• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, September 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Melukis Wajah Hindu 50 Tahun Mendatang

Edy Mulyawan by Edy Mulyawan
27 October 2011
in Berita Utama, Kabar Baru, Opini
0
0

Mahasabha X Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHI) telah selesai digelar.

Forum tertinggi Parisada ini dihadiri sekitar 800 peserta yang terdiri anggota Parisada Pusat, perwakilan Parisada Provinsi dan Kabupaten/Kota, organisasi dan lembaga Hindu serta peninjau dari pemuka agama dan perwakilan organisasi-organisasi Hindu. Setelah dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden pada 23 Oktober 2011, pertemuan nasional ini akhirnya menghasilkan beberapa ketetapan terkait dengan kelembagaan dan keagamaan.

Ketetapan yang dihasilkan pada Mahasabha ke X kali ini adalah Penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Parisada, Pengesahan Program Kerja 2011-2016, serta Pembentukan Pengurus Parisada Pusat masa bakti 2011-2016. Pengurus baru PHDI Pusat ini terdiri dari Pengurus Harian yang diketuai Mayjen TNI (Purn) SN. Suwisma, S.IP, Sabha Pandita yang diketuai oleh Ida Pedanda Gde Ketut Sebali Tianyar Arimbawa serta Ir. I Putu Wirata Dwikora yang menjabat Ketua Sabha Walaka.

Hasil lain yang berhasil ditetapkan dalam Mahasabha kali ini adalah rekomendasi bidang agama yang meliputi pembentukan pasraman Hindu (pendidikan), pembenahan sistem dana punia Parisada, pembentukan Pusat Kajian Hindu (Hindu Centre) serta mengoptimalkan pembinaan umat di seluruh Indonesia.

Mahasabha PHDI X tahun 2011 juga menetapkan Rekomendasi Bidang Khusus yang terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di antaranya, peneguhan 4 pilar kebangsaan dan mendesak penerbitan Peraturan Menteri Agama tentang pendidikan keagamaan.

Selain itu, Mahasabha juga menyikapi isu terkini yang sedang dihadapi Indonesia, yaitu penegakan hukum terhadap kasus-kasus korupsi, pencegahan terhadap terorisme, serta perlunya sosialisasi tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS.

Grand Design
Hal sedikit berbeda dibanding dengan pelaksanaan Mahasabha sebelumnya adalah adanya pembahasan Grand Design Hindu Dharma Indonesia 2011-2061. Sejak diakui sebagai agama sah di Indonesia pada tahun 1959, Hindu telah mengalami perkembangan cukup pesat. Bahkan, sejak era kerajaan, eksistensi Hindu masih tetap terjaga berkat konsep keagamaan dinamis dan fleksibel.

Dalam perkembangannya hingga saat ini, bukan berarti Hindu tidak mengalami masalah. Jika dipilah ada banyak permasalahan ”internal” yang melanda Hindu, baik dari sisi umat maupun kelembagaan. Dimulai dari kesejahteraan umat, pengembangan sumber daya, konversi agama, serta sinkronisasi kelembagaan yang masih belum optimal. Nah, di tengah permasalahan tersebut, pernahkah umat Hindu membayangkan seperti apa Hindu di masa mendatang?

Menjawab pertanyaan tersebut, PHDI sebagai majelis tertinggi agama Hindu di Indonesia, mengambil inisiatif dan mengajukan rancangan ”Grand Design Hindu Dharma Indonesia”. Rancangan ini disusun dengan tujuan untuk menentukan arah, strategi, kebijakan serta program untuk pengembangan Hindu Indonesia di masa depan.

Dalam Mahasabha X PHDI di Denpasar, 23-26 Oktober 2011, PHDI menentukan 4 pilar utama sebagai pegangan dalam menentukan kebijakan, yaitu aktualisasi nilai keagamaan, revitalisasi sumber daya, profesionalisasi organisasi, serta  kolaborasi kelembagaan.

Keempat pilar tersebut kemudian dijabarkan dalam 10 sasaran umum, yaitu:
Agama: Diseminasi (menyebarluaskan), internalisasi, implementasi nilai-nilai, dan memiliki ketahanan dan kualitas spiritual.
Ekonomi: Umat Hindu yang sejahtera, mandiri, dan memiliki ketahanan ekonomi.
Pendidikan: Sumber daya manusia yang unggul, mandiri, berbudaya, dan berkarakter.
Kesehatan: Terciptanya budaya hidup bersih dan sehat.
Budaya: Penghargaan, pelestrian dan penguatan kearifan lokal.
Kemanusiaan: Kesamaan hak, cinta kasih, peduli dan melayani.
Lingkungan: Pelestarian dan Penghargaan dalam bingkai Tri Hita Karana.
Organisasi: Dinamis, Kerjasama, Sinergi, Integrasi, dan Harmoni serta Penguatan Citra.
Ideologi: Mewarnai kebijakan Dharma Negara.
Sains dan Teknologi: Sesuai dengan nilai-nilai Dharma (Vedic Science) untuk membangun peradaban.

Grand Design Hindu Dharma Indonesia 2011-2061 yang disusun memang masih bersifat umum. Rancangan ini tidak dapat dilepaskan dari keadaan Hindu Indonesia saat ini, sehingga penerapan sasaran yang dituju akan lebih banyak dijabarkan dalam program kerja 5 tahunan. Seluruh sasaran tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi seluruh komponen agama Hindu di Indonesia.

Implementasi terhadap rancangan ini akan sangat bergantung pada pengurus PHDI baik pusat maupun daerah, organisasi dan lembaga yang bernapaskan Hindu serta umat Hindu itu sendiri. Semoga saja, rancangan Grand Design Hindu Dharma Indonesia 2011-2061 ini dapat menjaga eksistensi Hindu dan mampu mewujudkan wajah Hindu yang kita harapkan di masa mendatang. [b]

* Penulis adalah peninjau dalam kegiatan Mahasabha X Parisada Hindu Dharma Indonesia

Tags: AgamaHinduMahasabhaOpiniPHDI
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Edy Mulyawan

Edy Mulyawan

Ketua STT. Tirta Manik, Dadia Tirta Sari Desa Ulakan Anggota KNPI Denpasar, Founder Bali Youth Inst. dan Ketua Ikatan Alumni SMK Negeri 5 Denpasar (IKANI SKANEMA) Saat ini masih belajar tentang hukum, politik, teknologi, investasi, media dan komunikasi.

Related Posts

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Next Post
Beragam Seniman dalam Pameran Seni ASEAN

Beragam Seniman dalam Pameran Seni ASEAN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan Kusamba Bisa Jadi Tinggal Kenangan

Nelayan Kusamba Bisa Jadi Tinggal Kenangan

13 September 2026
IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

12 September 2026
Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

11 September 2026
Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

11 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia