• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru Kabar

Angkringan Cangkir, Angkringan dengan Citarasa Kafe

Angga Wijaya by Angga Wijaya
20 March 2018
in Kabar, Kuliner
0
1
Suasana Angkringan Cangkir di malam hari. Foto Reda Subagio.

Sehari setelah Nyepi warung makan di Denpasar masih banyak yang tutup.

Sore menjelang, rasa lapar memaksa saya untuk keluar mencari makan. Saya berkeliling seputar kota mencari tempat makan yang buka, menyusuri jalanan yang masih agak lengang karena banyak warga kota yang merayakan Nyepi di kampung halaman dan ada yang pulang mudik ke luar Bali.

Saat menyusuri Jalan Gatot Subroto saya melihat sebuah tempat makan yang menarik perhatian, Angkringan Cangkir namanya.

Di Denpasar, angkringan, tempat makan khas Yogyakarta banyak ditemui di Jalan Teuku Umar. Angkringan Cangkir ini berbeda dengan angkringan lain. Jika biasanya identik dengan gerobak atau pikulan, angkringan ini lebih modern dengan konsep kafe, yang membuat pengunjungnya betah berlama-lama untuk makan dan ngobrol, atau hanya sekadar minum.

Saya bertemu dengan Aditya Pradipta Suardi, pemilik Angkringan Cangkir. Ia mengatakan, angkringannya berdiri sejak 4,5 tahun lalu. Awalnya menempati tempat yang tak begitu luas, namun kini diperluas sehingga bisa menampung banyak pengunjung.

“Ide awalnya ingin membuat angkringan modern dengan konsep kafe dengan menu yang beragam namun murah,” ujarnya

Suardi menambahkan, menu andalan di angkringan yang terletak di Jalan Gatot Subroto Tengah No. 88 Denpasar ini adalah mie bakar, yang tak ada di angkringan lain. Mie bakar “ditemukan” secara tak sengaja, berawal dari seorang teman yang membuat mie instan dicampur sambal khas Karangasem.

“Mie bakar mendapat atensi yang bagus dari pelanggan. Rasa pedasnya diukur dari level atau takaran, tergantung permintaan,” ujar pengusaha muda asal Denpasar ini.

Selain itu, ada paket spesial yang ditawarkan Angkringan Cangkir, yakni “Pamur” atau paket murah. Dengan hanya membayar Rp 17.000 pengunjung bisa mendapatkan paket makanan yang terdiri dari nasi bakar, ayam, satur, lengkap dengan es teh. “Pamur berlaku dari jam 8 pagi sampai 6 sore, diluar itu dikenakan harga biasa,” ujar lelaki kelahiran 1988 ini sembari menambahkan pengunjung Angkringan Cangkir ramai terutama pada akhir pekan.

Tak terasa malam tiba, saya yang sejak sore berada di angkringan yang suasananya seperti kafe ini merasa betah berlama-lama, makan dan menikmati kopi hitam yang enak sembari membaca buku. Angkringan Cangkir menjadi tambahan tempat makan yang wajib saya kunjungi.

Bagi pembaca yang merindukan suasana hangat dengan menu beragam dan harga terjangkau silakan mengunjungi angkringan ini. [b]

Keterangan: Suasana angkringan Cangkir di malam hari. Foto Reda Subagio

Tags: DenpasarKuliner
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Angga Wijaya

Angga Wijaya

Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Menyukai dunia literasi sejak SMA. Pernah kuliah Prodi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Nyepi di Bali: Antara Banyaknya Sampah vs Penurunan Polusi

Nyepi di Bali: Antara Banyaknya Sampah vs Penurunan Polusi

Comments 1

  1. El Siregar says:
    8 years ago

    Angkringan malam hari.
    Kopi hitam dan gorengan.
    Obrolan, inspirasi dan vision.
    Aku selalu ingin kembali.

    Ngopi dalam sejuk angin malam.
    Trio Bimbo lewat cd berlagu “Melati dari Jayagiri”.
    Aku terkenang nongkrong di angkringan.
    Aku selalu ingin kembali.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia