• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 2, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Beginilah Cerita (di Balik) Proses Pembuatan Ingka

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
8 November 2020
in Budaya, Kabar Baru
0
0
Penganyaman ingka dengan menggunakan bahan baku lidi kering. Foto AA Bagus Susrama.

Oleh Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum dkk

Sesungguhnya, ingka tak sekadar tempat makan belaka.

Salah satu hal paling sering ditemukan saat pergi ke suatu acara adalah piring yang digunakan untuk makan. Biasanya para tuan rumah lebih memilih untuk menggunakan piring Ingka. Alasannya karena lebih praktis dan mudah disimpan. Namun, pernahkah bertanya bagaimana cara membuat piring tersebut?

Ingka termasuk sebuah seni atau kerajinan tradisional berbahan dasar lidi yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk piring. Prosesnya pembuatannya sendiri sedikit rumit. Dia membutuhkan kesabaran dari mulai membersihkan lidi, penjemuran, hingga penganyaman.

Karena itu, tak banyak orang menggeluti pekerjaan untuk membuat ingka ini.

Sebagian warga Banjar Moding Kaja, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya telah menekuni pembuatan ingka ini selama tiga generasi. Dari Bali, produk mereka bahkan telah sampai Pulau Papua.

Ketut Ariani salah satu dari sedikit pembuat ingka tersebut. Dia mampu membuat satu lusin anyaman ingka dalam satu hari dan sepuluh lusin dalam kurun waktu satu bulan. Jenis piring anyaman ingka yang biasa dibuat Mek Ketut, panggilan akrabnya, ada dua yaitu anyaman piring acara dan tempat banten.

Untuk harganya sendiri nenek dari dua cucu ini mematok harga Rp 70 ribu per lusin untuk jenis anyaman yang tidak dipernis dan Rp 100 ribu untuk anyaman yang dipernis, baik yang dipesan di Pulau Bali maupun luar Bali.

Mek Tut hanya membuat ingka bila ada pesanan. Cara pendistribusian juga dilakukan dengan cara pengambilan langsung oleh pembeli ke rumah Mek Tut.

Mek Tut memperlihatkan piring ingka yang selesai dibuatnya. Foto AA Bagus Susrama.

Proses Pembuatan

Adapun proses pembuatan anyaman piring ingka adalah sebagai berikut.

Bagian awal berupa pencarian bahan baku yakni daun kelapa. Ibu tiga anak ini mencarinya sendiri dari pohon-pohon kelapa di sekitar rumahnya. Proses lalu berlanjut ke pemisahan lidi dengan daunnya menggunakan pisau sebagai alat.

Lidi lalu dijemur selama tiga hari dalam keadaan cuaca terik dan lima hari dalam keadaan cuaca kurang bersahabat. Proses penjemuran awal ini bertujuan untuk melemaskan juga mempertahankan warna alami dari lidi.

Langkah selanjutnya mulai menganyam lidi menjadi piring ingka yang dibantu dengan alat gunting khusus. Setelah jadi pun anyaman ingka tersebut dijemur kembali selama satu hari di cuaca terik dan dua hari di cuaca kurang mendukung. Penjemuran kembali ini bertujuan untuk memperpanjang masa pakai.

Ada cara khusus dalam pemakaian agar bisa lebih tahan lama. Cara tersebut dilakukan dengan merendam piring anyaman ingka yang telah selesai dipakai dan dicuci bersih dengan air hangat sekitar 10-15 menit. Kemudian disimpan di dalam katong plastik guna menghindari debu.

Selama 15 tahun membuat anyaman Mek Tut menemui berbagai hambatan baik dari dalam maupun luar. Hambatan dari dalam berupa minimnya stok daun kelapa yang merupakan bahan utama untuk membuat anyaman ingka.

Selain itu, Mek Tut juga sering mengalami sakit atau kesemutan pada bagian tangan.

Hambatan dari luar berupa semakin menipisnya minat masyarakat untuk menggunakan piring tradisional anyaman ingka bila menyelenggarakan suatu acara. Saat ini semakin banyak piring plastik yang menyerupai anyaman ingka dengan harga lebih murah dan masa pakai lebih tahan lama.

Setelah masa pandemi inipun makin banyak kendala dan tantangan. Di antaranya semakin menurun tingkat pemesanan yang diterima Mek tut. Sebelumnya, Mek Tut dapat menjual hingga sepuluh lusin lebih anyaman ingka. Berbeda dengan sekarang. Setelah pandemi ini melanda, pemesanan ingka produksi beliau mengalami penurunan drastis. Bahkan beliau pernah tidak mendapat pesanan sama sekali dalam sebulan.

Namun, beliau tidak pernah berhenti menganyam lidi-lidi tersebut menjadi sebuah piring ingka. Karena kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan Mek Tut dan keluarganya secara turun- temurun. [b]

Catatan: Artikel ini merupakan hasil praktik peserta Kelas Jurnalism Warga Kelompok “Tarik, Sis…” yang beranggotakan Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, Ni Kadek Estu Jendi Phallopy, Anak Agung Bagus Susrama, Ni Kadek Sayu Meliana Suci, Ni Kadek Mita Sintya Sari, dan I Ketut Widi Darmawan.

kampungbet
Tags: Sosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
Next Post
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Tomy Wiria dan Anomali Keberanian di Bali

2 May 2026
Aku Dede, Ini Ceritaku dengan Difabel Sensorik Netra

Refleksi Hari Buruh Bagi Orang dengan Disabilitas Netra 

1 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Aksi Hari Buruh Masih Menyoroti Ketidakadilan bagi Pekerja Pariwisata

Aksi Hari Buruh Masih Menyoroti Ketidakadilan bagi Pekerja Pariwisata

1 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia