• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Suara Siswa Green School Bali di COP21

Fadlik Al Iman by Fadlik Al Iman
11 December 2015
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan
0
0
Green School COP 21
Anak-anak Green School melukis di Green Zone COP 21. Foto Fadlik Al-Iman.

Ada yang menarik di ruang publik COP21 di Le Bourget, Paris.

Anak-anak dengan suka cita memberikan inspirasi kepada tamu. Mereka membuat bunga dari sisa botol plastik, melukis, lalu memberikan kanvas serta warna kepada yang membutuhkannya.

Le Boruget merupakan kawasan di timur laut Paris. Sejak dua minggu lalu, kawasan ini menjadi tuan rumah dari sekitar 40 ribu pengunjung dari berbagai dunia. Selama dua minggu, mereka mendiskusikan berbagai solusi untuk mencegah terus meningkatnya suhu Bumi.

Siswa Green School Bali, sekolah yang mengajarkan dan menerapkan prinsip-prinsip lingkungan berkelanjutan, turut serta dalam agenda tahunan ini.

Siswa, orang tua serta guru mereka mengisi kegiatan pada Pertemuan Parapihak terkait Perubahan Iklim ke-21 (COP21) dan Conference of Youth ke-11 (COY11) di Paris.

Target mereka sederhana, untuk meningkatkan serta berkontribusi terhadap perubahan positif di COP21 & COY11 di bawah Konvensi PBB terkait Perubahan Iklim (UNFCCC).

Selama COP21, mereka mengisi ruang pameran di Green Zone, di mana kelompok masyarakat sipil terlibat selama pelaksanaan COP21.

Mereka membawakan tarian di Paris dan berbagi tentang manajemen sampah yakni zero waste. Lewat lukisan mural, mereka memberikan semagat dan gairah mereka untuk COP21 dan COY 11.

Selain dari Green School Bali, peserta lain dalam kegiatan di Green Zone, wilaya di mana , banyak pula kelompok lain. Organisasi seperti kepanduan dan sekolah, berpartisipasi dalam konferensi pemuda. Mereka melakukan kreasi serta menampilkan inisiatif siswa yang berkelanjutan.

Keterlibatan anak-anak sekolah dalam COP21 menjadi hal menarik. Sebab, mereka juga menjadi kelompok yang terkena dampak.

Menurut data Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF), anak-anak mendapat dampak perubahan iklim. Bencana seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas pada akhirnya juga mengakibatkan anak-anak kekurangan gizi serta menimbulkan penyakit lainnya.

Permasalahan terus berlanjut. Pada November lalu, lebih dari setengah miliar anak-anak hidup di daerah. Sekitar 160 juta di antaranya tinggal di daerah dengan kekeringan parah.

Sebanyak 300 juta anak anak berada di bawah garis kemiskinan, diperkirakan sekarang menjadi bertambah. Sebanyak 530 juta anak-anak hidup di zona rawan banjir. Mereka hidup dengan kurang dari $ 3,10 per hari, sementara mereka tinggal di daerah kekeringan.

Karena itulah, pada akhir November sampai pertengahan Desember tahun ini di Paris, para pelajar untuk menyampaikan aspirasinya pada acara COP21 dan COY11, termasuk dari Green School di Bali. Mereka melakukan berbagai macam kegiatan mendukung penyelamatan Planet ini.

Perhatian mereka tentu saja tidak terpisah dari kondisi di Bali.

Tiga anak dari Green School berkomentar tentang berbagai permasalahan di Bali, dari sektor pertanian yang semakin lama semakin hilang lahannya dikarenakan pembangunan. Sebagian besar dikarenakan sektor pariwisata.

Gabrielle, salah satu, siswa Green school mengatakan bahwa industri wisata dan turis telah memberikan dampak terhadap rusaknya alam Bali. Dia memberikan contoh turis-turis yang datang dan tidak memiliki rasa terhadap pelestarian lingkungan. Mereka mengakibatkan terumbu karang akan semakin habis diinjak.

Gabrielle mengajak semua untuk memperhatikan menyelamatkan masyarakat adat khususnya di Bali dan umumnya di Planet ini.
Melati, siswa lain mengharapkan, selama pertemuan COP21 para pemimpin bisa membawa dunia menjadi lebih baik dan berkelanjutan.

Menurut mereka, permintaan pasar global telah mengakibatkan Bali tak lagi seimbang. Belum lagi sistem pengairan Subak banyak terganggu. Air-air juga telah tercemar. Mereka juga mengeluhkan masalah sampah yang semakin tak terkendali penanganannya.

Mereka juga menyoroti hutan bakau dan reklamasi yang membuat Bali tak lagi alami.

Indonesia juga mengalami kekeringan di sebagian daerahnya. Namun, yang menjadikan mata dunia terbelalak adalah permasalahan kebakaran hutan. “Karena kami berasal dari Bali, maka kami berbicara soal kebakaran yang tiap tahun terjadi agar ini menjadi isu internasional di Paris,” kata Elle.

“Semua orang dewasa tahu bahwa pemanasan global sedang terjadi dan mereka perlu meningatkan kewaspadaan soal isu ini,” lanjutnya.

UNICEF menekankan bahwa perubahan iklim berarti lebih banyak kekeringan, banjir, gelombang panas dan kondisi cuaca buruk lainnya. Selain menyebabkan kematian dan kehancuran, bencana-bencana itu juga memberikan kontribusi pada peningkatan jumlah kematian anak-anak, seperti kekurangan gizi, diare demam berdarah dan malaria.

Gabrielle berharap pemerintah segera menginvestasikan energi terbarukan. “Kami ingin pemerintah kami segera mendengarkan suara rakyat, ketimbang mereka menggunakan pandangan mereka sendiri,” lanjutnya.

“Masyarakat itu lebih penting daripada uang,” ungkapnya.

Pada pertemuan di perundingan dibahas bahwa Indonesia sebagai anggota Negara Climate Vulnerables Forum (CVF) mendesak agar dunia menyepakati ambang batas kenaikan suhu global agar diperkecil dari 2 derajat Celsius menjadi 1,5 derajat Celsius, mengingat Negara kita terdapat pulau-pulau kecil yang akan tenggelam.

Negara anggota CVF, seperti Maladewa, Tanzania, Filipina, Vanuatu, Madagaskar, dan Saint Lusia, yang merupakan negara-negara kepulauan, menekankan batas kenaikan 2 derajat belum bisa menyelamatkan mereka.

Dari Bali diharapkan ada inspirasi kecil yang bisa menginspirasi Dunia. Seperti pada siswa Green School yang coba berbagi dengan semangat belajar serta bekerjanya untuk menyelamatkan Planet ini.

Melati siswa Green School menutup obrolan kami dengan mengatakan bahwa dia ingin Negara Negara tidak menggunakan standar ganda, dari pihak negara maju dan negara berkembang. [b]

Tags: COP21Green SchoolLingkunganPendidikan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Fadlik Al Iman

Fadlik Al Iman

Pegiat lingkungan di Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI) Bali.

Related Posts

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Next Post
Kepal Tangan Raksasa Penanda Perlawanan

Kepal Tangan Raksasa Penanda Perlawanan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia