• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Mewujudkan Pengungsi Mandiri dan Berdaya

Sang Gede Purnama by Sang Gede Purnama
10 October 2017
in Berita Utama, Opini
0
0
Hingga saat ini ribuan pengungsi masih tinggal di GOR Swecapura salah satu pusat pengungsian di Klungkung. Foto Anton Muhajir.

Ada 141.072 pengungsi di 414 titik sedang menunggu kepastian.

Entah berapa lama lagi status Awas Gunung Agung akan berakhir. Kegiatan pemantauan aktivitas vulkanik terus dilakukan. Alat untuk deteksi dini juga dipasang. Jika ada letusan, akan ada alarm yang berbunyi hingga 2 Km. Terakhir dikabarkan Solfatar Gunung Agung mulai keabu-abuan (Bali Post, 8/10/2017).

Kejadian meletusnya Gunung Agung pada 1963 masih menjadi acuan bagaimana besar dan lamanya gunung ini meletus. Kita semua tidak berharap kejadian itu terulang kembali. Beribu doa dipanjatkan terus untuk kemakmuran Bali ke depan.

Tindakan evakuasi segera saat berstatus Awas sudah sangat baik dilakukan. Menangani ribuan pengungsi yang banyak tentu tidak mudah. Peranan berbagai pihak dan relawan sangat besar dalam memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, toilet umum, dan lain-lain.

Kita tidak tahu sampai kapan akan metelus. Jika meletus akan seberapa lama.

Ke depannya di dalam suasana kejenuhan menunggu maka mewujudkan pengungsi yang mandiri dan berdaya guna diperlukan. Mereka perlu dikembangkan kreativitasnya dalam memasak makanan sendiri, membangun jamban bersama, atau membuat kerajinan yang bernilai ekonomi.

Pengungsi perlu dilatih keterampilan informal agar dapat bermanfaat. Bakatnya juga perlu disalurkan ke berbagai sektor terkait. Pelatihan dapat diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), PKK dan terbuka bagi yang bersedia terlibat.

Hal ini akan membuat mereka tidak jenuh di pengungsian, mampu mendapatkan penghasilan sendiri, mengurangi ketergantungan dari bantuan pemerintah dan orang lain serta mampu menjadi pelatih bagi kelompoknya dalam membuat kerajinan maupun usaha lainnya. Pindah ke tempat baru bukanlah halangan untuk terus berkarya namun kesempatan untuk mengembangkan diri. Mereka harus tetap semangat.

Anggota Komunitas Rumah Berdaya menghibur anak-anak pengungsi di Denpasar. Foto Luh De Suriyani.

Tat Wam Asi

Sejauh ini, masyarakat Bali sudah menerapkan sistem manajemen bencana berbasis masyarakat saat menghadapi status awas Gunung Agung. Dalam Pra Bencana ada empat kegiatan yakni kesiapsiagaan, pencegahan, mitigasi dan deteksi dini.

Dalam hal bencana letusan gunung maka yang perlu diperhatikan adalah menyelamatkan nyawa masyarakat. Pemetaan daerah rawan bencana sudah dibuat. Upaya evakuasi segera dilakukan untuk mengurangi resiko korban jiwa.

Kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana gunung meletus terlihat dengan baik. Mereka bersedia dengan cepat dievakuasi ke tempat yang aman setelah di tetapkan statusnya menjadi awas.

Ini menunjukkan kesadaran masyarakat tinggi dalam mengurangi risiko bahaya. Kalau mereka tidak sadar maka akan sangat sulit untuk melakukan tindakan evakuasi seperti ini. Bisa kita bayangkan mereka harus segera meninggalkan rumah, harta benda bahkan hewan ternaknya.

Peran masyarakat juga sangat besar dalam menyediakan tempat evakuasi. Balai banjar disiapkan dengan segera untuk manampung warga Karangasem. Ada juga yang ikhlas menyediakan rumah kontrakannya, kos-kosan yang kosong, garasi mobilnya, gudangnya untuk menjadi tempat pengungsian.

Kalau tanpa peran serta masyarakat aktif seperti ini sulit juga pemerintah bisa menyiapkan tenda yang ribuan jumlahnya.

Bantuan pemberian sembako, sabun, odol, air mineral, selimut, pakaian, dan gas berdatangan dari seluruh negeri. Masyarakat tanpa komando berbagai instansi dan lapisan turut serta menyumbang uang tunai maupun barang. Secara langsung ke pengungsian maupun dikumpulkan di organisasi dan instansinya.

Bahkan di setiap perempatan dan lampu merah banyak yang meminta sumbangan untuk pengungsi. Ini sudah menunjukan pemahaman kita bahwa bencana bukan saja untuk warga Karangasem namun seluruh Bali.

Para sukarelawan dari berbagai Universitas, Sekolah, tokoh masyarakat, LSM, organisasi masyarakat berdatangan membantu BPBD dalam urusan logistik, dapur umum dan sebagainya. Peranan mereka sangat dibutuhkan.

Konsep Tat Twam Asi sudah diimplementasikan dengan baik. Dalam kondisi kesulitan warga Bali saling membantu meringankan beban para pengungsi. [b]

Tags: Gunung AgungOpiniPengungsiSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sang Gede Purnama

Sang Gede Purnama

Pemerhati kesehatan masyarakat. Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM), Fakutas Kedokteran, Universitas Udayana (Unud) Bali.

Related Posts

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Next Post
Buku-buku Alternatif di Taman Baca Kesiman

Sunyi Senyap Gerakan Literasi di Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Senja Kala Humaniora

14 May 2026
Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia