
Yayasan Kino Media menghadirkan kembali Festival Film Kemanusiaan (FFK) yang pada tahun keempatnya setia menjadi ruang untuk mendiskusikan film yang menyuarakan tema-tema kemanusiaan termasuk lingkungan hidup, kesetaraan gender, isu minoritas, dan keberagaman. Kehadirannya di bulan Desember setiap tahun sejak tahun 2022, sekaligus ikut memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang jatuh pada 10 Desember.
“Film dapat menghibur dan sekaligus membawa pesan dan peluang untuk berdiskusi. Film-film yang dipilih untuk FFK tahun 2025 menyuarakan suara perempuan dan anak perempuan,” ungkap I Made Suarbawa, ketua Yayasan Kino Media perihal fokus pilihan film tahun ini.
FFK 2025 menyusun program yang terdiri dari film-film dengan kedekatan tema pada isu perempuan, yang terdiri dari tiga film panjang dan lima judul film pendek yang terangkum dalam satu program. Film yang dihadirkan hasil kerjasama dengan Movies that Matter adalah sebuah film dokumenter berjudul Mediha (2023, sutradara Hasan Oswald) tentang kekerasan terhadap anak perempuan di Irak Utara. Dua buah film fiksi panjang Indonesia yang akan diputar tahun ini adalah Seribu Payung Hitam (2025, sutradara Erwin Arnada) dan Jayaprana Layonsari (2024, sutradara Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma). Seribu Payung Hitam mengisahkan Sawitri, aktivis lingkungan yang gigih dalam berjuang melawan privatisasi air di desanya. Dalam perjuangannya, ia terlibat dalam aksi yang menarik perhatian publik dan media internasional. Jayaprana Layonsari akan dibahas di FFK 2025 menyoroti bagaimana tubuh dan pilihan perempuan dikorbankan demi hasrat dan stabilitas kekuasaan, ketika tradisi dan otoritas meniadakan suara perempuan dalam menentukan nasibnya sendiri.
“Kami mengundang masyarakat dari segala latar belakang untuk membicarakan kembali perspektif kemanusiaan kita dari film pilihan FFK tahun ini karena nilai-nilai kemanusiaan selalu dinamis,” ujar Edo Wulia selaku direktur FFK 2025.
Untuk program film pendek, akan menghadirkan karya film dari UNiTE Short Film Fellowship 2025 yang baru saja diputar untuk publik pada 5-7 Desember 2025 lalu di Jakarta. UN Women, UNFPA, Siklus Indonesia, dan Minikino, dengan dukungan Global Affairs Canada serta bekerja sama dengan ILO, UNDP, UNESCO, UNIDO, UN Volunteers, dan WHO, meluncurkan UNiTE Short Film Fellowship pada Oktober 2025. Program ini mengundang para pembuat film untuk mengirimkan konsep cerita dan memproduksi film berdurasi lima hingga lima belas menit dengan tema kekerasan terhadap perempuan dan/atau anak perempuan.
Lima pembuat film terpilih telah mengikuti lokakarya penguatan kapasitas untuk memperdalam pemahaman mereka mengenai isu kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sebelum memulai produksi pada November. Karya mereka pertama kali diluncurkan pada 5 Desember 2025 untuk menandai kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Kelima film pendek ini menangkap kisah solidaritas dan pemberdayaan, serta menjadi suara perubahan dalam menghadapi tantangan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk dengan memicu diskusi mengenai norma sosial yang selama ini menormalkan kekerasan berbasis gender.
Fotome (2025) karya sutradara Vera Isnaini mengungkap dampak kekerasan berbasis digital terhadap perempuan muda, ketika tubuh dan privasi mereka dieksploitasi tanpa persetujuan di ruang publik daring. Malam Sepanjang Nafas (2025) karya sutradara Irwan Sebleku menyoroti perjuangan seorang perempuan menuntut keadilan atas kekerasan seksual dalam lingkaran keluarga dan kuasa lokal yang membungkam korban. DiRIAS Perias (2025) karya sutradara Eman Memay Harundja menghadirkan ruang intim persahabatan sebagai bentuk perlawanan perempuan cis dan trans terhadap perjodohan, penolakan keluarga, dan norma yang menekan pilihan hidup mereka. Potret (2025) karya sutradara Reni Apriliana mempertanyakan relasi kuasa dalam industri kreatif, saat seorang perempuan dihadapkan pada pilihan antara ambisi karir dan batas atas tubuh serta rasa aman dirinya. Busa-busa di Piring (2025) karya sutradara Fala Pratika memotret trauma masa kecil dan solidaritas anak perempuan yang tumbuh dalam ruang keluarga yang menyimpan luka dan keheningan.
FFK 2025 akan berlangsung pada 12–13 Desember 2025 di MASH Denpasar Art House Cinema, yang dapat ditonton secara gratis, namun harus melakukan registrasi agar mendapat slot tempat duduk.
“MASH Denpasar art house cinema dirancang khusus untuk memberi ruang pada film, percakapan, dan pengalaman menonton yang lebih dekat dan lebih jujur,” kata Fransiska Prihadi, arsitek sekaligus co-founder MASH Denpasar.
Informasi lebih lanjut mengenai FFK 2025 dapat diakses melalui laman resminya di website Yayasan Kino Media, https://kinomediafoundation.org/ffk/ dan juga melalui sosial media https://www.instagram.com/kemanusiaanfilmfest/
aafikotasarni.org sangkarbet


![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)




