• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, March 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

World Day for Farmed Animals: Merayakan Hewan yang Diternakkan dan Ekosistem

Dinda Mahadewi by Dinda Mahadewi
7 October 2025
in Kabar Baru, Opini, Pertanian
0
0

Oleh: Animals Don’t Speak Human

Hari Hewan yang Diternakkan Sedunia atau World Day for Farmed Animals (WDAF) yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober tiap tahunnya merupakan hari yang didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus dijadikan sebagai kampanye global akan pentingnya kesejahteraan hidup hewan yang diternakkan. Peringatan ini bertujuan untuk menekankan pentingnya pengakuan hewan yang diternakkan sebagai makhluk hidup yang dapat merasakan penderitaan, bukan hanya sekadar hewan sebagai komoditas (Singer, 1990).

Hewan yang termasuk kategori diternakkan adalah sapi, kerbau, kambing, babi, domba, bebek, ayam dan unggas lainnya, serta ikan budidaya. Berdasarkan World Animal Protection (WAP), ada setidaknya 80 miliar hewan darat yang diternakkan. Sekitar 56 miliar diantaranya diternakkan dalam skala industri (factory farming) dan dijadikan komoditas ekonomi untuk pemenuhan produksi hewani seperti daging, susu, telur, maupun produk turunannya. Compassion in World Farming (CIWF) menyebutkan bahwa hewan yang diternakkan rentan mengalami penderitaan yang tak berkesudahan karena adanya permintaan pasar yang tinggi untuk harga produk hewani yang lebih ekonomis sehingga berimplikasi pada industri peternakan untuk menghasilkan produk hewani dalam jumlah besar dan minim biaya, tanpa memperhatikan kesejahteraan hewan yang diternakkan.

Penderitaan yang dialami hewan yang diternakkan

Layaknya manusia dan makhluk hidup lainnya, hewan yang diternakkan pun dapat mengalami penderitaan semasa hidupnya. Praktik-praktik peternakan skala industri seringkali ditemukan melanggar prinsip-prinsip kesejahteraan hewan yang diantaranya: bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari rasa sakit dan penyakit; bebas untuk melakukan perilaku alamiah; dan bebas dari rasa takut dan stress. Dalam praktiknya, prinsip-prinsip tersebut kerap diabaikan. Masalah ini mulai dari proses pemeliharan hewan yang ditempatkan pada kandang sempit, pemberian antibiotik tanpa pengawasan veterinarian, proses transportasi hewan hidup lintas negara hingga menyebabkkan kelelahan, cidera, dehidrasi hingga menyebabkan kematian, serta penyembelihan hewan yang dilakukan serampangan dan tidak etis tanpa memperhatikan keadaan hewan yang diternakkan.

Masalah yang ada dalam sistem peternakan skala industri

Beberapa masalah yang saling berkaitan dengan ekosistem lingkungan dan hubungannya dengan manusia muncul disebabkan oleh industri-industri peternakan yang berorientasi pada produk hewani dalam jumlah yang masif.

  1. Tingkat penderitaan hewan yang tinggi

Peternakan skala industri adalah sistem produksi hewan dengan skala besar dan intensif untuk memaksimalkan hasil produksi dengan menekan biaya operasional dan berorientasi pada kebutuhan pasar. Hewan yang diternakkan ditempatkan dalam ruang yang relatif kecil sehingga pergerakan terbatas dan minim akses ke area terbuka. Untuk pemenuhan nutrisi dan pakan, pakan utama tidak diperoleh dari padang di lokasi ternak melainkan melalui impor pakan ternak. Manajemen lingkungan dan penggunaan antibiotik atau obat pencegah penyakit pada hewan masih luput dari perhatian peternakan skala industri dengan dalih efisiensi dan efektivitas pekerjaan sehingga mengesampingkan kesejahteraan hewan yang diternakkan.

  1. Kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca

Merujuk ke publikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2021, industri peternakan ikut andil dalam menyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK) berupa gas metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Emisi ini bersumber dari sistem pencernaan dan pengelolaan kotoran ternak. Dalam pengelolaan peternakan industri, Novi Mayasari dkk mencatat bahwa peternakan industri masih berfokus untuk mencapai perbaikan kuantitas produksi dan belum dapat menjamin apakah aktivitas produksinya sudah memenuhi kesejahteraan hewan. Dalam konteks ini, hubungan antara kesadaran peternak dalam pemerhatian pengelolaan nutrisi, pencernaan, dan pengelolaan kotoran ternak akan berkontribusi sebagai penyumbang emisi GRK.

  1. Deforestasi untuk ekspansi lahan pakan

Ekspansi lahan untuk kebutuhan industri peternakan berdampak besar terhadap eksistensi lahan hutan. World Resources Institute (WRI) mencatat bahwa dalam skala global, alih fungsi hutan menjadi padang rumput untuk ternak sapi menyebabkan deforestasi sekitar 45,1 juta hektar antara tahun 2001 hingga 2015. Xiaoing Xu dkk, menyebutkan bahwa dalam pengelolaan lahan peternakan dan perubahan penggunaan lahan peternakan berkontribusi sebagai penyumbang emisi GRK sebanyak masing-masing 38% dan 29%.

Interkoneksi kesejahteraan hewan dengan aspek lingkungan dan kehidupan manusia

Kesejahteraan hewan yang diternakkan berkaitan erat dengan aspek-aspek kehidupan. Mulai dari dampaknya ke lingkungan dalam penurunan penggunaan lahan untuk keperluan peternakan. Peternakan yang lebih etis mendorong adanya pengurangan konsumsi berlebih produk hewani dan memberi ruang bagi pangan alternatif berbasis nabati. Hal ini berdampak pada penurunan kebutuhan akan pembukaan lahan untuk pakan ternak. Selain itu, hewan yang diternakkan lebih etis cenderung lebih jarang memerlukan antibiotik dalam jumlah yang besar. Pengurangan penggunaan antibiotik dapat pula memengaruhi tingkat polusi farmasi di tanah dan perairan.

Penggunaan antibiotik berlebihan merupakan penyebab utama resistensi antimikroba (AMR) yang berdasarkan pernyataan WHO adalah ancaman kesehatan global serius. Peningkatkan kualitas sistem peternakan dan pemerhatian kesejahteraan hewan akan turut berefek positif pada penurunan risiko penyebaran penyakit zoonosis. Kesadaran akan kesejahteraan hewan pun ikut andil dalam mendorong masyarakat untuk lebih sadar pada pola makan berkelanjutan dan transisi menuju nutrisi nabati (plant-based nutrition) yang terbukti dalam artikel Biomed Center bermanfaat bagi kesehatan jantung, kanker, diabetes tipe 2, dan penurunan risiko kematian dini.

WDFA menjadi hari penting untuk merefleksikan kembali hubungan hewan yang diternakkan, lingkungan, dan manusia serta dampaknya untuk ekosistem global dan pola konsumsi yang berkelanjutan. Dengan tumbuhnya kesadaran akan penderitaan yang dialami hewan, mengetahui hak dan kebutuhan mereka, kontribusi industri peternakan terhadap kesejahteraan hewan, masyarakat mempunyai akses informasi dan pilihan untuk mendorong sistem pangan dan peternakan yang lebih etis, adil, dan berkelanjutan.

Nutrisi nabati sebagai alternatif pangan

Menurut Laporan PBB, pertumbuhan populasi dunia diproyeksikan akan mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050. Dengan adanya bonus demografi tersebut, kebutuhan akan pangan akan serta meningkat.

Eksplorasi sumber nutrisi alternatif diperlukan di saat meningkatnya kebutuhan pangan global. Kebutuhan pangan yang meningkat utamanya pangan berbasis hewani mendorong intensifikasi industri peternakan yang berimplikasi ke banyak sektor kehidupan. Sumber nutrisi nabati menjadi alternatif utama yang relevan tidak hanya bagi kesejahteraan hewan, namun juga keberlanjutan ekosistem dan kesehatan manusia.

PubMed menyebutkan bahwa secara umum pola makan nabati menunjukkan jejak kerusakan lingkungan yang lebih rendah. Transisi menuju pola makan nabati turut andil dalam menekan emisi GRK, berkurangnya area tutupan lahan hutan akibat deforestasi, dan permintaan akan kebutuhan hewani dari praktik industri peternakan yang tidak mengedepankan kesejahteraan hewan.

sangkarbet sangkarbet
Tags: dampak ternakhewan yang diternakkanOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dinda Mahadewi

Dinda Mahadewi

Related Posts

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Mesin Tap Trans Metro Dewata Sering Galat

Perang dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

3 March 2026
Kepsek Arogan, Siswa Kehujanan

Ironi Mewahnya Vila-vila dan Kondisi Sekolah Negeri di Bali

17 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
Next Post
Mural, Suara Protes di Jalanan

Mall Sebagai Cermin Paradoks Bali Modern

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia