
Oleh: F Harin Regia R, Tuningsih Haryati, Ni Made Ayu Rita Sari
“Benarkah ada pekerjaan perempuan dan laki-laki?”
Pertanyaan itu diberikan kepada kami, para peserta kala mengikuti Kelas Jurnalisme Warga yang diadakan oleh BaleBengong bersama dengan Komunitas Generasi Setara. Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, dan sebagian orang akan menjawab bahwa pekerjaan tidak dikelompokkan berdasarkan gender tertentu.
Namun pada kenyataannya, di lapangan sering kali terdapat anggapan bahwa pekerjaan tertentu lebih cocok dilakukan oleh perempuan, sementara pekerjaan lainnya dianggap lebih sesuai untuk laki-laki. Perempuan sering dikaitkan dengan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, atau pelayanan. Sementara laki-laki lebih sering dianggap cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan kekuatan fisik. Namun, apakah anggapan tersebut benar-benar masih terjadi di sekitar kita?
Berangkat dari pertanyaan tersebut, kami melakukan eksplorasi ke Pasar Badung yang menjadi pusat aktivitas perdagangan di Kota Denpasar. Pasar ini mempertemukan banyak orang dalam satu ruang. Pedagang, pembeli, buruh angkut, pemasok dagangan, pengemudi, hingga pekerja yang membantu operasional kios menyatu di tempat ini. Berbagai aktivitas ekonomi berlangsung hampir setiap hari, sehingga pasar menjadi tempat yang cukup dekat untuk melihat bagaimana pembagian pekerjaan antara perempuan dan laki-laki terjadi di ruang publik.
Tak hanya itu, di sini kami menemukan beragam aktivitas yang tidak hanya terbatas pada kegiatan jual-beli. Ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik, ada yang membutuhkan ketelitian, keterampilan komunikasi, kemampuan mengelola usaha, hingga pekerjaan domestik yang terkadang ikut terbawa ke dalam aktivitas berdagang. Kondisi tersebut memberi ruang bagi kami untuk melihat apakah anggapan mengenai “pekerjaan perempuan” dan “pekerjaan laki-laki” benar-benar masih terlihat di lapangan.
Upaya untuk menemukan jawaban tersebut dimulai dari pertemuan dengan Me Made Padmi, seorang tukang suun yang telah bekerja selama puluhan tahun di Pasar Badung. Beliau adalah salah satu dari beberapa tukang suun di pasar ini yang menawarkan jasa untuk mengangkut barang dagangan yang telah dibeli oleh pembeli maupun barang milik para pedagang. Beliau menawarkan jasanya untuk menyuun barang, sembari mengajak kami berkeliling. Naik dari lantai ke lantai, beliau bercerita mengenai pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang suun, bagaimana Pasar Badung berubah, dan juga tentang banjir besar kala itu.
Tak mudah menjadi tukang suun di usia yang terbilang tidak muda lagi. Me Padmi memulai pekerjaannya pukul 05.30 pagi. Beliau mengangkut barang-barang, baik dari penjual di pasar, maupun barang pembeli seperti kami. Pagi itu, beliau mengatakan sudah mengangkut beras seberat 50 kilogram, menjadikannya salah satu jenis beban paling berat yang beliau bawa. Galon-galon minyak, kecap, dan barang-barang sejenis juga kerap kali dibawa naik turun tangga, sesuai kesepakatan dengan para penjual di pasar yang menggunakan jasanya.
Di sisi lain, sudah terdapat lift serta eskalator yang beroperasi usai renovasi pasca Pasar Badung mengalami kebakaran besar di tahun 2016 lalu. Namun, Me Made Padmi lebih memilih menggunakan tangga yang dirasa lebih mudah dan tidak ribet. Ia bercerita pernah hampir tertahan di dalam lift. Kami berpikir, apakah itu karena liftnya macet atau Me Made Padmi yang belum paham cara menggunakan lift. Edukasi terhadap penggunaan lift mungkin belum sepenuhnya didapatkan oleh para pekerja di pasar ini, itu kesimpulan kecil kami.

Me Made Padmi mengatakan COVID-19 cukup memengaruhi jumlah pengunjung dan jasa yang beliau berikan. Sebelum COVID-19, beliau bisa mengangkut setidaknya 15-25 kali dalam sehari. Namun setelah COVID-19, beliau hanya mendapatkan 3-4 kali angkut dengan penghasilan sekitar Rp50.000,00 sehari. Beliau mengatakan kondisi pasar saat ini terbilang sepi, sehingga itu juga memengaruhi berapa banyak pengunjung yang menggunakan jasanya. Kami melihat betapa tangguhnya pekerja perempuan, salah satunya Me Made Padmi yang menjadi tukang suun di pasar ini.
Kami pun bertanya apakah hanya perempuan yang menjadi tukang suun di pasar tersebut. Beliau mengatakan bahwa memang sebagian besar pekerjaan ini digeluti perempuan, dan ada juga tukang suun laki-laki, tetapi hanya dua orang. Pertanyaan besar kami pun muncul, apakah memang ada anggapan bahwa pekerjaan lebih cocok pada gender laki-laki ataupun perempuan. Me Made Padmi memberikan jawabannya sembari tertawa, bahwa di pasar tidak ada pekerjaan yang dikhususkan pada gender tertentu, selagi punya keinginan untuk bekerja maka setiap pekerjaan apapun dapat dilakukan.
Entah kenapa mendengar jawabannya kami merasa lega, kami pun melihat selama berkeliling sekitaran pasar, dari lantai satu ke lantai dua, berlanjut ke lantai tiga. Semua orang mengambil peran dalam bekerja. Perempuan dan laki-laki yang terlihat sibuk mengupas bawang, perempuan dan laki-laki yang berdagang, serta perempuan dan laki-laki yang menyapu membersihkan halaman kios. Tanggung jawab dan beban yang sama tampak diemban dari setiap pekerja di pasar ini. Selagi berbincang kami pun juga berjumpa dengan Me Sadri, tukang suun lainnya yang turut menimpali jawaban Me Made Padmi dengan pendapat yang sama.
Namun di sisi lain, masih ada pertanyaan di benak kami. Bagaimana mereka mengambil peran domestik di rumah, sementara harus bekerja juga di pasar?
Me Made Padmi menyampaikan bahwa sebagai perempuan yang belum menikah, di satu sisi hal tersebut memberikannya rasa tanggung jawab lebih untuk bekerja. Mendengar pertanyaan itu, Me Sadri menimpali bahwa tugas domestik tetap diambil selepas bekerja di pasar, tetapi beliau menjelaskan bahwa posisinya sebagai istri maupun ibu rumah tangga tidak menghalanginya dalam bekerja sebagai tukang suun. Justru, pekerjaan sebagai tukang suun membuat beliau menemukan kehidupan lain di luar pekerjaan domestik di rumah. Kami menyadari pekerjaan ini juga memberikan mereka sebuah kebanggaan, bahwa sebagai perempuan, mereka juga dapat berdikari.

Pencarian jawaban tersebut juga mengantarkan kami kepada seorang pemuda yang bekerja sebagai sopir untuk kios sayur. Beliau bertugas membeli kebutuhan dagangan dan mengangkutnya dari mobil ke dalam kios. Tak hanya itu, beliau juga turut membantu pekerjaan mengupas bawang bersama dengan pegawai kios lainnya. Kami berbincang cukup lama perihal pekerjaan kupas bawang sembari tertawa bersama mengingat isu upah kupas bawang yang pernah kami dengar sangat tinggi. Sampailah kami kepada pertanyaan utama, “Apakah ada pekerjaan perempuan dan pekerjaan laki-laki?”. Beliau tidak langsung menjawab, tetapi berpikir sejenak sembari minta izin kepada bosnya untuk memberikan pendapat.
Bagi dirinya, setiap pekerjaan dapat dilakukan oleh siapa saja, perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk bekerja. Namun, beliau berpendapat bahwa ada beberapa pekerjaan yang hanya memungkinkan untuk dikerjakan oleh laki-laki. Salah satunya pekerjaan sopir. Kami sempat berpendapat kalau perempuan juga bisa menyetir sebaik laki-laki. Uniknya, beliau tidak menyanggah pernyataan tersebut. Beliau memberikan pandangan bahwa ada kondisi dimana sopir truk harus mengangkut barang dagangan yang muatannya berat, dan kapasitas fisik menjadi pertimbangan ketika perempuan mengambil pekerjaan tersebut. Bos dari pemuda ini pun menimpali bahwa kiosnya terbuka jika ada perempuan yang melamar sebagai sopir.
Setelah berkeliling, kami menyadari pertanyaan besar yang kami bawa dari BaleBengong hingga ke Pasar Badung tidak sepenuhnya memberikan jawaban hitam atau putih. Kami menemukan bahwa memang beberapa pekerjaan masih dilakukan dan didominasi oleh perempuan atau laki-laki. Beberapa pekerjaan yang membutuhkan kemampuan fisik cenderung dilakukan oleh laki-laki, sementara itu beberapa yang membutuhkan ketelitian dan urusan administrasi kios banyak dilakukan oleh perempuan. Ada banyak alasan di baliknya, mulai dari pertimbangan kemampuan fisik, pekerjaan yang diturunkan dari keluarga serta kebiasaan yang telah terbentuk dari lingkungan.
Namun, berbicara dengan beberapa orang yang kami temui di Pasar Badung, kami mendapatkan pandangan baru bahwa setiap pekerjaan tidaklah dikelompokkan berdasarkan gender tertentu. Selagi memiliki keinginan untuk bekerja, maka setiap pekerjaan dapat diambil oleh siapa pun, baik perempuan maupun laki-laki. Perempuan yang menjadi tukang suun yang memikul beban berat; laki-laki yang berjualan serta mengurus pembukuan kios, mengupas bawang, juga menyapu; mereka semua adalah bentuk dari terbukanya pikiran akan kesetaraan gender, dimana setiap gender memiliki peluang yang sama. Kesetaraan bukan berarti melakukan beban pekerjaan yang sama, tetapi bagaimana peluang yang sama dapat diambil oleh siapapun tanpa menghilangkan perbedaan fisik yang ada.
Kami melihat langsung di pasar. Di setiap pekerjaan, tidak ada yang bertanya apakah kamu seorang perempuan atau laki-laki, tetapi apakah kamu bersedia melakukannya atau tidak. Maka pertanyaan, “Benarkah ada pekerjaan perempuan dan laki-laki?” yang diberikan kepada kami sudah kami dapatkan jawabannya sembari bertemu orang-orang hebat di Pasar Badung.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Generasi Setara)









