• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 24, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Perempuan, Budaya, dan UMKM Berbasis Keberkelanjutan

Refandhy Tri Wijaksono by Refandhy Tri Wijaksono
14 December 2025
in Kabar Baru, Sosok
0
0
Produk EconiQ berbahan Kain Endek dan material goni sebagai wujud budaya dan keberlanjutan.

Suara mesin jahit mengiringi langkah kaki saya memasuki ruang tengah sebuah rumah kecil di Gang Betet, Batuyang, Batubulan, Sukawati. Ruang kecil itu terasa memiliki nyawa walaupun ruang itu sederhana. Ada tumpukan perca kain endek di sisi kanan pintu, mesin jahit di setiap pojok ruangan, dan meja lipat stainless yang penuh dengan kain-kain.

Seorang penjahit perempuan duduk rapat di meja kerja, menunduk teliti pada jahitan tas buatanya. Tangannya bergerak pelan, menyusuri setiap sisi kain, memastikan setiap jahitan rapi tidak ada yang terlewat. Siang hari di ruangan ini tidak pernah terasa sepi. Walaupun tidak ada suara musik atau televisi yang menemani, suara jarum mesin jahit memberi ritme yang stabil. Ruang kecil itu bukan sekedar tempat menjahit, tetapi menjadi titik masuk untuk melihat perjalanan panjang EconiQ. Sebuah bisnis kerajinan berbasis budaya dan keberlanjutan yang lahir dari tangan perempuan dan tumbuh melalui jejaring kerja rumahan.

EconiQ lahir dengan nama EthneeQ, identitas awal yang menggabungkan unsur ethnic dan unique. EthneeQ kemudian mendapatkan perhatian publik yang begitu cepat. Pada tahun 2022 produk EthneeQ terpilih menjadi oficial merchandise gelaran KTT G20. Momen yang menjadi tonggak penting bisnis EthneeQ. Namun, perjalanan bisnis EthneeQ tidak sepenuhnya mulus. Proses pengajuan nama merek dagang yang telah ditunggu selama 2 tahun berakhir tanpa hasil. Nama EthneeQ ditolak karena nama merek tersebut telah digunakan oleh pelaku usaha lain dari Yogyakarta.

Ibu Dian Susanti (50 tahun), pendiri bisnis UMKM EconiQ, tidak terlalu mempersoalkan keputusan akan penolakan nama merek EthneeQ tersebut. Ia mengajukan nama merek dagang baru, yang pada tahun 2025 ini akhirnya disetujui sebagai identitas dagang resmi dengan nama EconiQ. Tidak ada perubahan filosofis pada visi bisnis ini. EconiQ hadir menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah bisnis yang sejak awal bertumpu pada nilai budaya dan keberlanjutan.

Kisah EconiQ sendiri berawal pada tahun 2019, ketika Dian Susanti, wanita Jawa yang lahir dan besar di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, menjawab larangan pemerintah Bali terhadap penggunaan tas plastik ketika belanja. “Awalnya karena ada peraturan pemerintah daerah gubernur Bali mengenai penggunaan tas belanja sekali pakai. Nah, saya membuat totebag yang saya lukis sendiri dengan lukisan barong, penari, dan motif tradisional Bali untuk dipakai belanja,” cerita Ibu Dian.

Tidak disangka, produk itu mendapat perhatian lebih dari publik. Selain karena larangan tas belanja sekali pakai, juga karena desainnya yang segar dan menyatu dengan karakter lokal Bali.

Inovasi sederhana yang dilakukan Ibu Dian kemudian membuka jalan bagi proses pencarian yang lebih dalam. Dari awalnya sekedar melukis barong dan penari di atas totebag, perlahan Ibu Dian melihat ketertarikan baru pada wastra lokal dan motif tradisional Bali yang menyimpan makna filosofis sejak lama. Dari sinilah perhatian pada kain endek muncul dan mengarahkan perjalanan usaha ke bentuk yang lebih matang.

Tidak banyak orang menyadari bahwa motif kain endek yang sering dilihat melekat pada setiap produk EconiQ, terdapat sejarah dibaliknya. Kain endek bukan hanya sekedar wastra tradisional. Kain endek adalah visualisasi identitas Bali yang telah dipertahankan lintas generasi. Setiap motif memiliki cerita, setiap warna memiliki makna. Kain endek yang dipadukan dengan material kain goni atau limbah tekstil hotel telah menjadikan bagian dari culture sustainability. Upaya untuk menjaga nilai tradisi tetap hidup dengan cara yang relevan pada masa kini.

“Budaya Bali kan tidak hanya wastra. Terkadang saya juga memasukkan kulit dengan ukiran bali pada produk EconiQ. Karena kan ukiran Bali memiliki pakem ukiran yang khas, lebih bulat” ujar Ibu Dian sebagai bentuk rasa hormat menjaga akar tradisi Bali.

Dalam dunia ekonomi kreatif, produk kerajinan yang membawa unsur budaya tidak hanya memikat wisatawan, namun juga memberi peluang ekonomi bagi pembuatnya. Dan EconiQ telah menunjukkannya, budaya yang hidup dalam produk mereka bisa menjadi kekuatan ekonomi baru jika diolah dengan jujur dan penuh rasa hormat.

Desain EconiQ telah bergerak di antara tuntutan pasar dan nilai budaya. Pada satu sisi terdapat kebutuhan menciptakan produk yang praktis dan modern. Pada sisi lain, ada tanggung jawab untuk menjaga makna filosofis budaya agar tidak hilang dalam proses komersialisasi. Proses kreatif produk EconiQ dilakukan dengan riset visual dari Pinterest, Google, dan marketplace luar negeri. Bukan untuk meniru desain. Namun, untuk membaca tren sebelum menggabungkan dengan elemen lokal. Pendekatan ini menggambarkan dinamika ekonomi kreatif yang memadukan inovasi dan tradisi secara seimbang.

Elemen keberlanjutan dalam bisnis EconiQ tidak hanya soal material yang digunakan. Elemen keberlanjutan hadir dalam setiap tahap produksi. Mulai dari pemilihan material limbah, pemberdayaan perempuan, dan juga penguatan pada jaringan rekanan penjahit pengrajin rumahan. Praktik Upcycling dari bisnis EconiQ telah membawa makna ekologis yang kuat. Limbah tekstil merupakan salah satu limbah terbesar secara global, dan hotel di Bali menghasilkan jumlah limbah tekstil ini dalam jumlah yang signifikan besar setiap bulannya. Dengan adanya pemanfaatan limbah tekstil hotel ini, EconiQ secara langsung ikut mengurangi beban lingkungan bumi akibat limbah.

Di balik sukses dan nilai yang tampak dari bisnis EconiQ, terdapat cerita yang sebenarnya jarang muncul dalam pemberitaan. Cerita tentang tenaga perempuan yang menggerakkan rantai produksi bisnis ini. Penjahit pengrajin produk EconiQ sebagian merupakan ibu rumah tangga yang mereka bekerja dari rumah. Jam kerja mereka pun mengikuti ritme rumah tangga. Tidak ada sistem kerja industri yang ketat. Semua sistem kerja mengalir dalam aliran kerja domestik ibu rumah tangga, pagi mengurus anak sekolah dan rumah tangga, baru kemudian setelah urusan domestik selesai, bisa duduk di depan mesin jahit menyelesaikan tas kerajinan EconiQ. Itulah sebabnya ekonomi kreatif perempuan sering disebut sebagai ekonomi modal sosial. Ada jaringan informal yang dibangun oleh perempuan melalui kedekatan emosional, kepercayaan, dan gotong royong.

Hubungan kerja dalam sistem bisnis EconiQ pun tidak menggunakan kontrak tertulis. Sistemnya dikembalikan lagi kepada penjahit pengrajin. Jika hasil jahitan rapi dan deadline terpenuhi sesuai kesepakatan, pada pesanan berikutnya penjahit pengrajin mendapatkan prioritas pekerjaan. Sistem ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Penjahit merasa dihargai dan tidak terbebani target yang tidak realistis, sementara EconiQ tetap bisa menjaga kualitas produk tanpa menciptakan tekanan berlebih.

Keterlibatan perempuan tidak hanya di lingkar rumah tangga. Dalam beberapa tahun terakhir, EconiQ kerap menjalin kerja sama dengan lapas perempuan di Kerobokan, Denpasar. Para tahanan perempuan diberikan produk untuk dikerjakan sesuai jadwal mereka. Tidak ada target yang tidak realistis dalam pemberian kerja ini. Program ini hanya bertujuan untuk memberi dampak besar dalam konteks sosial. Pemberdayaan perempuan dan kelompok marjinal seperti tahanan dapat memberikan dampak jangka panjang, seperti meningkatkan kepercayaan diri, keterampilan, peluang kerja, dan pendapatan tambahan.

“Tidak semua kebutuhan tahanan perempuan disubsidi, jadi EconiQ hadir membawa produk yang bisa mereka kerjakan. Ada sistem upah sesuai produk yang dihasilkan para tahanan dan kami juga kadang memberikan pelatihan keterampilan pada mereka,” tutur Ibu Dian.

Di balik proses kreatif dan sosial bisnis EconiQ ini, ada sisi personal dari Ibu Dian Susanti yang membentuk fondasi seluruh perjalanan bisnis ini. Ia merupakan seorang single parent yang telah kehilangan suaminya lebih dari 18 tahun. Ia harus membesarkan anak-anaknya sembari mencari nafkah. Perjuangan yang bukan sekedar kisah pembangunan bisnis. Kisah Ibu Dian ini adalah kisah bertahan hidup.

“Perempuan kudu pinter. Pinter ngatur uang, pinter ngatur keluarga dan pinter didik anak,” kalimat yang diucapkan Ibu Dian dalam penggambaran peran perempuan kini.

Kalimat ini terdengar ringan. Namun, kalimat ini mencerminkan struktur kerja perempuan Indonesia. Memegang peran ganda sekaligus, kerja domestik dan kerja publik. Dalam diskusi gender, kondisi ini masuk dalam kategori double burden atau beban ganda. Banyak perempuan mengalaminya setiap hari. Mereka berada di dapur setiap pagi hari, meja kerja pada siang hari, dan kembali ke meja dapur di malam hari. Semua berjalan secara beriringan. Inilah sebabnya mengapa UMKM perempuan sering bertahan lebih lama. Mereka telah terbiasa kerja dengan batasan yang tak terlihat.

Ketika saya hendak mengakhiri obrolan siang itu, ada pesan yang disampaikan Ibu Dian yang terasa seperti inti dari perjalanan bisnis EconiQ.

“Yang terpenting sekarang kita harus bisa bertanggung jawab atas pilihan kita. Apa yang kita lakukan, apa yang kita pakai, dan mulailah men-support UMKM yang bergerak pada sustainability. Serta jangan lupa untuk mulai menggunakan produk yang ramah lingkungan.”

Kalimat itu terdengar mengalir tenang. Mencerminkan keseluruhan filosofis EconiQ, bisnis yang bergerak pada titik pertemuan budaya, gender, dan keberlanjutan. Dalam setiap jahitan produk, ada kisah perempuan yang bekerja dalam senyap. Dalam setiap tas, ada nilai budaya yang dijaga. Dalam setiap material bekas yang dipakai, ada kepedulian kecil pada bumi. Dan di balik itu semua, ada seorang ibu yang terus bertahan, terus belajar, dan terus menemukan cara agar hidup tetap bergerak.

(Karya dari Pelatihan Jurnalistik Metangi Bali oleh New Energy Nexus)

aafikotasarni.org sangkarbet
Tags: econiqmetangi balistartup new energy nexus
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Refandhy Tri Wijaksono

Refandhy Tri Wijaksono

Putra bungsu kesayangan ibu

Related Posts

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Next Post
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

24 April 2026
Kenapa Isu Publik Bisa (atau Tidak Bisa) Masuk FYP TikTok?

Kenapa Isu Publik Bisa (atau Tidak Bisa) Masuk FYP TikTok?

23 April 2026
Majelis Hakim Tolak Gugatan Petani Batur

Majelis Hakim Tolak Gugatan Petani Batur

23 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia