengurai kerumitan itu, bukan orang lain, tidak juga “kekasih”.

Masalahnya, kok di tengah kerumitan-kerumitan menjadi ibu dan beragam masalah perempuan lainnya. Masih ada saja perempuan yang “tega” mengambil kebahagiaan perempuan lainnya. Perempuan tega melukai hati perempuan. Kok masih ada saja yang mau jadi istri kesekian. Di mana sesungguhnya arti perjuangan Kartini bagi mereka? [b]

Tags: esaiKartiniMen CoblongOpiniPerempuan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Men Coblong

Men Coblong

Men Coblong — Mantan buruh pers koran lokal. Ibu seorang anak lelaki.

Related Posts

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Herbalova, Pendokumentasian Tanaman Obat dari Imaji Anak-anak

Mengapa Laki-Laki Lebih Mudah Menangis karena Sepakbola daripada Cinta?

4 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Next Post
‘Sadisme’ Juli Sastrawan dalam Lelaki Kantong Sperma

'Sadisme' Juli Sastrawan dalam Lelaki Kantong Sperma

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia