
Kios dagang itu tampak ramai. Menjelang Galungan, para ibu rumah tangga berbondong-bondong membeli perlengkapan upacara, mulai dari janur, bambu, bunga pacar, hingga buah-buahan.
Di tengah keramaian tersebut salah satu pembeli menyeletuk, “Aduh jeg keweh jani (aduh susah sekarang).” Sambil geleng-geleng kepala, tangannya tetap sibuk memilih buah untuk Galungan.
Dalam satu hari raya, masyarakat Bali bisa mengeluarkan biaya hingga Rp2 juta. Bahkan, biaya yang dikeluarkan kerap kali lebih dari itu. Ratih, seorang ibu rumah tangga di Kota Denpasar, menghabiskan lebih dari Rp2juta untuk membeli buah, daging, dan bunga.
“Yang naik semuanya, dari bunga, buah, daging, dan bahan lainnya,” kata Ratih.
Biaya pengeluaran yang sama juga diungkapkan oleh Made Ardini. Namun, ia sudah melakukan penyesuaian agar pengeluaran Galungan kali ini lebih sedikit dari Galungan sebelumnya. Galungan kali ini ia memilih mengurangi penggunaan buah impor karena harganya yang mahal dibandingkan buah lokal. Satu-satunya buah impor yang ia beli adalah anggur yang harganya mencapai Rp90.000 per kilogram.
“Berkurang dari tahun lalu, soalnya nggak bikin sate, lawar, sama nggak pakai buah impor. Penjor beberapa bahan nyari sendiri deket rumah,” terang Ardini.
Sementara itu, Kadek, ibu rumah tangga, menghabiskan kurang lebih Rp5 juta untuk Galungan kali ini. Pengeluaran itu lebih banyak dibandingkan Galungan tahun-tahun sebelumnya.
“Di beberapa bahan ada kenaikan, seperti bumbu-bumbu, daging babi masih sama, bunga ada kenaikan sedikit,” ungkap Kadek.
Perbedaan pengeluaran Galungan di setiap rumah tangga dipengaruhi oleh daya beli dan banyaknya keperluan yang dibeli masing-masing orang. Meski biaya pengeluaran berbeda-beda, ada satu kesamaan yang diungkapkan oleh Ratih, Ardini, dan Kadek, yaitu kenaikan harga keperluan upacara dibandingkan tahun lalu.
Kenaikannya kurang lebih 10%, seperti yang diungkapkan oleh Kadek dan Ardini. Meski kenaikannya terlihat sedikit, kenaikan ini cukup terasa jika dilihat secara keseluruhan.
Kenaikan itu tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga oleh para pedagang. Made Rai, seorang pedagang canang di Kabupaten Badung, mengatakan kenaikan harga keperluan upacara sekitar 10% dibandingkan Galungan sebelumnya. Kenaikan harga ini membuat beberapa harga barang-barang yang ia jual ikut naik. Per 14 Juni 2026, harga canang ceper besar ia jual Rp35.000 ber bungkus. Satu bungkus berisi 25 canang ceper.
Kenaikan harga yang dikeluhkan para ibu rumah tangga paling terasa pada bumbu dapur. Kadek mengeluhkan kenaikan harga bumbu dapur sangat melonjak. Dilansir dari Sistem Informasi Harga Pangan Utama (Sigapura) Provinsi Bali, komoditas cabai rawit merah, bawang merah, dan bawah putih menjadi komoditas pangan yang mengalami kenaikan tertinggi sejak 1 Juni 2026.
Per 16 Juni 2026, cabai rawit merah berada di harga Rp78.982 per kilogram. Kenaikan harganya hampir 6% sejak 1 Juni 2026. Kenaikan harga tertinggi terjadi pada bawang putih. Per 16 Juni 2026, harga bawang putih di pasar tradisional mencapai Rp40.094 per kilogram. Padahal, harga bawang bawang putih pada 1 Juni 2026 berkisar Rp31.490 per kilogram. Kenaikan bawang putih lebih dari 27% hanya dalam setengah bulan. Sementara itu, harga bawang merah per 16 Juni 2026 mencapai Rp45.526 per kilogram, meningkat 11.95% dari 1 Juni 2026.
Lonjakan harga bawang putih erat kaitannya dengan kondisi ekonomi global. Hari Raya Galungan tahun ini dibarengi dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tren pelemahan ini sudah terjadi sejak awal tahun 2026. Masyarakat pun mulai ramai membicarakannya sejak Mei lalu. Nilai tukar dolar AS pun sempat mencapai angka Rp18.190 pada 8 Juni 2026.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga komoditas impor. Dilansir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lebih dari 90% kebutuhan nasional bawang putih dipenuhi melalui impor, terutama dari Tiongkok. Impor bawang putih terjadi karena kegagalan produksi bawang putih lokal, mulai dari ketersediaan benih unggul hingga persoalan pascapanen.
Selain melemahnya nilai tukar rupiah, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi juga ikut naik. Kenaikan terjadi pada 10 Juni 2026 dengan kenaikan harga hampir Rp4.000 untuk Pertamax (RON92).
Penelitian Dampak Kenaikan BBM bagi Perekonomian Rakyat menyebutkan sejumlah dampak kenaikan BBM tahun 2022 oleh Tambunan Nurma, dkk. mengungkapkan kenaikan harga BBM berdampak pada biaya produksi dan operasi di banyak sektor industri. Pasalnya, sektor industri membutuhkan bahan bakar untuk produksi. Naiknya BBM membuat biaya produksi ikut naik, sehingga kebutuhan masyarakat yang berasal dari sektor industri pun ikut naik, baik itu kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Bagi masyarakat Bali, tekanan rupiah melemah dan kenaikan BBM datang di waktu yang tidak tepat. Perayaan Galungan kali ini menyimpan kepedihan, kantong tampaknya makin tipis di balik sarana upacara yang dihaturkan.










