• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 1, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

PKB belum Melahirkan Kritikus Seni

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
5 July 2009
in Budaya, Opini
0
6

Gong Kebyar Anak-anak.

Teks Darma Putra, Foto Ary Bestari

Peran Pesta Kesenian Bali (PKB) dalam merevitalisasi dan mengembangkan kesenian Bali tidak perlu diragukan lagi. Sejak digelar setiap tahun mulai 1979, PKB telah mencetak sekian banyak seniman.

Namun, yang terasa kurang adalah PKB belum melahirkan kritikus seni. Tulisan tentang PKB di koran sejak dulu lebih banyak menyoroti aspek pelaksanaan PKB, sementara ulasan aspeek seni dari seni pertunjukan bersifat superficial, permukaan.

Bali kaya akan kesenian tetapi hampir tidak memiliki kritikus seni. Pentas seni semarak, tapi kritik seni sepi jampi. Ini merupakan paradok.

Langkanya kritik seni di Bali mungkin terjadi karena faktor budaya ketimuran yang didominasi adat memuji daripada mengkritik. Kritik dianggap sesuatu yang negatif, padahal tidak semua kritik adalah celaan.

Era reformasi mulai mengubah karakter budaya ketimuran kita karena sejak era ini publik mulai berani angkat bicara lewat berbagai forum seperti interaktif di radio dan TV. Kondisi ini adalah momentum yang baik untuk menumbuhkan budaya kritik termasuk kritik seni.

Kritikus Seni
Kritikus seni adalah pengamat yang selalu mencurahkan perhatiannya untuk memikirkan dan membuat ulasan-ulasan tentang kesenian, entah seni rupa atau seni pertunjukan. Kritikus seni penting setidak-tidaknya untuk tiga hal berikut. Pertama, membantu masyarakat meningkatkan apresiasi terhadap karya seni lewat ulasan yang kritis, dalam, dan komprehensif.

Kedua, kritikus bisa memberikan motivasi atau tantangan lewat pujian dan kritik kepada seniman untuk meningkatkan kreativitasnya.

Keengganan berkarya bisa menjangkiti seniman kalau apa yang mereka tampilkan kurang mendapat tanggapan. Sebaliknya, seniman yang baik bisa tertarik meneruskan kreativitasnya kalau karya mereka diperhatikan, diulas kekuatan dan kelemahannya. Kritik yang baik adalah yang menggali mutiara terpendam dari suatu karya bukan melancarkan rasa dendam.

Ketiga, kritik seni dapat menyemarakkan wacana sosial dan memproduksi pengetahuan sejarah kesenian.

Dulu lontaran-lontaran tajam tentang PKB sering datang dari Prof I Gusti Ngurah Bagus (alm) tetapi sejak kepergian beliau tahun 2003, lontaran-lontaran yang melecut kreativitas seni nyaris senyap.

Situasi ini tidak bisa dibiarkan tetapi baik kiranya disiasati dengan cara membangun kondisi yang memungkinkan lahirnya kritikus seni. Harapannya agar lahir penulis seperti Putu Setia, Gde Aryantha Soethama, Fajar Arcana, dan Wayan Juniarta (berprofesi seperti wartawan), Prof I Wayan Dibia, Kadek Suartaya, dan Kun Adnyana (kalangan akademik, kebetulan semuanya dari ISI).

Rancang lewat PKB
PKB bisa dijadikan arena untuk merangsang lahirnya kritikus seni. Salah satu caranya adalah dengan mengadakan lomba menulis ulasan seni-seni pertunjukan (dan juga seni visual) yang dipentaskan di arena PKB.

Selama ini, lomba tulisan tentang PKB melibatkan para wartawan atau penulis umum yang karyanya dimuat di koran. Lomba ini dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali . Program ini tentu saja pantas terus dilanjutkan, tetapi dalam rangka melahirkan kritikus seni yang baru dari kalangan generasi muda, perlu dirancang program secara strategis yang melibatkan siswa SMA dan mahasiswa.

Untuk lomba ulasan seni PKB tingkat SMA, Panitia PKB bisa menjalin kerja sama dengan pihak Diknas. Untuk lomba kategori mahasiswa, Panitia PKB bisa menghubungi pihak universitas yang ada di Bali .

Di Bali ada sejumlah universitas yang memiliki program seni dan budaya, seperti Faksas Unud, ISI, IHD, Undiksha Singaraja, IKIP PGRI, Dwijendra, Mahasaraswati, dan seterusnya. Di sana tentu terdapat sejumlah mahasiswa yang bisa dirangsang untuk ikut lomba menulis kritik seni pertunjukan PKB.

Dengan mengadakan lomba menulis kritik seni, PKB akan dapat mendorong lebih banyak generasi muda khususnya calon peserta lomba untuk menonton PKB secara serius. Tanpa menonton, tentu mereka tidak bisa membuat ulasan yang baik.

Lomba bisa dikemas dengan apik, baik lewat pemberian hadiah yang memikat dan pelaksanaan yang kompetitif. Misalnya, nominasi unggulan peserta bisa diminta untuk presentasi hasil ulasannya di depan juri sehingga tidak ada keraguan untuk memberikan mereka juara kalau memang baik, sekaligus menghindari peserta sistem joki. Di luar itu, kegiatan presentasi merupakan intellectual exercise alias latihan intelektual tersendiri khususnya mengasah keterampilan berbicara di depan audiens.

Kalau dalam sekali PKB ada peserta lomba kritik seni sekitar 50 orang (masing-masing 25 untuk pelajar dan mahasiswa), maka dalam lima tahun PKB, kita bisa optimistis dapat melahirkan sejumlah kritikus seni Bali yang baik.

Seperti halnya seniman dan profesi lain, kritikus pun memerlukan tiga hal, yaitu bakat alam, intelektualitas, dan kerja keras. Kalau bakat dibawa dari lahir, dua prasyarat lainnya yaitu intelektualitas dan kerja keras bisa dilatih dan diasah secara strategis antara lain melalui lomba.

Pendek kata, pesta seni sebaiknya tidak sebatas menjadi pesta bagi seniman dan bagi masyarakat tetapi juga pesta bagi kritikus seni yang bisa menjembatani keduanya dalam meningkatkan kualitas kreativitas dan apresiasi nilai seni budaya!

-Tulisan ini dimuat dengan judul berbeda di tabloid Tokoh, Minggu 5-11 Juli 2009.

Tags: BudayaOpiniPKB
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Lahir, besar, dan tinggal di Padangsambian, Denpasar. I need 1000 dollars now. Pernah tinggal di Brisbane, Australia (1998-2002; 2007-2009). Saat ini Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya sekaligus Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Related Posts

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Internet Membuat Mereka Lupa Daratan

Internet Membuat Mereka Lupa Daratan

Comments 6

  1. intothepresence says:
    16 years ago

    Support the world of arts is meaning we have building national character, well done my friends.

    Reply
  2. Harry Sue says:
    16 years ago

    sebenarnya gus dur alm sudah cukup

    Reply
  3. eric says:
    16 years ago

    mantap!!!
    🙂
    salam kenal..

    Reply
  4. utari says:
    16 years ago

    PKB hrs punya sosok pengganti Gus Dur

    Reply
  5. Kojeje says:
    16 years ago

    Pak Gus Dur emang harusnya nyari regenerasi dulu nih…

    Reply
  6. Yande says:
    15 years ago

    Susah jadi kritikus, enga dapat uang malah dapat musuh. Tidak semua orang bisa menerima kritik dan saran dari orang lain.

    Reply

Leave a Reply to Yande Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

30 April 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia