• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, July 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Waspadai Puncak Epidemi Bulan Ini

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
16 May 2009
in Kabar Baru
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Siklus puncak epidemi demam berdarah kembali terjadi pada bulan Mei ini. Hal yang terus berulang selama lima tahun terakhir, tanpa menunjukkan perubahan pola penanggulangan dari pemerintah.

Korban kalangan pejabat terakhir yang terinfeksi adalah Alit Kesuma Kelakan, mantan wakil Gubernur Bali. Kelakan kini menang dalam Pemilu 2009 sebagai anggota dewan perwakilan daerah (DPD) Bali sebagai peraih suara terbanyak. “Demam berdarah salah satu penyakit mematikan dan korbannya pun harus dirawat lama,” ujarnya.

Kelakan meminta Dinas Kesehatan lebih serius membuat program pencegahan DBD. “Beban biaya kesehatan akibat DB sangat tinggi, apalagi bagi warga miskin,” tambahnya.

Data RS Sanglah Denpasar, sebagai pusat rujukan mencatat setiap bulan terjadi peningkatan jumlah pasien baru selama 2009 ini. Pada Januari, pasien baru berjumlah 179 orang, kemudian 286 orang pada Maret, lalu 373 pasien baru pada April. Baru lima hari di bulan Mei, jumlah pasien baru yang masuk sudah 66 orang.

“Sepertinya bulan Mei kembali menjadi puncak pasien DB di Sanglah,” ujar dr. Ken Wirasandhi, Kasi Pelayanan Medik RS Sanglah.

Pasien di Sanglah datang dari berbagai kabupaten di Bali, terutama stadium DB tinggi yang tidak mampu ditangani rumah sakit daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Bali dr. I Nyoman Sutedja mengakui tren puncak epidemi tiap tahunnya sudah terdeteksi karena selalu sama dalam 5 tahun terakhir. Masa puncak terjadi mulai Februari sampai Mei.

Ia mengakui program pengasapan atau fogging ternyata tidak efektif untuk membunuh jentik nyamuk penyebab DB seperti yang dilakukan selama ini. “Kami akan memprioritaskan program pemusnahan jentik dengan petugas pemantau jentik atau jumantik tahun depan,” katanya.

Sutedja akan mengikuti strategi pemerintah Kota Denpasar yang menyediakan jumantik lima orang per desa. “Denpasar tahun ini berhasil mengurangi kasus DB, dari 294 kasus menjadi hampir setengahnya,” ujarnya.

Pemberantasan nyamuk menurutnya sangat tergantung kualitas lingkungan. Kerusakan lingkungan di Bali seperti peningkatan sampah dan alih fungsi lahan produksi menjadi trigger berkembangnya jentik nyamuk aedes agepty.

“Daerah-daerah yang terlantar karena sawah sudah tak produktif menjadi sumber berkembangnya nyamuk ini karena banyak genangan air yang tidak diawasi,” kata Sutedja.

Epidemi DB lima tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan. Pada 2004, kasus DB di Bali berjumlah 1890, lalu pada 2005 sebanyak 3594, meningkat menjadi 5631 (2006). Puncaknya adalah pada 2007 ketika Bali dalam status kondisi luar biasa DB dengan 6375 kasus.

Tags: DenpasarKesehatan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Next Post

Tempat Nongkrong Para Kalong

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Kota Makin Padat dan Tanah yang Kian Sulit Dijangkau

6 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Penganugerahan Olimpiade Jurnalis Muda Pertama di Indonesia di AJW 2026

Penganugerahan Olimpiade Jurnalis Muda Pertama di Indonesia di AJW 2026

5 July 2026
Anak Muda dan Peristiwa 65: Tidak Seperti di Buku Pelajaran dan Study Tour

Romantisme Pulang: Kisah Kelam 1965 yang Tersensor

4 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia