
Di antara asap dupa yang mengepul dan lantunan kidung yang mengalun, terdapat pergeseran makna dalam praktik beryadnya. Pura yang dahulu menjadi ruang sunyi dan trepti bagi ketulusan, kini terasa seperti panggung sosial tempat pandangan saling menilai dan membandingkan. Kebaya yang dikenakan, kamen yang dililitkan, hingga aksesoris yang disematkan, seolah menjadi tolok ukur kelayakan seseorang berada di hadapan yang Maha Agung. Apakah ketulusan memerlukan pembuktian estetika? Ketika gaya mulai mendominasi, lascarya dan nasmita yang sejatinya menjadi inti dari bhakti perlahan meredup di balik gemerlap aksesoris yang dikenakan.
Dalam ajaran agama Hindu, Yadnya dipahami sebagai pengorbanan suci yang dilakukan dengan ketulusan, keikhlasan, serta rasa kasih yang berlandaskan bhakti sejati kepada Ida Sang Hyang widhi Wasa (Ningrat & Somawati, 2022). Konsep ini tidak hanya merujuk pada tindakan ritual, melainkan juga mengandung prinsip moral bahwa setiap persembahan seharusnya dilandasi dengan ketulusan batin tanpa berorientasi pada penilaian sosial maupun kepentingan personal. Dalam pelaksanaannya, terdapat 7 syarat penting untuk mewujudkan yadnya yang satvika. Syarat tersebut meliputi Sraddh?, Lascarya, ??stra, Dak?i?a, Mantra dan G?ta, Annasewa, serta Nasmita (Yadnya dkk., 2025).
Dalam kerangka tersebut, lascarya yang bermakna keikhlasan batin dan nasmita berarti kesederhanaan menjadi prinsip penting yang menegaskan bahwa nilai yadnya tidak terletak pada kemegahan estetika melainkan kemurnian niat dan ketulusan batin pelaksana (Trisnayani, 2025). Namun, perkembangan sosial menunjukkan adanya ironi yakni salah satunya tren berbusana adat ke pura yang semakin menyerupai kompetisi gaya dan simbol status sosial (Suksma & Widana, 2021). Busana adat yang seharusnya merepresentasikan kesucian dan ketertiban ritual, justru berpotensi menjadi sarana membangun citra diri. Pemilihan kebaya terbaru, motif kamen tertentu, maupun aksesori yang mencolok dapat menjadi bagian dari strategi pembentukan kesan sebagai individu yang modern, mampu, trendi, atau tampak lebih religius.
Realitas sosial ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana esensi beryadnya masih dipertahankan ketika praktik beragama mulai dibayangi konstruksi sosial terkait citra diri dan penerimaan publik. Pergeseran orientasi tersebut tidak hanya menggambarkan perubahan preferensi estetika, tetapi juga mengindikasikan transformasi nilai yang lebih halus dan mendasar. Pelaksanaan ritual yang seharusnya berlandaskan pengendalian diri, kesederhanaan, dan ketulusan, kini diinterpretasikan melalui lensa penampilan, tren, eksklusivitas material (Suarjaya, 2018). Dalam kondisi demikian, pengalaman spiritual berpotensi tergeser oleh keresahan mengenai persepsi sosial terhadap diri.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui dinamika psikologis berupa social comparison dan impression management. Teori perbandingan sosial menjelaskan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya dengan membandingkan pada orang lain (Dinata & Pratama, 2022). Keinginan untuk tampil sesuai standar estetika tertentu agar dianggap layak atau sesuai dengan norma kolektif merupakan bentuk impression management (Versigny, 2018). Melalui perspektif dramaturgi, individu akan mengelola informasi tentang dirinya melalui pemilihan busana, gaya penampilan, hingga kebiasaan untuk menciptakan pengaruh tertentu terhadap penilaian orang lain (Amelia & Amin, 2022). Namun, jika ditinjau dari perspektif ajaran Hindu, pelaksanaan yadnya adalah proses internal yang mengutamakan pembersihan batin, bukan menekankan pada kompetisi gaya (Witarni, 2024). Ketika estetika dijadikan indikator kualitas keberagamaan, maka akan menimbulkan ketimpangan antara manifestasi lahiriah dan makna yang seharusnya dihayati.
Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menolak keberadaan estetika dalam berbusana ke pura, sebab estetika telah lama menjadi bagian dari ekspresi budaya Bali. Namun ketika estetika (kemegahan) menjadi dominan dan mampu menggeser nilai lascarya dan nasmita, maka penting adanya evaluasi praktik ritual agar tidak terjebak dalam budaya simbolik yang dangkal. Mengembalikan yadnya pada ketulusan niat dan kesederhanaan merupakan langkah penting untuk menjaga kesucian ritual serta memastikan ruang spiritual tetap menjadi tempat hadir apa adanya tanpa tekanan penilaian (Witarni, 2024).
Melihat dinamika tersebut, penting bagi masyarakat Hindu Bali untuk merefleksikan bagaimana praktik beragama dapat bergeser tanpa disadari. Tren berbusana yang terus berkembang bukanlah masalah secara inheren, karena budaya Bali memang kaya akan estetika dan ekspresi visual (Sari dkk., 2024). Namun, ketika estetika memperoleh porsi berlebih hingga dijadikan tolok ukur keberadaan diri dalam ruang suci, maka terjadi pergeseran makna yang tidak mencolok tetapi berdampak penting.
Pura perlahan berubah menjadi tempat di mana penampilan memperoleh porsi lebih besar daripada ketulusan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran kritis untuk meninjau kembali konsep dasar yang menuntun umat menuju ketertiban batin. Menempatkan kembali lascarya sebagai ketulusan tanpa pamrih dan nasmita sebagai kesederhanaan yang merendahkan ego membantu memahami bahwa isu ini bukan sekadar soal layak atau tidak dalam berbusana, melainkan tentang sejauh mana niat dan tujuan spiritual masih selaras dengan tindakan yang kita tampilkan (Suksma dkk., 2020).
Busana adat yang baik bukan ditentukan oleh kemewahan, tetapi oleh kebersihan, kerapian, dan kesopanan yang mendukung keselarasan antara niat suci dan perilaku ritual. Dengan memahami prinsip tersebut, pemilihan busana ke pura tidak lagi dibebani tuntutan sosial seperti kebaya baru, aksesori mahal, atau motif kamen yang menunjukkan status sosial (Suksma & Widana, 2021).
Pergeseran makna dalam beryadnya ini sejatinya mengajak setiap individu untuk bertanya kepada dirinya sendiri “Untuk siapa persembahan ini dilakukan?” Jika ruang suci kian dipenuhi kecemasan mengenai tampilan diri dibandingkan kesiapan batin, maka terdapat sesuatu yang telah bergeser. Lascarya dan nasmita bukan sekadar konsep lama dalam kitab atau wacana adat, keduanya adalah penuntun/pedoman agar umat tidak tersesat dalam tuntutan simbolik dan sosial yang terus berubah.
Maka mengkritisi kembali ajaran tersebut bukan berarti menolak perkembangan budaya, tetapi menegaskan kembali bahwa spiritualitas tidak ditentukan oleh kemewahan yang dikenakan, tetapi oleh ketulusan niat. Dengan demikian, ruang suci akan tetap suci dan yadnya akan tetap menjadi sujud bhakti sejauh individu mampu menjaga ketulus ikhlasan diri bukan menjaga kompetisi gaya. Sebab sebelum orang lain melihat pakaian kita kenakan, Yang Maha Kuasa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melihat apa yang kita niatkan sebelum ke tempat suci.
REFERENSI
Amelia, L., & Amin, S. (2022). Analisis self-presenting dalam teori dramaturgi Erving Goffman pada tampilan Instagram mahasiswa. Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, 1(2), 173–187.
Dinata, R. I., & Pratama, M. (2022). Hubungan antara social comparison dengan body image dewasa awal pengguna media sosial TikTok. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 4(3), 68–76.
Sari, A. R., Candrayana, I. B., & Adityasmara, F. (2024). Pemotretan pakaian tradisional adat Bali dalam karya fotografi prewedding di Maxhelar Photography. Retina Jurnal Fotografi, 4(1), 31–43.
Suarjaya, I. W. (2018). Penyederhanaan ritual sebagai alternatif beragama Hindu di era saat ini. Pangkaja: Jurnal Agama Hindu, 21(2).
Suksma, I. G. W., Widana, I. G. K., & Winantra, I. K. (2020). Ritual Hindu dalam perspektif kontemporer. Widyanatya, 2(1), 62–71.
Suksma, I. G. W., & Widana, I. G. K. (2021). Degradasi etika busana sembahyang umat Hindu. Widyanatya, 3(1), 13–21.
Trisnayani, N. N. (2025). Implementasi ajaran filsafat keugaharian dan konsep lascarya dalam pelaksanaan yajna agama Hindu. Pratyaksa: Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial, dan Humaniora, 1(2), 306–315.
Versigny, V. (2018). Memahami impression management pada selebsmule. Jurnal Egaliter.
Witarni, N. P. (2024). Konsep yadnya dalam Mahabharata. ?ruti: Jurnal Agama Hindu, 4(2), 215–224.
Yadnya, S. R., Dewi, N. L. S. A. R., Patni, G. A. S., Saridewi, D. P., Zaenab, S., & Yadnya, M. S. (2025). Program persembahyangan acara piodalan Banjar Dharmayasa Monjok Mataram Lombok oleh Pascasarjana Ilmu Komunikasi IAHN Gde Pudja Mataram. Jurnal Gema Ngabdi, 7(2), 225–235. https://doi.org/10.29303/jgn.v7i2.594
aafikotasarni.org sangkarbet







