• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 1, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Melihat Gunung Batur Meletus Lagi

Anton Muhajir by Anton Muhajir
23 January 2010
in Kabar Baru, Travel
0
4

Museum Gunung Api Batur Kintamani

Gunung Batur menyala di puncaknya.

Warnanya merah api seperti terbakar. Tapi gunung itu gedenya sampai menutupi pulau Bali. Kalau beneran Gunung Batur meletus, tentu seluruh Bali akan tersiram abunya. Tapi untungnya ini bukan letusan beneran.

Ini hanya simulasi di salah satu panel Museum Gunung Berapi Kintamani, kadang disebut juga Museum Vulkanologi Kintamani. Museum ini satu kawasan dengan wisata Penelokan, Kintamani di mana pengunjung bisa menikmati anggunnya gunung dan ademnya danau. Kami berkunjung ke museum ini sambil berlibur akhir tahun di Kintamani.

Dari Denpasar perlu waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil atau sepeda motor. Jalan yang ditempuh bisa dari Denpasar – Gianyar – Bangli – Kintamani ataupun Denpasar – Ubud – Tampaksiring – Kintamani. Waktu tempuhnya tak jauh beda. Cuma kalau lewat kota Bangli jalan raya relatif lebih lurus sedangkan lewat Ubud lebih berkelok-kelok.

Panel yang menunjukkan Gunung Batur meletus merupakan salah satu bagian menarik di Museum Gunung Berapi Kintamani. Panel ini berada di lantai satu museum tiga lantai tersebut. Lantai satu memang khusus untuk panel-panel informasi terkait dengan gunung berapi di dunia maupun Indonesia selain juga untuk loket pembayaran bagi pengunjung. Tiap pengunjung membayar Rp 5000 untuk menjelajah museum seluas 5000 meter persegi ini.

Salah satu panel menyampaikan informasi tentang aneka gunung berapi di dunia. Panel yang ditempel di dinding ini lebarnya sekitar 3×2 meter persegi. Ada peta dunia dalam bentuk tiga dimensi di panel tersebut. Di depan peta tiga dimensi itu ada panel lain berukuran lebih kecil. Di panel kecil ini ada daftar nama-nama gunung berapi di dunia. Nah, kalau kita pencet nama tersebut, maka panel besar di dinding akan menyala menunjukkan di bagian mana gunung berapi tersebut.

Panel lain memperlihatkan daftar gunung berapi di Indonesia. Bentuk dan sistem operasinya sama persis dengan panel pertama. Cuma kali ini hanya daftar gunung berapi di Indonesia. Selain panel-panel itu tadi, pengunjung juga bisa melakukan simulasi komputer di lantai satu ini tentang bagaimana proses meletusnya gunung berapi. Ada pula foto-foto wajah gunung berapi di Indonesia.

Masih di lantai satu, bagian lain yang sebenarnya menarik adalah maket tiga dimensi tentang proses meletusnya Gunung Batur. Maket ini mirip peta tiga dimensi yang biasa ada di kantor atau lembaga.

Menurut pemandu yang menemani kami berkeliling museum, peta tiga dimensi ini biasanya bisa digunakan seperti simulasi. Jadi kalau dipencet beneran, Gunung Batur kecil itu akan mengeluarkan abu. Sayangnya, hari itu kami tidak bisa melakukan simulasi tersebut karena listrik mati. Hiks..

Secara umum, lantai satu memang berisi informasi tentang gunung berapi di dunia maupun di Indonesia. Lalu ada pula papan-papan informasi tentang meletusnya Gunung Batur. Salah satu papan menunjukkan bahwa Gunung Batur pernah meletus hingga 26 kali dalam kurun waktu tahun 1804 hingga 2000.

Menurut papan informasi tersebut, letusan paling lama terjadi pada 1963. Letusan tersebut dimulai pada 5 September 1963 hingga 10 Mei 1964 dengan lelehan lava dari puncak ke bawah. Artinya, selama sembilan bulan Gunung Batur mimisan lava. 🙂

Salah satu informasi menarik yang saya kemudian baru sadar adalah tentang posisi Kintamani saat ini. Awalnya saya pikir Gunung Batur itu dari awal ya seperti saat ini. Puncaknya ada di sisi barat dengan danau di sisi timur. Ternyata tidak. Gunung Batur, dengan tinggi sekitar 3000 meter itu, hanya bagian kecil dari gunung yang jauuuh lebih besar.

Jadi begini. Misalnya Gunung Batur yang kita lihat saat ini itu punya kaldera di tengah. Terus di tengah kaldera itu ada puncak kecil. Nah, Gunung Batur yang sudah buesar itu sendiri ternyata juga puncak di kaldera raksasa di mana terdapat Gunung dan Danau Batur di dalamnya. Titik di Penelokan, di mana turis biasa menikmati gunung dan danau, itu adalah puncak dari gunung raksasa tersebut. Jadi Gunung Batur adalah puncak kecil di tengah kaldera raksasa tersebut.

Di lantai satu juga terdapat papan informasi bagaimana pemantauan gunung berapi dilakukan serta bagaimana cara menyelamatkan diri ketika gunung api meletus.

Di bagian lain lantai satu terdapat benda-benda tiga dimensi terkait gunung berapi. Misalnya alat pemantauan seperti teropong. Lalu ada pula jenis-jenis batu yang dikeluarkan gunung berapi ketika meletus atau yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah batu belerang berwarna kuning setinggi sekitar 50 cm. Benda-benda ini berada dekat tangga menuju lantai dua.

Berbeda dengan lantai satu yang menampilkan informasi, lantai dua merupakan tempat untuk banyak ruangan. Misalnya ruang pertemuan dengan kapasitas 20 orang. Menurut petugas, ruang pertemuan alias meeting room ini disewakan untuk umum. Bagus juga sih sekali-kali bikin pertemuan di ruang adem ini.

Di lantai dua juga terdapat aula besar yang biasa dipakai untuk menonton film tentang gunung berapi. Ruangan ini bisa memuat sekitar 100 orang dengan kursi dan layar layaknya gedung bioskop. Film ini diputar berdasarkan permintaan dan jumlah pengunjung yang mau menonton.

Karena lebih banyak berupa ruangan kerja ini pula, maka lantai dua tidak terlalu menarik. Untungnya ada ruang pemantauan kondisi Gunung dan Danau Batur di lantai dua ini. Namun, pengunjung harus mendaki tangga lagi menuju ruang pemantauan yang posisinya ada di pojok timur laut ini.

Teropong Museum Gunung Api Kintamani

Ada tiga teropong yang bisa dipakai pengunjung ini. Tiga teropong ini sehari-hari digunakan petugas untuk memantau gunung dan danau. Saya mencoba ketiga teropong tersebut. Tidak terlalu jelas sih apa yang saya lihat di sana. Cuma memang apa yang saya lihat di sana jauh lebih besar. Kali karena saya memang bukan ahli soal intip mengintip ini. 🙂

Teropong pemantauan ini menjadi bagian terakhir kami selama menikmati Museum Gunung Berapi. Beda aja sih rasanya bisa melihat gunung dan danau menggunakan teropong tersebut. Apalagi teropong pemantauan ini memang tak selalu terbuka untuk umum.

Usai meneropong, kami beranjak turun. Setelah melihat dari jauh, saatnya kami menikmati danau itu langsung di tempatnya..[b]

Tags: BangliKintamaniPariwisataTraveling
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Emas Hitam Kintamani: Anak Muda dan Masa Depan Pertanian

Emas Hitam Kintamani: Anak Muda dan Masa Depan Pertanian

10 June 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
3M, Terobosan Perangi Sampah Plastik Mengani

3M, Terobosan Perangi Sampah Plastik Mengani

9 April 2021
Petani Muda Mengani tetap Bergairah di Tengah Pandemi

Petani Muda Mengani tetap Bergairah di Tengah Pandemi

7 April 2021
Beginilah Uniknya Nyepi di Desa Kedisan

Beginilah Uniknya Nyepi di Desa Kedisan

16 March 2021
Next Post
Waspada, Anjing Rabies di Tabanan

Indonesia Perlu Lembaga Pengendali Penyakit

Comments 4

  1. Cahya says:
    16 years ago

    Boleh-lah kapan-kapan bertamsya ke sana 🙂

    Reply
  2. uny says:
    16 years ago

    kira kira nyampe gak sih, asapnya di kota palu??????????

    Reply
  3. nadiah rifa says:
    14 years ago

    yu Qt kesana klo nyampe 🙂

    Reply
  4. mirah anjani says:
    13 years ago

    aku asli bali kampung qhu juga di sna wktu itu aku ksna tba” gunung nya meletus yg ke 15 kali nya

    Reply

Leave a Reply to nadiah rifa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

30 April 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia