Anak Saya Autis. Tapi, Dia Anugerah.

“Anak ibu ini diagnosisnya ASD.. Ini saya resepkan obat. Perlu terapi juga sebenarnya! Silakan ke alamat ini.”

Jederrrrr! Bagai disambar geledek, pernyataan psikolog itu mendorong saya masuk labirin masa lalu.

Sebuah label yang sudah saya rambah arti dan permasalahannya 6-7 tahun lalu. Ketika itu, saya mengajak salah satu siswa di kelas tempat saya mengajar ke seorang psikiater senior. Kami mengikuti pelatihan penggunaan salah satu metode yang kemudian sangat mahfum untuk saya mengerti. Kami ke Surabaya untuk berkunjung ke sebuah tempat terapi autis.

Dan, kini label itu diberikan pada anak saya. Setelah observasi, 1 menit kemudian berlanjut dengan tanya jawab dengan diriku saja berdasarkan sebuah kuesioner yang kemudian akrab di telinga saya, DSM IV. Menurut psikolog serta psikiater yang pernah saya temui tersebut, sebuah diagnosis gangguan autistik dapat dibuat ketika individu menampilkan 6 atau lebih dari 12 gejala yang tercantum dalam tiga bidang utama: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Anak saya, Arsa tentu saja telah menampilkan lebih dari 6 gejala sehingga mendapat label ASDs.

Mirip
Autism Spectrum Disorder (ASDs) adalah gangguan spektrum autisme, gangguan “cacat” perkembangan yang dapat berpengaruh secara sosial, komunikasi dan tantangan perilaku. Orang dengan ASDs menangani informasi di otak mereka berbeda dengan orang lain. ASDs adalah “gangguan spektrum.”

Itu berarti ASDs memengaruhi setiap orang dengan cara berbeda, dari sangat ringan sampai parah. Namun, orang dengan ASDs memiliki beberapa gejala mirip. Misalnya, bermasalah dengan interaksi sosial. Tetapi, ada perbedaan saat gejala mulai, bagaimana kadar ASDs mereka, dan perilaku yang ditunjukkan. Sehingga sekilas seperti mirip, tapi kok beda yah….

Walaupun telah membaca berulang kali, saya belum paham juga apa yang sebenarnya terjadi pada Arsa. Memang dia nggak bisa diam, belum fasih bicara. Memang dia sangat lekat sehingga sulit ditinggal kemana-mana. Namun, Arsa lucu, menyenangkan dan selalu antusias eksplorasi sana sini karena rasa ingin tahunya yang besar.

Lalu, mengapa disebut ASDs?

Mulailah kami juga konsultasi di bagian anak salah satu rumah sakit besar di Denpasar, Bali. Belum apa-apa, situasi konsultasi sangat tidak kondusif. Saya berkonsultasi bersama orang tua lain. Dalam satu ruangan sama di mana aku duduk berderet menghadapi meja dengan para penanya. Satu sama lain dari kami harus berlomba menaikkan frekuensi suara agar terdengar penanya masing-masing.

Hasilnya, tetap ASD bahkan ditambah autis dan hiperaktif. Ada saran tambahan, lanjutkan konsultasi ke spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Setelah dokter THT melihat kondisi telinga dan tenggorokan anak saya, ternyata tidak ada masalah dengan pendengaran  dan organ mulut sama sekali.

Pertanyaan tentang ASDs baru terjawab saat saya dan suami berdiskusi dengan para terapis di pusat terapi yang disarankan sang psikolog. Ada berbagai hal mencuat seperti masalah kepatuhan dan pembelajaran akademis lainnya. Beberapa metode terapi pun diusulkan, mulai Applied Behaviour Analysis (ABA) yang mendorong perilaku positif, Floortime yang berfokus pada perkembangan emosional dan relasional dengan cara bermain, maupun diet dan pemberian suplemen.

Mulailah hari-hari penuh asa dibentuk. Dengan setia kami menunggui sesi terapi one on one seminggu 2 x 1 jam. Diawali dengan tangisan dan teriakan anak kami karena tiba-tiba dipaksa dalam satu ruangan tertutup tanpa kehadiran kami, jeritan karena “dipaksa” mengepel ompolnya di kelas, tarik-tarikan untuk masuk ke kelas saat dia tidak mau terapi lagi….

Dan, semua itu harus kami tahan dengan hati perih…

Belum lagi uji coba diet dan suplemen yang sontak ‘menguruskan’ anak saya. Susu sapi yang diganti soya. Makanan berterigu dan bergula diganti Casein Free Gluten Free (CFGF) yang rasanya bagi kami saja agak-agak ajaib. Suplemen yang bisa membuat anak saya cekikikan sendiri, sampai tiba-tiba berdatangan orang-orang tak dikenal yang mau berteman alih-alih menawarkan suplemen untuk anak autis.

Namun optimisme terus saya tumbuhkan. Suplemen tak saya perdulikan tanpa saya tahu jaminan keamanan penggunaannya. Kami pun mulai menjajaki second opinon dan third  opinion. Mulailah aku merambah dunia maya, bergabung dengan milis orang tua yang juga memiliki anak seperti Arsa. Di sana saya merasa tiba-tiba bertemu teman dari pihak yang sama, orang tua. Kalaupun ada yang ahli dan mendalami, mereka belajar karena dan untuk anak mereka.

Abu-abu
Dari milis, saya menemukan psikolog di Jakarta, mbak Kassandra yang suka muncul di TV. Ternyata anak beliau juga mengalami permasalahan sama. Saat berkonsultasi, ia hanya bilang anak saya ini serupa benar dengan anaknya saat kecil dulu. Dia menyatakan perlunya shadow teacher alias guru pendamping, bila nanti di sekolah umum.

Mbak Kassandra menyarankan kami terus terapi dibantu berbagai stimulus lain. Ketika saya singgung DSM IV, beliau bilang dengan penanganan dan stimulus tepat, ciri-ciri keautisan anak saya akan berkurang seiring perkembangan usianya.

Ternyata hal itu sama dengan pendapat Dyah Puspita. Dia ibu rumah tangga biasa yang karena Ikhsan putranya, kemudian mendalami autis dan segala permasalahannya. Bahkan, dia mendirikan sekolah autis Mandiga di Jakarta.

Kami sering berdiskusi. Salah satu kesimpulannya, Arsa perlu terapi lebih intensif. Selain itu, keautisannya hanya putih abu-abu kalau digambarkan dalam spektrum warna. Jadi tak terlalu kentara pada awal orang melihat meski tetap ada ciri keautisannya.

Berlembar-lembar hasil evaluasi pun dikirimkan untuk kami pelajari, pahami dan jalankan. Memang tidak mudah. Yang langsung berubah adalah jadwal terapi yang sedianya 2x seminggu, kini menjadi 3x seminggu. Memang dari sisi biaya, jelas ada penambahan; namun di sisi lain perkembangan Arsa semakin baik.

Bertambahnya usia, Arsa perlu untuk sekolah. Tapi pendidikan seperti apa yang tepat selain terapi?

Kami telah mencoba beberapa sekolah. Kami mendapat beberapa pelajaran dalam pendidikan dasar anak ASD.

Pertama, jumlah siswa sedikit tidak menjamin perhatian yang cukup.

Ketika memutuskan untuk masuk TK A (catatan: anak saya tidak mengalami masa-masa di playgroup karena ketika dicoba yang ada hanya tangisan dan jeritan saja); kami memilih sekolah dengan jumlah siswa sedikit. Pertimbangannya, mungkin Arsa akan diperhatikan dan dibantu dalam masalah akademisnya.

Namun, hasilnya, karena selesai ketrampilan lebih dahulu, ia menggunting celananya hingga tak berbentuk celana. Dia juga beberapa kali ia ditemukan telah menelan penghapus. Dia pun tidak diikutsertakan acara outing sekolah dengan berbagai alasan (takut tantrum atau belum bisa ‘behave’ di tempat umum).

Hasil lainnya, kalau dianggap tidak memahami materi, Arsa dibiarkan bersama puzzle-puzzle yang jelas disukainya. Di sisi lain pemberian saran kepada sekolah, hanya menghasilkan feed back yang makin membuat luka hati kami. Tak ada maksud baik untuk menerima masukan sama sekali.

Maka, keputusan kami Arsa harus mencari sekolah yang lebih baik. Sekolah ternyata belum pro aktif dalam membantu kebutuhan Arsa; sehingga kemampuan Arsa tidak lebih baik dari sebelum dia bersekolah. Apa yang sudah mampu dilakukan Arsa di tempat terapinya 3x seminggu menjadi ‘mentah’ saat Arsa di sekolah.

Drama
Pelajaran kedua, sekolah dengan banyak kegiatan di luar, lingkungan yang sehat dan guru yang sehari-hari kolega orang tua, ternyata juga bukan jawaban yang baik.

Setelah mengevaluasi TK A pertama, kami berkesimpulan; pendekatan dan kedekatan dengan guru sangat perlu untuk menangani anak seperti Arsa. Kebetulan saya dan papinya Arsa guru di sebuah sekolah dengan metode pendidikan berbeda. Kami berdua mengajukan diri bagaimana kalau Arsa bersekolah di tempat kami bekerja. Sekolah menerima dengan syarat perlu ada shadow teacher atau guru pendamping. Kami pun berusaha mencarinya. Kami juga melengkapi dengan segala informasi yang diperlukan untuk bisa memahami Arsa.

Semester satu berjalan dengan baik. Arsa anak yang disukai, bahkan oleh kakak-kakak kelas. Di akhir semester perkembangan Arsa luar biasa, ia bisa tampil dalam drama sekolah walau hanya memegang sign Peduli Lingkungan. Namun, sayangnya, panjangnya waktu sekolah menyebabkan Arsa perlu menghentikan terapi. Kemudian kami sadar itu adalah keputusan yang sangat salah dan memicu timbulnya masalah di semester 2.

Hasilnya, usai libur, tiba-tiba Arsa tantrum bahkan mogok tidak mau ke sekolah hampir tiap hari tanpa alasan jelas. Namun akhirnya kami baru mengetahui penyebabnya. Sekolah yang selama ini memberi keleluasaan Arsa untuk eksplorasi dan menyesuaikan diri pada semester 1 mengganti ekspektasi. Secara tiba-tiba mereka “memaksa” Arsa untuk seperti anak lain. Dan Arsa tidak suka karenanya.

Hasil lain, shadow teacher yang mendampingi Arsa ternyata menjadi ‘bemper’ kalau Arsa tantrum. Bukan dijadikan motivator atau pendamping Arsa belajar. Sehingga Arsa semakin hari semakin benci padanya.

Puncaknya, ada insiden yang kisah aslinya baru saya tahu jauh hari kemudian setelah Arsa tidak lagi bersekolah di sekolah ini. Kelekatan dengan salah seorang guru yang telah saya singgung di atas, memicu sebuah insiden yang menstimulus Arsa sampai menggigit lengan temannya. Orang tua anak tersebut tidak bisa menerima dan meminta sekolah menyelesaikan dengan baik alias… Arsa harus pindah sekolah.

Ketika bersekolah di sekolah kedua, kami juga mengalami konflik kepentingan antara guru-guru Arsa yang jelas kolega kami dalam bekerja. Posisi kami yang juga sebagai orang tua siswa akhirnya berbuah pada pertemuan-pertemuan, evaluasi-evaluasi, observasi yang sangat tidak memberikan solusi apresiatif untuk anak seperti Arsa.

Maka, keputusan kami, kejadian itu menyadarkan, saya harus berhenti dari pekerjaan yang menyita waktu bersama Arsa selama ini. Memang ini sebuah keputusan besar. Tak hanya bagi saya dan keluarga, seperti pendapatan yang langsung berkurang drastis serta karir yang tiba-tiba berhenti, namun juga bagi sekolah.

Saat itu tengah tahun ajaran. Saya sedang terlibat proyek akhir tahun ajaran. Tapi, kebutuhan Arsa tidak bisa menunggu waktu lagi.

Dengan mengurangi sedikit demi sedikit waktu mengajar di sekolah, akhirnya sebelum tahun ajaran baru dimulai saya benar-benar mengundurkan diri dari karir yang saya bangun selama 10 tahun.

Arsa yang tantrum, perasaan yang hancur, Arsa yang tahu-tahunya agresif, bekas gigitan-gigitan ungkapan kekesalan dia di berbagai bagian tubuh saya, suami saya, ibu saya, bahkan termasuk pembantu kami. Kondisi rumah dan perasaan kami benar-benar berantakan.

Saya sempat menangis sejadi-jadinya ke suami. Membicarakan solusi seperti apa yang harus diambil. Suami saya justru lebih memikirkan kondisi psikologis saya. “Selama hati saya tak karuan, tak ada jalan yang baik untuk Arsa,” katanya.

Saat itu saya baru menyadari sungguh besar cinta suami kepada saya. Dan, mungkin itu beda laki-laki dan perempuan. Di saat hati saya sudah hancur lebur memikirkan masa depan Arsa, suami masih memikirkan saya di saat ia juga harus berpikir keras mengenai pendidikan Arsa.

Kejadian ini yang saya syukuri kemudian. Karena terus terang, tanpa adanya pemahaman dan kerjasama ayah dan ibu, menangani anak ASD seperti Arsa akan mengalami hambatan yang tak kecil. Bersyukurlah saya memiliki suami yang bisa menerima kondisi Arsa sebagaimana adanya. Dia mau mendukung saya untuk tak patah arang.

Mulailah kami mengerahkan segala daya dan jaringan untuk mencari info, dukungan dan tentu saja jawaban atas pendidikan Arsa.

Journey to the truth
Perjalanan baru pun saya mulai. Sisa gaji saya manfaatkan untuk mencari info sebanyak-banyaknya apa yang bisa saya lakukan. Saya ke Yayasan Suryakanti, Bandung. Di sini Arsa menjalani deteksi tumbuh kembang, konsultasi psikologi maupun sesi terapi beberapa kali.

Kesimpulannya, Arsa perlu menjalani terapi seperti bermain dalam Sensori Integrasi, terapi untuk membantu seseorang mengembangkan kemampuan sensori seperti penglihatan, bunyi-bunyian atau suara maupun bau-bauan. Sebagian besar anak ASD punya sensitivitas sendiri dalam hal-hal semacam itu.

Arsa juga perlu semacam speech therapy yang bisa dijalani sendiri dengan sering bernyanyi dan berbicara dengan nada-nada tertentu.

Reaksi kami terhadap analisis tersebut adalah dengan membelikan ayunan di rumah. Sebab, katanya, dengan mengayun, Arsa melatih keseimbangan dan tersalurkan sensitivitas tubuhnya. Kami juga mengikutkan Arsa kursus renang untuk membantu konsentrasi dan kesadaran akan tubuhnya, sering melakukan permainan role play dan berbagai aktivitas, seperti membuat kursi yang diatur memanjang, turun naik, berbelok, dan lain-lain di dalam rumah yang kami rancang sendiri. Kami mengajak Arsa berjalan keliling kompleks (yang akan memaksa Arsa melakukan aktivitas fisik) sementara Arsa tak sekolah.

Kami pun mau mengikutkannya pada lembaga nonformal seperti kursus. Kedatangan kami ke dua buah tempat kursus ternama di Denpasar justru menyadarkan kami bahwa semua takut berhadapan dengan anak autis. Di tempat pertama, sebuah kursus lukis, kami dijanjikan untuk dikonfirmasi lewat telepon. Namun, telepon tak kunjung datang. Saat kami berinisiatif menelpon, tahu-tahunya dibilang bahwa semua kelas sudah penuh.

Belum lagi di sebuah lembaga kursus matematika. Sang pemilik malah berbisik pada saya saat kami pamit pulang, “Maaf, Bu. Apakah anaknya pernah diperiksakan ke dokter? Saya merasa anak ibu terbelakang..” Hati kami sudah hancur untuk bersikap emosi pada pihak lain. Marah pun tak akan menghasilkan apa-apa.

Arsa memang senang dengan berbagai aktivitas baru yang saya perkenalkan. Hal baru, have fun, tidak ada marah-marah. Tapi, bagi saya dan suami, ini belumlah sebuah solusi. Akhirnya dengan bantuan milis seperti yang telah kuceritakan di atas, pergilah kami ke Yogyakarta untuk bertemu Pak Fred, orang Belanda yang sudah lama menetap di Indonesia. Dia pendiri sekolah autis Fredofios.

Dari hasil analisis, Pak Fred menyimpulkan Arsa mampu belajar di sekolah umum namun perlu didampingi dan difasilitasi dengan baik. Arsa juga tidak termasuk anak ASD yang berkemampuan rendah atau tidak mengerti apa-apa.

Kesimpulan tersebut mendorong kami untuk mulai “berburu” sekolah di Yogyakarta. Kami mengunjungi sebuah sekolah alternatif, Sekolah Alam di daerah Sleman. Waktu itu 75 persen hati kami sudah berpikir, mungkin dengan sekolah yang tidak menitikberatkan pada sisi akademis akan sangat membantu Arsa eksplorasi kemampuannya. Diskusi kami dengan ibu Wahya, pemilik dan juga kepala sekolah, sangat membumi dan sungguh menyejukkan hati; apalagi dengan kesamaan profesi yaitu pendidik.

Kami juga menyempatkan diri ke sebuah sekolah umum yang memiliki unit untuk anak berkebutuhan khusus. Sekolah yang didirikan politikus Amien Rais ini cukup mencengangkan dengan kepeduliannya. Di tiap-tiap kelas, ada seorang anak berkebutuhan khusus dengan guru, kurikulum dan metode khusus pula. Jadi dengan tema yang sama, anak berkebutuhan khusus tersebut belajar dengan cara dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya.

“Sekolah ini adalah surga,” pikir saya. Apalagi saat diberitahu ada satu tempat kosong di kelas 1 yang masih tersisa. Bila kami berminat, Arsa perlu menjalani tes dulu yang katanya sedikit formalitas saja, untuk tahu kemampuannya seperti apa.

Kondisi ini cukup membawa angin segar. Kami mulai mencari kontrakan, meninjau transportasi, biaya hidup dan lain-lain. Namun, kami masih menimbang-nimbang, apakah kepindahan Arsa, dan tentunya keluarga akan berimbas pada keluarga kecil kami.

Pendapatan keluarga sepenuhnya kini ditanggung suami yang tinggal di Bali. Lalu apabila saya dan Arsa pindah ke Yogyakarta tidakkah hal tersebut akan berimbas pada perkembangan psikologis Arsa yang harus berpisah jauh dari ayahnya? Memang ia belum mampu mengomunikasikan, namun saya tahu Arsa punya kedekatan batin dengan ayahnya, walau ayahnya kadang tak mampu juga menahan emosi. Demikian halnya dengan saya.

Apakah saya sanggup menjalani perkawinan jarak jauh di saat saya perlu berpegang kepada orang yang bisa menyangga kondisi ketakutan dan ketidakpastian yang saya alami.

Akhirnya setelah diskusi cukup panjang, keputusan kami adalah… cobalah di Bali dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantu atau setipe dengan sekolah-sekolah yang kami kunjungi.

Kami Harus Bisa!
Pencarian sekolah lagi-lagi bukan hal mudah. Maju ke negeri, ditawarkan buat Sekolah Luar Biasa. Ke sekolah khusus yang cukup punya nama, lagi-lagi didiagnosis ngawur tanpa benar-benar mengobservasi Arsa; yang berujung untuk mengikuti  terapi ini itu. Ke sekolah swasta umum, persyaratannya jelas-jelas nggak akan masuk ke kualifikasi yang dimiliki Arsa.

Sampai akhirnya kami menemukan sebuah sekolah swasta yang tahu-tahunya kepala sekolahnya adalah kolega kami sewaktu mulai berkarir di Denpasar. Gayung bersambut, walau sungguh maaf kalau kali ini agak “KKN”.  Di kemudian hari, kami tersadar; Arsa tak juga berkembang walau kami “KKN”.

Persyaratan sederhana, saya harus dampingi Arsa. Mulailah masa saya juga bersekolah, menjadi bayangan Arsa. Berkenalan dengan para guru, menjelaskan kondisi Arsa kepada guru dan terutama teman-temannya. Tidak selalu mulus, karena emosi Arsa turun naik, kesulitan berkomunikasi, keterbatasan kemampuan Arsa, penolakan sebagian orang tua dengan tatap mata mengasihani, itulah yang kami hadapi setiap hari.

Kejenuhan pun tak bisa saya pungkiri. Kemarahan bercampur kesedihan, tapi bercampur lagi dengan keteguhan untuk terus berjuang demi Arsa adalah emosi sayasehari-hari saat itu. Tiap bangun pagi, membangunkan Arsa dan sama-sama bersiap sekolah adalah saat membulatkan tekad, “Kami harus bisa!”

Tapi hal-hal lucu lainnya juga kami alami. Memisahkan pertengkaran anak lain, menjalin persahabatan dengan anak-anak perempuan yang ‘suka’ dengan Arsa karena ‘cool’ dan tidak nakal, membantu guru mengevakuasi anak saat terjadi insiden ledakan gardu, bahkan sebagai pengingat kalau guru lupa bahan terakhir yang disampaikan di kelas. Soal pengingat ini, bahkan di-’guna’-kan oleh orang tua yang bersimpati untuk mengetahui apa tugas yang diberikan guru di sekolah.

Saya juga pernah berusaha meminta guru pendamping Arsa di TK untuk mencoba lagi mendampingi Arsa. Biar Arsa tidak selalu mengandalkan saya dan ada interaksi dengan orang lain. Jadi ada masa-masa seorang Arsa didampingi oleh dua orang dewasa saat bersekolah. Sayang, trauma masa lalu saat Arsa mengalami insiden di TK, terus membekas dan itu dikaitkannya dengan guru pendamping ini. Padahal ibu Desak, begitu dia biasa dipanggil, sayang sekali pada Arsa, dianggapnya sebagai anak sendiri karena dia tak bisa memiliki anak.

Sebenarnya Arsa sudah mengenal alphabet, angka, bisa menulis walau tak sempurna, suka mewarnai, suka mencocokkan; harusnya bisa tereksplorasi saat itu. Namun, masuk dalam sebuah institusi yang menerapkan pendidikan dengan cara memenuhi tuntutan kurikulum ternyata bukan tempat yang pas buat Arsa.

Efek yang sangat jelas adalah ketidakpercayaan diri Arsa dalam mengerjakan segala sesuatu. Bila menggunakan pensil apapun namanya, ia memerlukan tangan saya. Tanganku harus menggenggam tangannya untuk menulis, menggaris, menggambar; kecuali menggunting dan mewarnai. Tentu saja hal ini menjadi pertimbangan guru-guru, berarti Arsa belum mampu apa-apa.

Jangankan latihan sehari-hari, ulangan pun demikian. Jangankan kegiatan akademis, non akademis seperti musik, olahraga dan yoga, Arsa hanya duduk bersandar pada saya. Pernah saya paksa ikut lari di lapangan, ikut melakukan yoga, coba menyanyi; hanya sekali-kali saja ia mau. Hanya pelajaran komputer saja yang buat ia tertarik dan ia pun menggambar dengan mouse.

Karena sikap dan kemampuan Arsa, ia tak pernah menerima rapor yang sama dengan anak lain, seperti usul kami juga. Hanya berupa komentar-komentar kemampuan Arsa seperti apa. Begitu seterusnya sampai tahun berikutnya. Walau aku sudah mengerahkan segala metode, dengan mengubah materi guru untuk kemudian diberikan kepada Arsa, menyederhanakan pilihan ganda menjadi hanya A atau B, YA atau TIDAK, membuat banyak lembar kerja untuk membantu guru; namun tak semua guru di sekolah mau menilai Arsa sesuai kemampuan yang dimilikinya.

Kepercayaan Diri
Di tengah perjalanan saya dan Arsa di sekolah umum ini kami juga menjalani yang namanya terapi homeopati dari seorang Eropa yang banyak membantu anak ASD seperti Arsa.

Homeopati adalah ilmu kedokteran yang dikembangkan oleh Dr Samuel Hahnemann (1755-1843), seorang dokter Jerman. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa bahwa substansi apa pun, yang dapat menghasilkan gejala-gejala pada orang sehat, dapat menyembuhkan gejala serupa pada orang sakit.

Ide ini disebut sebagai “Hukum similars” dan dipahami oleh Aristoteles dan Hippocrates. Dia  disebutkan dalam manuskrip Hindu kuno. Hahnemann mengubahnya menjadi sebuah ilmu penyembuhan.

Berikut adalah contoh dari prinsip ini.

Pertama, bawang adalah zat yang membuat air mata dan hidung Anda terbakar. Jika Anda mengalami serangan demam dengan mata berair dan hidung terbakar, obat homeopati yang terbuat dari bawang dapat meringankannya.

Contoh kedua, ketika Anda disengat lebah Anda merasa sakit, terbakar menyengat dan jaringan sekitar daerah tersebut membengkak. Beberapa bantuan diperoleh dari penerapan dingin ke daerah tersebut. Karenanya Jika Anda memiliki amandel membengkak berefek seperti terasa terbakar dan menyengat, maka rasa sakit akan menjadi lega dengan proses pendinginan yang didapat dari substansi obat homeopati.

Penjelasan di atas dikutip dan diterjemahkan bebas dari penjelasan tentang homeopati.

Reaksi Arsa pada proses ini sungguh luar biasa. Karena awal dari proses homeopathy adalah detoksifikasi maka Arsa tak boleh ke dokter dan mengkonsumsi obat apapun; maka muncullah berbagai reaksi. Sakit kepala, keluar kotoran dari mata, lendir dari hidung, bau mulut, gas semacam kentut, dan berbagai hal lain yang tak saya kira ternyata berdampak baik pada perkembangan Arsa.

Kepercayaan diri, kestabilan emosi, kemampuan berkomunikasi, bertambahnya nafsu makan dan yang paling jelas sistem imun Arsa semakin baik. Di saat teman-teman sekelas berjatuhan sakit, Arsa  justru segar bugar.

Namun, kemajuan Arsa justru mendorongnya untuk mengembangkan emosi, perasaan dan tentu saja kesadaran bahwa ia tidak suka dan tidak mau sekolah di tempat itu. Yang mau menerima keadaan Arsa, namun tidak bisa memfasilitasi untuk membuatnya berkembang.  Hal itu mencapai puncaknya saat kami masukkan ke terapi yang sempat terputus 1,5 tahun lamanya. Semua terapisnya kaget, mengapa Arsa menjadi seperti saat baru mulai senang diterapi. Kata mereka, “Harusnya Arsa bisa begini, begitu, dll.”

Arsa pun terapi lagi. Kali ini kombinasi terapi okupasi yang mengajarkan keterampilan yang membantu orang hidup seindependen mungkin. Keterampilan termasuk berpakaian, makan, mandi, dan berinteraksi dengan orang lain. Juga terapi wicara dan pictures exchange communication system (PECS) yang membantu meningkatkan keterampilan komunikasi menggunakan gerakan, simbol, foto dan papan gambar secara lebih realistis.

Terapi memang mengembalikan kepercayaan diri Arsa. Namun, ketidaksukaannya untuk belajar di sekolah ini semakin menjadi. Mulailah Arsa ngambek dengan minta pulang saat pelajaran, tidak mau dibangunkan di pagi hari, sampai terus berdiam di kamar selama berhari-hari.

Menyadari kondisi Arsa yang sedemikian rupa, dan setelah berkonsultasi dengan para terapis maupun pihak sekolah; akhirnya Arsa kami istirahatkan dulu sambil mengefektifkan Arsa di tempat terapi selama beberapa bulan. Untung sekolah mau menerima dan mengerti, tempat terapi pun siap membantu memfasilitasi Arsa secara lebih intensif dalam masa percobaan 1 bulan.

A place called home
Ternyata tak perlu menunggu 1 bulan. Dua minggu, tiga minggu perkembangan Arsa di segala bidang terus meningkat. Ia pun percaya diri untuk ku’tinggal’ selama terapi intensif tersebut, tak perlu ditemani.

Akhirnya di awal tahun 2011, Arsa memulai pendidikan sebenarnya di tempat terapi yang sedang diproses untuk menjadi sekolah, Perhimpunan Peduli Autisme Bali (PPAB) di daerah Denpasar Utara. Di sini siswa dibagi berdasar level kemampuan. Jadi, Arsa bisa belajar dengan anak ASD lain yang berusia 5 tahun atau 7 tahun lebih tua. Arsa paling muda di sekolah, karenanya ia cepat mengejar kemampuannya yang tertinggal selama ini.

Dengan 20 jam seminggu, perkembangan Arsa semakin baik. Kepercayaan diri, kemandirian, keberanian, kedisiplinan Arsa terus dipupuk. Evaluasi, masukan terus diberikan intensif setiap saat kami bertanya. Sayangnya ketergantungan Arsa pada saya masih tertinggal. Bila di PPAB, ia mau mengerjakan sendiri, setiba di rumah, pasti ia minta dibuatkan. Tangannya selalu mencari-cari tangan saya minta bantuan.

Karenanya saya memutuskan kalau mau beraktivitas dengan Arsa adalah di luar materi yang diberikan sekolah. Misalnya, menjahit dan memasak. Ternyata pangeran kecil saya ini sangat trampil di hal-hal motorik halus, yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian.

Saya menyiapkan bahan-bahan untuk menyulam. Mulai dari kertas yang digambar hewan atau benda, kemudian dilubangi sebagai jalur untuk menyulam. Sampai akhirnya berpindah ke kain. Sudah banyak karya yang dihasilkan Arsa sampai saya buatkan sebuah galeri foto di Facebook untuk karya-karyanya. Tapi satu hal yang selalu saya ingat adalah merekam saat ia menjahit, bila suatu saat orang meragukan apakah aktivitas itu benar-benar dikerjakan Arsa.

Kalau memasak, Arsa masih kikuk menggunakan kompor. Jadi, tak pernah kubiarkan ia sendirian mengutak atik kompor. Yang biasa ia lakukan adalah mempersiapkan alat-alat untuk memasak, termasuk mengupas, menggeprek dan memotong bawang putih. Tak lupa ia selalu mencuci semua peralatan itu bila kami sudah selesai. Setiap momen ini, rasanya ada air es mengguyur hati saya karena tak semua anak ‘normal’ mau membantu ibunya memasak.

Rasa percaya diri, pemahaman komunikasi yang semakin baik,  keinginan membantu, ketrampilan yang dilakukan di rumah saling menunjang satu sama lain dengan perkembangan Arsa di sekolah. Arsa seperti menemukan rumah di mana dirinya dihargai sebagai Arsa dengan segala kemampuan, kelebihan dan kekurangannya. Biarlah waktu yang akan menjawab kapan Arsa siap melangkah ke pendidikan formal seperti anak-anak lain.

Ringan Melangkah
Saat dulu bergabung di sebuah milis, saya menemukan teman-teman baru. Para ibu yang juga berjuang menerjang ‘badai’ berlabel autis atau ASD dalam kehidupan mereka. Curhat kami termasuk sharing mengenai berbagai pendekatan ilmiah dan non ilmiah, pontang panting kami dalam keseharian mengurus si kecil, sampai kepedulian kami terhadap olok-olok kata autis di dunia maya maupun pergaulan sehari-hari.

Karenanya salah seorang teman saya pun mengambil insiatif untuk melakukan kampanye setiap hari Rabu di akun FB maupun twitter kami. Kami bergantian mengemukakan ide, untuk mengambil dari sudut pandang mana kita mau berkampanye untuk lebih peduli pada anak-anak ASD maupun kebutuhan khusus lainnya.

Kami didampingi Toge Aprilianto, psikolog dari Surabaya yang kerap dimintai seminar atau diskusi di radio. Tak dinyana beliau memiliki masa kecil yang bisa dikatakan serupa dengan anak-anak ASD yang menjadi kliennya. Sehingga pemahaman beliau pun tak sebatas medis, tak sebatas ilmiah atau teori-teori di buku, atau malah untuk jualan produk suplemen yang belum teruji kesehatannya. Pemahaman beliau seperti memahami dirinya sendiri. Apa yang disukai atau tidak, apa yang efektif atau tidak dilakukan orang tua.

Kehadiran Pak Ge (demikian ia dipanggil) menjadi angin segar dan pendamping yang terus menyemangati kami, para orang tua anak ASD untuk terus memperjuangkan pendidikan yang lebih baik dan sesuai dengan anak-anak kami termasuk bagaimana mendidik anak-anak dengan pola asuh yang sebenarnya juga perlu diterapkan pada anak-anak ‘normal’

Keseharian kami bersama anak-anak ASD tak bisa dikatakan ringan. Kami berhadapan dengan keluarga yang tak semuanya menerima, masyarakat sekitar yang malah menggunakan kata-kata ‘autis’ untuk olok-olok, institusi pendidikan yang masih kebingungan mencari konsep dan kurikulum pendidikan tepat untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tapi, dengan bergandengan tangan, berinteraksi baik di dunia maya maupun dunia nyata, membuat kami semua lebih ringan melangkah setiap harinya.

Kacamata Berbeda
Dulu, bila Arsa ngambek dan ngamuk di tempat umum; rasanya saya ingin sembunyi di bawah meja. Tak kuat saya melihat tatapan mata orang-orang antara,”bisa nggak sih didik anaknya?” atau “kasihan ya anaknya kayak gitu”. Malu, tentu saja.

Bahkan kami pernah harus membayar sebuah vacuum cleaner yang patah rodanya di sebuah pusat perlengkapan ternama untuk perilaku tak tertib itu. Belum lagi baju saya yang robek di tempat umum karena ditarik tangan Arsa saat tantrum. Atau sorot mata aneh, bila Arsa berdiri di atas kursi makan atau teriak-teriak tak jelas saat ada iklan yang tak disukai di TV restoran.

Namun, bila melihat Arsa berusaha berkata-kata, bernyanyi dan menari, saya merasa tak pantas memiliki rasa malu. Selalu saya pompa jiwa untuk besar dan berlapang dada. Dia anak saya, lahir dari rahim saya, dari cinta saya dan suami; kenapa saya ingkari kondisi dan kebutuhannya?

Karena Arsa, saya belajar lebih banyak. Belajar untuk tidak hanya memperdulikan karir saya  saja. Belajar untuk tidak malas mencari tahu dan berkenalan dengan lebih banyak orang. Belajar untuk menghargai apa yang telah dicapainya, dan mengapresiasi ketidaksempurnaan yang dimiliki. Belajar mengambil kesempatan-kesempatan yang membuatku kenal banyak orang. Belajar untuk tidak merasa malu hanya karena hidupku tidak sempurna. Saya juga jadi berkesempatan bekerja paruh waktu di sebuah lembaga kebudayaan yang mendorong saya  melebarkan lingkungan sosial dan menambah kemampuan berbahasa asing.

Kini, saya harus memikirkan langkah Arsa ke depan. Kadang-kadang, saya ingin mengikutkan dia pada kursus-kursus seperti lukis, musik, sepakbola, dan sebagainya. Sayang, tak semua kursus bisa memahami kondisi dan kebutuhan Arsa. Belum memulai saja mereka sudah jeri, khawatir tak bisa menangani.

Namun, kami tak mau berhenti pada penolakan orang-orang. Karena Arsa adalah observer sejati, saya dan suami mulai berpikir dan menimbang-nimbang untuk mencari kursus untuk diri saya. Biar saya yang belajar, lalu mengajarkannya di rumah.

Melihat ibunya bisa, biasanya ia akan ikut seperti saat belajar menjahit dulu.

Ya, langkah kami belum berakhir dan belum berarti kami sudah ‘hebat’ memfasilitasi Arsa. Ia baru 8 tahun, dan masih banyak sekali yang perlu dikerjakan.Tapi sekali lagi, karena Arsa saya dan suami belajar tentang hidup. Belajar menghargai ketidaksempurnaan orang lain, menghargai pencapaian hal-hal sederhana, meresapi pengalaman berbeda, dan tentu saja belajar mencintai tak bersyarat.

Arsa seperti anak lainnya, anugerah terindah bila kami melihat dari kacamata berbeda. [b]