• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menyusuri Langkah Lelah Tukang Suun di Pasar Badung

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
11 July 2025
in Kabar Baru, Sosial
0
0
Diskusi di pelataran Pasar Badung. Foto oleh: Kresnanta

Sejak sepuluh tahun terakhir, Pasar Badung yang berlokasi di jantung Kota Denpasar telah mengalami banyak perubahan. Revitalisasi pasca kebakaran di tahun 2016 mengubah wajah Pasar Badung. Kini, pasar tersebut berdiri tinggi dengan empat lantai. Tampak modern dan mengkilap dengan ukiran khas Bali.

Di balik megahnya Pasar Badung, ada sekelompok pekerja yang kian lelah. Sekelompok pekerja ini adalah tukang suun. Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah merupakan sebuah tulisan karya tiga anak muda Kota Denpasar, yaitu Indira Paramita, Rena Budhiarta, dan Nayika Kumara. Melalui tulisan tersebut, mereka menyoroti tantangan yang dialami tukang suun ketika menjalankan kerjanya di Pasar Badung.

Demi merasakan dan memahami lelahnya tukang suun, Indira Paramita dan Rena Budhiarta mengajak sejumlah anak muda melancong ke Pasar Badung. Selain berkeliling, ada pula diskusi dengan pihak pemerintah untuk menjawab sejumlah keresahan yang ada di tulisan tersebut. Acara ini berlangsung pada Jumat (04/07) dalam rangka side event Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2025.

Kegiatan siang itu diawali dengan berkeliling Pasar Badung bersama dua tukang suun, Me Karya dan Me Wayan Kondriyani. Tidak sekadar menemani, keranjang Me Karya dan Me Wayan siap diisi barang belanjaan para peserta yang ikut melancong.

Dua anak muda tim Denpasar, Indira dan Rena, bersemangat mengajak para peserta berkeliling. Titik henti pertama adalah pintu masuk gedung Pasar Badung. Rena menunjukkan kondisi tangga menuju lantai dua yang mudah licin ketika hujan tiba. Pasalnya, tidak ada atap yang menutupi tangga tersebut. Selain itu, ada pembangunan di atasnya, sehingga material bangunan bisa membuat lantai licin.

Melancong ke Pasar Badung. Foto oleh: Dewa Kresnanta

Rena juga menunjukkan tembok di sebelah kanan yang tampak warna hitam berbentuk diagonal mengikuti tangga. Ia menjelaskan bahwa itu adalah bekas pegangan tukang suun karena tangga di sana tidak memiliki railing (pegangan tangga), sehingga tukang suun berpegangan pada tembok.

Kami pun diberi kesempatan untuk membawa keranjang tukang suun di atas kepala. Berat sekali, itu yang saya rasakan ketika membawa keranjang tersebut. Bukan berat di atas kepala, tetapi berat pada langkah kaki, terutama ketika berjalan turun. Pasalnya, jarak antar anak tangga cukup tinggi, sehingga harus pelan-pelan melangkah.

Tiba di lantai dua ternyata ada lift dan eskalator. Lega rasanya melihat eskalator di sana karena cukup membuat rasa lelah berkurang. Sayangnya, eskalator hanya berfungsi pada jam operasional pasar, yaitu jam 09.00 – 17.00 WITA. Padahal tukang suun lebih banyak bekerja di luar jam operasional pasar, terutama dini hari dari pukul 04.00 WITA. Selain itu, beberapa lift juga rusak, hanya sedikit yang bisa digunakan.

Lorong gelap menuju basement Pasar Badung. Foto oleh: Kresnanta

Indira dan Rena memandu keliling Pasar Badung hingga lantai empat dan berakhir di basement. Ketika menuju basement, masalahnya bukan hanya tangga yang terjal, tetapi juga minimnya penerangan. Kami yang tidak membawa keranjang saja berjalan dengan pelan karena takut terjatuh, apalagi tukang suun. 

Tujuan akhir adalah Klinik Yayasan Rama Sesana (YRS). Lokasinya di pojok lantai bawah dengan penerangan siang itu yang cukup remang. Sekilas dari luar, klinik tersebut hanya sekadar ruang kecil. Di depannya ada wastafel, tetapi tidak berfungsi dengan baik. Rena pun mengungkapkan kekecewaannya, pasalnya klinik ini kerap memberikan layanan kesehatan dengan biaya seikhlasnya untuk tukang suun. Namun, pengelola pasar hanya memberikan ruang kecil di pojok.

Puas berkeliling, kami duduk melingkar di pelataran depan Pasar Badung. Bukan hanya masyarakat umum dan tukang suun yang hadir pada hari itu, ada juga pihak pemerintah dari Dinas Sosial Kota Denpasar dan Perusahaan Umum Daerah Pasar Sewakadarma sebagai pengelola Pasar Badung.

Diskusi diawali dengan ungkapan perasaan tentang Pasar Badung dari peserta yang ikut berkeliling. Salah satu peserta, Teja, yang berkesempatan membawa keranjang mengungkapkan bahwa kepalanya terasa berat dan lehernya sakit. Ia pun mencoba berbagi perasaannya ketika mencoba fasilitas di Pasar Badung. “Ketika saya turun tangga itu ternyata lorong tangganya gelap sekali, juga ada pegangan yang goyang-goyang. Itu kayak fatal banget gitu loh. Apalagi anak tangganya kan licin,” ujar Teja.

Peserta lain, Savira, mengeluhkan hal serupa, terutama terkait jam operasional eskalator. “Itu mungkin harusnya eskalator tuh punya sensor gitu ya. Kalau nggak ada orang, ya mati sendiri gitu. Jadi nggak sesuai jam kerja. Teris lift barang baru setengah bulan udah rusak, udah mati, terus belum ada perbaikan lagi. Itu sayang banget, padahal membantu sekali,” tutur Savira.

Savira juga mengamati pembuatan anak tangga tidak dirancang dengan mempertimbangkan tinggi penggunanya, terutama tinggi rata-rata tukang suun. Akhirnya, yang ada malah tangga dengan jarak yang cukup lebar. Selain mudah membuat lelah, juga mudah membuat celaka.

Hari itu juga hadir Priyo, seorang arsitek pasca bencana. Profesi yang relevan mengingat revitalisasi Pasar Badung dilakukan pasca kebakaran. Selain aksesibilitas tukang suun yang telah dibahas Teja dan Savira, Priyo menggarisbawahi kurangnya rambu-rambu. Dalam hal ini, rambu-rambu bencana, terutama petunjuk penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Bukan hanya itu, penerangan yang minim di tangga menuju basement juga perlu diperhatikan. “Saya membayangkan kalau ini keadaannya hujan gelap, mati listrik, kemudian air bercucuran, tangga licin, lantas seperti apa? Tidak ada spotlight yang membimbing kita,” ungkap Priyo. Ia pun menyampaikan pentingnya mitigasi kebakaran dan gempa bumi di Pasar Badung. Berbeda dari mitigasi pada umumnya, mitigasi di pasar harus memperhatikan bagaimana evakuasi seseorang ketika berdampingan dengan orang yang membawa barang berat.

Selain peserta dari masyarakat umum, hadir pula Sari, dokter yang berpraktik di Klinik Yayasan Rama Sesana. Sari menceritakan pelayanan kesehatan pertama yang diberikan di Pasar Badung adalah edukasi kesehatan ke para pedagang dan tukang suun. Bukan hanya kepada para pekerja di Pasar Badung, ia juga memberikan layanan kesehatan untuk anak-anak para pekerja.

Sebelum Pasar Badung terbakar, klinik tempat Sari praktik berlokasi di lantai empat dengan tempat yang luas. “Saya punya ruang untuk berdiskusi, saya punya tempat untuk ruang tunggu, saya punya toilet sendiri karena klinik atau pelayanan medis idealnya seperti itu,” terang Sari. 

Namun, pasca kebakaran, kliniknya bahkan tidak layak dan tidak memenuhi standar pelayanan medis. “Sehingga saya tidak berizin bekerja di sini. Terus terang, jujur saja karena tempatnya tidak memenuhi standar,” imbuhnya. Saat ini, Sari bekerja layaknya seorang relawan di Pasar Badung, bukan sebagai dokter praktisi. “Bukan dokternya yang tidak boleh, tapi tempatnya yang tidak boleh,” ungkapnya.

Menanggapi sejumlah kritik dari peserta, I Gusti Made Estuasa, Kepala Bagian Kebersihan dan Keamanan Perumda Pasar Sewakadarma yang hadir mengungkapkan bahwa dirinya akan menyampaikan kritik tersebut untuk didiskusikan lebih lanjut. Namun, mengonfirmasi sejumlah hal, pihak Perumda Pasar Sewakadarma mengungkapkan desain bangunan Pasar Badung saat ini berasal dari pemerintah pusat yang diterima pasca kebakaran. “Kita mohon maaf tidak bisa seenak perutnya kita juga meminta harus begini begitu karena ini sudah konsep nasional,” ujarnya.

Estuasa juga mengungkapkan alasan jam operasional eskalator terbatas karena biaya yang dibutuhkan sangat besar. “Belum lagi untuk maintenance-nya. Belum lagi masyarakat yang menggunakan tidak disiplin. Sudah jelas untuk dua orang misalnya naik, empat orang memaksa. Terus terang ini tidak bisa kita jaga 24 jam,” ungkapnya. Sementara, terkait keluhan Sari, ia menyarankan agar bersurat ke Perumda Pasar Sewakadarma agar bisa didiskusikan lebih lanjut.

Lain dengan Kepala Dinas Sosial Kota Denpasar, Laxmy Saraswaty menuturkan bahwa dirinya merupakan saksi kebakaran besar di Pasar Badung. Laxmy pun menjelaskan pemerintah telah melakukan upaya sebaik mungkin untuk memberikan ruang baru kepada para pedagang dan tukang suun. “Kalau orang ngomong di media kan cuma cover doang,” ujarnya menyinggung pengguna di media sosial yang hanya melempar kritik.                                                                                                                          

Laxmy juga mengungkapkan seharusnya kendala-kendala seperti klinik dan layanan BPJS untuk tukang suun bisa dikomunikasikan ke pemerintah. “Kalau dia bermasalah dengan BPJS, dia KTP Karangasem, tinggal ngomong ke Kabupaten Karangasem, pak tolong diaktifkan BPJS-nya,” ujar Laxmy terkait layanan kesehatan tukang suun.

Meski berakhir cukup panas dengan pernyataan Laxmy, setidaknya diskusi hari itu menjadi ruang untuk menyampaikan keluh kesah tukang suun kepada pihak-pihak terkait. Setidaknya isu ini bisa muncul ke permukaan, bukan hanya dirasakan oleh tukang suun saja, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat umum.

Tulisan tim Denpasar dapat dibaca di sini.

Siaran langsung diskusi tim Denpasar bisa ditonton di sini.

sangkarbet kampungbet
Tags: AJWAJW 2025akses Pasar BadungAnugerah Jurnalisme Warga 2025pasar badungtukang suuntukang suun di Pasar Badung
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Audit Hak Pejalan Kaki melalui Telusur Gajah Mada

Audit Hak Pejalan Kaki melalui Telusur Gajah Mada

1 February 2026
Di Pojok Kecil Pasar Badung Upadisari Mengadvokasi Kesehatan Reproduksi

Di Pojok Kecil Pasar Badung Upadisari Mengadvokasi Kesehatan Reproduksi

28 January 2026
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025
Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali

Merefleksikan Tata Ruang Bali Pasca Bencana

5 October 2025
Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali

Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali

16 September 2025
TPA Linggasana Overload,  Sistem Pengelolaan Sampah Belum Jelas, TPS Liar pun Meluas

TPA Linggasana Overload, Sistem Pengelolaan Sampah Belum Jelas, TPS Liar pun Meluas

31 July 2025
Next Post
Love Scamming, Rayu Manis Berujung Penipuan

Love Scamming, Rayu Manis Berujung Penipuan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

26 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia