• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Tolaklah Reklamasi Bali sampai Negeri Perancis

Anton Muhajir by Anton Muhajir
10 December 2015
in Berita Utama, Lingkungan
0
0
Dadang bersama orang Amazon di COP21 Paris. Foto Agung Parameswara.
Dadang bersama orang Amazon di COP21 Paris. Foto Agung Parameswara.

Lima menit menjelang tampil, Dadang Pranoto menyampaikan ide spontan.

“Nanti Mas ngomong tentang Bali Tolak Reklamasi ya. Terus aku nyanyi lagu Bali Tolak Reklamasi. Kita lanjut menyanyi bareng,” katanya. Ide mendadak. Tapi, boleh juga.

Selasa malam kemarin, kami bertemu lagi di Point Ephemere. Bar dan kafe di kawasan Paris Utara ini menjadi tempat pameran video dan foto kampanye If Not Us Then Who?. Tujuan kampanye global ini mendukung perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan hutan di kawasan mereka.

Sebagai musisi dan aktivis, Dadang terlibat dalam kampanye ini. Tidak hanya menjadi gitaris di band grunge Navicula dan vokalis band folk Dialog Dini Hari (DDH), Dadang memang sering terlibat dalam aksi-aksi sosial ataupun lingkungan.

Kali ini, Dadang terlibat pula dalam kampanye If Not Us Then Who?. Hal yang membawanya terbang ke Paris untuk pertama kali. Penampilan di Point Ephemere kemarin yang ketiga kali. Sebelumnya, Dadang sudah tampil solo pada 5 dan 6 Desember 2015.

Saya bertemu Dadang di Paris 6 Desember lalu. Namun, baru kemarin bisa lihat dia tampil. Malam itu, Point Ephemere penuh pengunjung. Tempat ini memang menjadi salah satu tempat kumpul asyik di kawasan Paris Nord. Lokasinya persis di samping sungai kecil Saint Martin.

Namun, pengunjung yang ikut menonton Dadang hanya sekitar 30 orang. Toh, tetap saja terasa aura akrabnya. Maklum, sebagian besar penonton memang kalangan pegiat masyarakat adat yang ikut hadir dalam Konferensi Parapihak terkait Perubahan Iklim (COP) 21 di Paris.

Wakil masyarakat adat yang hadir kemarin termasuk dari Dayak, Indonesia dan suku Amazon, Brazil. Keduanya bercerita tentang perjuangan masing-masing dalam melawan investasi yang didukung pemerintah maupun para preman. Keduanya masih berjuang. Belum berhasil mengusir investasi dari kawasan adat mereka.

Namun, mereka setidaknya membuktikan bahwa masyarakat adat punya kekuatan untuk melawan apa yang mereka anggap akan merusak wilayah mereka.

Cerita dua pejuang masyarakat adat itu menginspirasi Dadang untuk turut serta mengampanyekan perjuangan menolak reklamasi di Bali. Saya jadi korban, ditodong bercerita tentang gerakan ini, seperti halnya dua masyarakat adat dari Kalimantan dan Amazon.

Maka, dengan agak grogi, saya pun maju. Bercerita dalam bahasa Inggris ala kadarnya tentang perjuangan warga Bali menolak reklamasi. Tentang tidak adilnya pembangunan pariwisata di Bali, tentang rencana pembangunan pulau-pulau baru di wilayah konservasi yang justru akan mengancam masa depan Bali.

Sambutannya lumayan. Setidaknya pada tepuk tangan ketika saya jelaskan bahwa perjuangan yang sudah tiga tahun berjalan ini bisa menghentikan laju sementara rencana investasi tersebut.

Setelah itu, kami pun bernyanyi lagu kebangsaan Bali Tolak Reklamasi. Para pengunjung ikut serta menyanyi pada refrain, “Sayang Bali, tolak reklamasi..”

Lagu Bali Tolak Reklamasi menjadi pembuka dari lima lagu Dadang lainnya di Point Ephemere Selasa malam itu. Tentu saja, Dadang juga menyanyikan lagu yang sekarang menjadi anthem gerakan If Not Us Then Who? dengan judul sama seperti gerakan mereka.

Dalam sebuah spontanitas pula, Dadang kemudian berkolaborasi dengan warga adat dari Amazon, Brazil dan musisi dari Ekuador. Meskipun hanya eksperimen, kolaborasi mereka mendapat sambutan meriah dari penonton.

Kampanye If Not Us Then Who. Foto Agung Parameswara.
Kampanye If Not Us Then Who. Foto Agung Parameswara.

Bersikap
Keikutsertaan Dadang yang juga aktivis dalam kampanye perlindungan hutan selama COP21 berawal dari ajakan Handcrafted Films, Indonesia Nature Film Society (INFIS) dan AMAN. INFIS adalah komunitas pembuat film yang fokus pada isu-isu lingkungan dan masyarakat adat.

Nanang Sujana, pendiri sekaligus pembuat film utama INFIS, menceritakan perjumpaan pertamanya dengan Dadang ketika mereka terlibat dalam proyek bersama dalam tur band Navicula di Kalimantan pada 2012. Ketika itu, band Navicula yang memang peduli terhadap isu-isu lingkungan mengadakan tur bersama Greenpeace mengampanyekan perlindungan harimau dan hutan.

Ketika Nanang kemudian terlibat dalam proyek global If Not Us Then Who? yang lebih fokus pada kampanye perlindungan masyarakat adat, dia mengajak Dadang lagi. “Kami butuh figur musisi yang tidak hanya bernyanyi tapi juga bersikap. Menurut kami, Dadang sesuai dengan pilihan tersebut,” katanya.

Dadang pun kemudian terlibat dalam proyek global If Not Us Then Who? yang untuk mengampanyekan cerita-cerita tentang masyarakat adat terutama dalam melindungi hutan. Dadang berkunjung ke beberapa komunitas masyarakat adat di Indonesia termasuk di Toraja, Sulawesi Selatan. Dari kunjungan tersebut, lahirlah lagu karya If Not Us Then Who? yang menjadi semacam lagu kebangsaan gerakan ini.

“Karena saya percaya bahwa jika masyarakat adat terlindungi, maka hutan pasti terselamatkan,” ujar Dadang.

Di Indonesia, kampanye If Not Us Then Who? sendiri melibatkan berbagai komunitas masyarakat adat terutama AMAN. Bersama AMAN, mereka telah merekam dan membagi cerita warga adat dari Pandumaan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara; Desa Setulang, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara; Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat; Kepulauan Aru, Maluku; dan Tobelo Dalam, Halmahera, Maluku Utara.

Bersama cerita masyarakat adat dari Peru, Nikaragua, Kongo, dan negara-negara lain di Amerika Selatan maupun Asia Pasifik, visualisasi tentang perjuangan masyarakat adat tersebut ditampilkan di Point Ephemere hingga 11 Desember 2015 nanti.

Tujuan utama kampanye ini, menurut Nanang, untuk menyampaikan kepada para pihak yang terlibat di COP21 bahwa masyarakat adat harus dilibatkan dalam pengelolaan hutan. “Kalau mau menyelamatkan hutan dunia, warga adat harus diajak terlibat. Sebab merekalah yang selama ini telah melindungi hutan-hutan di Bumi, termasuk Indonesia,” Nanang menambahkan. [b]

Tags: Bali Tolak ReklamasiCOP21Lingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

27 February 2026
Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

18 February 2026
Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

11 February 2026
Next Post
Suara Siswa Green School Bali di COP21

Suara Siswa Green School Bali di COP21

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

13 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia