Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas


Melalui laku kreatif, mereka melintasi batas di antara para perempuan.

Empat perempuan pekerja seni berdomisili di Bali ikut serta dalam acara Peretas Berkumpul Pakaroso 01!. Mereka menjadi bagian dari 50 perempuan dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Institut Mosintuwu, Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 21 – 25 Maret 2019.

Pakaroso adalah ajakan untuk saling menguatkan dalam Bahasa Pamona. Dalam acara itu Perempuan Lintas Batas (Peretas) mengajak para perempuan menengok narasi-narasi yang telah dilahirkan dari pengalaman perempuan. Mereka juga menentukan strategi kerja seni budaya dalam jaringan perempuan lintas batas yang saling menguatkan kerja perempuan secara kolektif.

Acara yang dilaksanakan di sekolah perempuan penyintas konflik Poso ini diinisiasi oleh organisasi Peretas. Tujuannya sebagai upaya mengembangkan, membuka adanya diskursus, ruang berbagi dan menemukan potensi kolaborasi antara para pelaku kreatif. Penulis, aktor, perupa, penari, pemusik, penyanyi, perupa, peramu masakan, cendekia, kurator, kritikus atau pelaku kreatif lain yang bersifat memperkaya dan memajukan ekspresi kebudayaan perempuan.

Empat perempuan pekerja seni dari Bali yang lolos seleksi sebagai peserta Pakaroso 01! adalah Citra, Novi, Tria dan Lilu. Kami akan berbagi pengalaman Peretas di Littletalks, Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.00 WITA. Presentasi dan diskusi akan dipandu oleh Ruth Onduko dari Futuwonder.

Citra adalah perupa asal Indonesia. Namanya mulai dikenal dalam seni rupa Indonesia melalui karya-karyanya yang tidak hanya berupa lukisan, seni instalasi dan performance art dan telah dipamerkan di dalam dan di luar negeri.

Citra merupakan salah satu penerima penghargaan Gold Award Winner dalam kompetisi seni lukis UOB Painting of The Year 2017 kategori seniman profesional. Karya-karya Citra banyak mewakili isu-isu perempuan terutama mengenai identitas kultural, posisi perempuan dalam kultur patriarki dan realitas sosial dan budaya.

Novieta Tourisia adalah seniman serat, wastra dan pewarnaan alami. Novieta mendirikan Cinta Bumi Artisans, studio kriya yang proaktif menciptakan karya seni yang dapat dikenakan (wearable art) dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi berkelanjutan.

Karya-karya kolaboratifnya dihasilkan bersama pengrajin di Lembah Bada, Poso. Mereka mengangkat ranta atau kain kulit kayu. Bukan hanya dibuat sebatas menjadi aksesoris biasa, tapi juga menyuarakan kembali peran-peran perempuan adat dan kekuatan kosmologinya di masa pra-kolonial dan agama-agama baru masuk.

Beberapa karyanya telah dipamerkan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Meet the Makers Indonesia, Beaten Bark of Asia Pasific, dan And the Beat Goes On di Weltkulturen Museum Jerman.

Trianingsih seniman multidisiplin yang juga menjadi founder Slab Indonesia, organisasi yang berfokus pada seni, sains dan teknologi. Beberapa karyanya telah dipamerkan di Uma Seminyak, Outpost Canggu, dan Rumah Sanur.

Tria terlibat dalam kegiatan pendidikan alternatif seperti lokakarya, pameran dan talkshow. Selain pernah menjadi produser di Solo Radio dan Hardrock FM Bali, ia juga menjadi penulis lepas untuk Kelola Foundation. Tulisannya dapat dibaca di buku We Indonesians Rule dan Festival Fiksi Kompasiana. Tria tertarik dengan kerja kolektif perempuan dan kerjasama kreatif berbagai latar belakang akademisi dan seni.

Lilu merupakan seniman mural yang menyuarakan kepeduliannya terhadap anjing-anjing terlantar. Lilu juga menjadi penyelamat tunggal (solo rescuer) di Bali. Lilu tanpa pamrih menolong anjing-anjing terlantar, memberi makan, merawat dan memastikan bahwa anjing-anjing yang ia tolong mendapatkan kehidupan lebih baik. Lilu pernah berpartisipasi di pameran Micro Galleries, Trashstock, Mural Pasca Panen 2 dan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. [b]