• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, September 25, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Surga untuk Turis Bukan untuk Warga

Anton Muhajir by Anton Muhajir
20 May 2009
in Opini
0
0

Oleh Anton Muhajir

jalan-rusak

Dua penghargaan penting diperoleh Bali pada dua bulan terakhir. Pertama adalah sebagai Pulau Wisata Terbaik se-Asia Pasifik versi majalah pariwisata Destinasia. Majalah yang berpusat di Hongkong itu memilih Bali sebagai pulau terbaik berdasarkan polling pembaca di Hongkong, Singapura, Thailand, India, Malaysia, Australia, Taiwan, dan negara-negara di Timur Tengah.

Kedua, pada Maret lalu, Bali juga dinyatakan sebagai Pulau Spa terbaik di dunia. Pemberi penghargaan kali ini adalah majalah kebugaran Senses. Penghargaan ini meneguhkan bahwa Bali adalah pulau wisata dengan pelayanan spa terbaik di dunia.

Penghargaan-penghargaan itu makin meneguhkan citra Bali adalah surga. Tapi surga untuk siapa?

Dua penghargaan di atas diperoleh karena Bali dianggap memberikan pelayanan terbaik pada turis. Yap, pada turis. Tapi sudahkah Bali memberikan pelayanan terbaik untuk warganya. Sepertinya belum.

Kita bisa memeriksanya pada fasilitas publik. Fasilitas yang paling banyak digunakan warga adalah jalan raya. Masih banyak jalan raya rusak parah di Bali.

Dua contohnya adalah jalan Gatsu I di daerah Denpasar Utara dan jalan Tukad Sempol di Denpasar Selatan. Dua jalan ini sering saya lewati. Kalau jalan Gatsu I malah hampir tiap hari. Jalan sepanjang sekitar 1 km ini rusak bukan kepalang. Di banyak tempat, jalan ini penuh lubang.

Seinget saya baru awal tahun lalu jalan ini diperbaiki dengan aspal baru. Tapi dalam hitungan bulan, jalan ini sudah rusak lagi. Ketika sisa pembakaran aspal saja masih ada di salah satu sisi, jalan ini sudah hancur lagi.

Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tapi sepertinya karena terlalu banyaknya truk pengangkut masuk di jalan ini. Di sepanjang jalan ini ada belasan gudang barang dagangan seperti sabun, snack, makanan, dan lain-lain. Truk-truk besar dengan jalur Jawa – Bali ini beratnya sampai 20 ton. Ini saya lihat dari keterangan di samping baknya.

Dengan berat sampai 20 ton, truk-truk itu melewati jalan dengan kualitas pas-pasan hampir tiap hari Setahuku tiap jalan kan ada jatah penggunaannya sendiri. Tapi di sini tidak. Maka truk-truk itu dengan seenaknya keluar masuk jalan yang sebenarnya hanya untuk perumahan tersebut. Fasilitas publik pun jadi hancur.

Jalan lain yang rusak adalah jalan Tukad Sempol di Denpasar Selatan. Saya sering lewat jalan ini kalau dari jalan Kerta Dalem ke jalan Tukad Badung. Sudah sejak sekitar tiga tahun lalu saya lewat jalan ini tapi ternyata tetap saja hancur.

Sepertinya jalan inilah yang paling hancur dari sekian jalan di Denpasar. Lubangnya tak lagi hanya sekadar hancur tapi sudah seperti lembah. 🙂 Makanya kalau naik motor lewat jalan ini sudah kayak lewat jalur motor cross. Atau kalau naik mobil akan terasa seperti naik kapal kena gelombang. Bergoyang terus sepanjang jalan.

Fasilitas publik lain yang bisa dilihat adalah trotoar. Saya lihat di beberapa jalan besar di Denpasar, trotoar di Bali rusak parah. Ini sih terlalu banyak contoh. Sebut saja nama jalan besar lalu cek trotoarnya. Bisa dipastikan kalau tidak berlubang, maka trotoar itu akan bergelombang. Trotoar yang seharusnya membuat nyaman pejalan kaki belum berfungsi sebagai mana layaknya.

Parahnya lagi, trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki itu malah dipakai untuk parkir mobil, parkir motor, atau tempat jualan dagangan. Di Kuta misalnya kita sebagai pejalan kaki harus mengalah sama pedagang yang sudah mengkapling trotoar itu.

Soal trotoar ini saya baca di Bali Post dan Denpost beberapa hari lalu sampai dipersoalkan sama anggota Dewan. Syukurlah kalau mereka mempersoalkannya.

Kalau dicek lagi, masih banyak lagi fasilitas publik di Bali yang belum ramah sama warganya. Transportasi publik, ruang terbuka, lampu jalan, pembuangan sampah, dan buaaanyak lagi yang lain. Fasilitas publik di Bali masih banyak yang amburadul.

Tags: OpiniPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Bugbug, Wilayah Frontier, dan Tubuh yang Dikorbankan

17 September 2026
Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

16 September 2026
Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Next Post
Gaya Baru PKB Tahun Ini

Gaya Baru PKB Tahun Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Jika Kebijakan Lambat Merespon Keamanan Pejalan Kaki, apa yang Bisa Dilakukan Warga?

Jika Kebijakan Lambat Merespon Keamanan Pejalan Kaki, apa yang Bisa Dilakukan Warga?

24 September 2026
Menelusuri Bali Lewat Permainan di SAKA Museum

Menelusuri Bali Lewat Permainan di SAKA Museum

23 September 2026
Agama Tirta, Bagaimana jika Ritual Tanpa Air?

Agama Tirta, Bagaimana jika Ritual Tanpa Air?

22 September 2026
Okamaha Meluncurkan Album Sunset Economy

Okamaha Meluncurkan Album Sunset Economy

20 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia