• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Perubahan Anak-anak dalam Empat Generasi di Meksiko

Diah Dharmapatni by Diah Dharmapatni
8 September 2014
in Kabar Baru, Pendidikan
0
0

Apa rasanya menjadi anak-anak dari generasi sebelumnya ke generasi sekarang ini?

Prof. Yolanda Corona Caraveo menjawabnya dalam Stadium General Antropologi Universitas Udayana pada Sabtu pekan lalu.

IMG_5403 2

Masa kanak-kanak menjadi awal perkembangan seseorang sebelum menjadi orang dewasa. Kajian antropologi umumnya fokus pada sekelompok masyarakat yang terdiri atas pria dan/atau wanita. Namun, belum banyak penelitian mengenai anak-anak. Sekalipun ada, peneliti tidak melakukan wawancara langsung kepada anak-anak.

Prof. Yolanda Corona Caraveo meneliti makna kehidupan anak-anak dalam 4 generasi di Tepoztlán, sebuah desa di Meksiko Tengah. Antropolog asal Meksiko ini melakukan penelitian ini selama 15 tahun.

Dalam penelitian ini, dia mewawancarai 30 orang secara mendalam, pada mereka yang hidup dari generasi pertama hingga keempat. Usia informannya berkisar antara 10-89 tahun. Topik yang dibahas saat itu, makna menjadi anak-anak pada periode itu, pengalaman mereka sebagai anak-anak pada generasi itu, aspek-aspek yang masih terkenang di benak mereka setelah beralih menjadi orang dewasa dan perubahan-perubahan selama ini dalam pekerjaan, permainan, sekolah dan kehidupan ritual.

Pada generasi pertama ialah informan yang lahir antara 1910-1930. Anak-anak cenderung bekerja membantu orang tua. Anak perempuan lebih banyak membantu ibu melakukan pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki berkebun. Sebenarnya pemerintah federal membuka sekolah gratis, namun tidak semua anak-anak dapat bersekolah. Anak perempuan umumnya tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah.

“Mereka sulit mendapatkan perlengkapan sekolah yang harganya mahal.  Di samping itu, mereka menganggap sekolah akan mengancam budaya lokal, karena mereka dilarang berbicara dengan bahasa daerahnya,” jelas Yolanda.

Selain sekolah, orang tua juga melarang anak-anak mereka bermain. Bagi mereka, bermain hanya membuang-buang waktu saja. Akhirnya anak-anak bermain secara sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang tuanya.

Pada generasi kedua, muncul pemahaman baru bahwa kehidupan itu tidak hanya soal pekerjaan saja. Para orang tua mulai mengizinkan anak-anaknya untuk bersekolah. Laki-laki dan perempuan sudah mulai digabung dalam satu kelas atau sekolah, meskipun tidak semua orang tua senang melihat anak perempuannya disatukan dengan anak laki-laki. Sekolah sudah digabungkan dengan permainan, orang tua pun sudah mulai memberikan ruang untuk bermain. Sedangkan pada kegiatan ritual, anak-anak sudah mulai berpartisipasi sebagai penari dan penyanyi.

“Perlahan-lahan situasi mulai berubah pada generasi kedua. Adanya kebebasan dan pengetahuan yang muncul pada masyarakat, bahwa kehidupan mereka tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga harus mengembangkan wawasannya,” kata Yolanda.

Pembangunan sarana perhubungan menjadi pemicu perubahan pada generasi ketiga. Perdagangan dan pariwisata sudah mulai berkembang di Meksiko. Hal ini menumbuhkan kegiatan ritual berkat pendapatan yang meningkat. Sekolah menjadi kegiatan yang paling ‘alami’ bagi anak-anak. Berbagai teknologi juga mulai berkembang, seperti televisi, radio serta penerangan jalan. Anak-anak memiliki waktu yang lebih banyak untuk bermain di luar rumah.

“Perubahan yang terjadi pada generasi ketiga akhirnya mengubah ekspektasi mereka terhadap masa depan anak-anak agar mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi,” tutur Yolanda.

Perubahan paling drastis terjadi pada generasi keempat. Pada saat itu, masyarakat lebih berkecimpung pada perdagangan dan pariwisata. Pertumbuhan ekonomi keluarga sudah lebih baik, sehingga anak-anak tidak perlu lagi bekerja. Anak-anak dan remaja pada generasi ini lebih menginginkan migrasi ke negara dan benua lain, seperti Amerika Serikat dan Kanada.

Pandangan terhadap pendidikan sudah meluas, anak-anak terpacu untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Aktivitas anak-anak di luar rumah juga menjadi lebih sedikit akibat munculnya video games. Meskipun demikian, mereka masih mempertahankan kehidupan ritual, bagi mereka ini sangat penting untuk memperkuat hubungan mereka dengan komunitasnya.

“Sebuah penelitian terhadap anak-anak sangat penting, karena anak-anak adalah saksi sejarah. Mereka turut menyaksikan perubahan-perubahan sejak kecil hingga dewasa. Di antara keempat generasi, saya melihat ada perubahan yang drastis terjadi pada perekonomian dan pemerintah,” tutup Yolanda.

antro

Prof. Yolanda Corona Caraveo mempresentasikan penelitian ini di hadapan 157 peserta Stadium General Antropologi Unud 2014. Acara yang bertempat di Auditorium Widyasabha Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) ini dibuka oleh Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S. selaku Dekan FSB.

“Kegiatan ini terlaksana karena memang terkait dengan aktivitas mahasiswa antropologi yang kita sebut KRAMA (Kerabat Mahasiswa Antropologi Udayana). Selain itu, acara ini masuk dalam rangkaian BKFS dan Dies Natalis Universitas Udayana ke-52,” kata Wayan Cika. [b]

Foto oleh: Putra

Tags: AntropologiDenpasarPendidikanuniversitas udayana
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Diah Dharmapatni

Diah Dharmapatni

Bekerja di bidang sains dan teknologi.

Related Posts

Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Kontroversi Jasa Joki Tugas Kuliah

26 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Next Post
Nusa Penida, Bagian Bali yang (Nyaris) Terlupakan

Nusa Penida, Bagian Bali yang (Nyaris) Terlupakan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

15 March 2026
Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia