
Tidak semua orang bersedia berjibaku dengan sampah. Tapi dari sebuah rumah kos di Denpasar Selatan, lima perempuan muda justru memilih bermain dengan bau, basah, dan sisa-sisa limbah upacara yang dianggap tak berharga. Dari adonan limbah yang mereka remas dengan tangan sendiri, lahirlah harapan kecil di tengah krisis sampah Bali.
Sore itu, Senin (08/12) di sebuah kos di kawasan Denpasar Selatan, bertemulah saya dengan tiga sosok perempuan yang sedang berjibaku dengan adonan yang mereka buat dari sampah. Rumah kos itu ditempati enam orang, ruang tamu penuh barang-barang yang merupakan buah karya dan kerja keras mereka. Tangan-tangan perempuan muda itu dengan telaten memainkan adonan-adonan berwarna putih pucat tersebut yang disebut clay paper. Dari adonan itulah lantas terbentuk berbagai macam kerajinan yang menghantarkan kelompok mereka ke kancah nasional.
Kisah mereka sebetulnya berawal dari kegagalan salah satu anggota dalam mengikuti MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat) di semester lima, Lunar (21) kemudian mencoba peruntungan lain dengan mendaftar pada program WMK (Wirausaha Merdeka) yang sebetulnya tidak menjadi bagian perencanaan mahasiswi asal Jayapura itu. Niat dari Lunar kemudian membuat teman-teman satu circle alias satu pergaulannya di kampus merasa tertarik untuk bergabung. “Daftarlah aku, terus aku kasih tahu mereka kayak guys aku kayaknya ikut WMK deh, aku gak kuliah. Terus mereka fomo (tertarik ikut),” jelas Lunar.
Pada akhirnya kelima gadis tersebut: Celine, Dinda, Sekar, Haerani, beserta Lunar menjadi satu tim dan lolos dalam program WMK, meskipun pada saat pendaftaran Lunar sebetulnya belum tahu ide bisnis apa yang akan dibawanya ke program WMK.
Ide tentang pengolahan limbah sampah organik kemudian muncul setelah diskusi bersama kekasihnya bernama Lukman (29), yang merupakan seorang lulusan S1 Desain Produk di Universitas Telkom Bandung. Lukman kemudian menjadi founder dari KAMI Studio, dan dengan kelima mahasiswi jurusan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana itu bersama-sama mengembangkan bisnis hingga kini. Maka kemudian terciptalah produk-produk home decor (dekorasi rumah) inovatif dari pemanfaatan limbah organik, terutama kertas bekas, canang, kulit telur, dan ampas kopi.
Lelaki asal Bandung itu kemudian menjelaskan bahwa sebetulnya ide bisnis ini lahir dari pengalamannya ketika berkunjung ke TPS3R (Tempat pembuangan sampah dengan proses 3R: Reduce, reuse, recycle) di daerah Serangan. Lukman kemudian melihat banyak sampah canang yang menggunung dan berpikir untuk mengolahnya. Pertemuannya dengan salah seorang pengelola TPS3R, semakin membuka celah ide yang dieksplorasi lelaki tersebut. Pengelola TPS3R itu mengungkapkan bahwa selama ini pengolahan limbah organik di sana untuk dijadikan pupuk saja belum cukup, dikarenakan jumlah sampah yang masuk cukup besar setiap harinya, sedangkan pemrosesan untuk dijadikan pupuk kompos memerlukan waktu hingga 3 bulan. Dari sanalah Lukman melihat celah yang dapat diisi dan kemudian menghasilkan ide produk dari limbah sampah organik. “Karena kan selama ini cuma plastik doang nih yang dilihat, sedangkan 65% sampah itu organik,” ujar Lukman.
Inovasi dari anak-anak muda tersebut bagai angin segar di tengah kalang kabutnya persoalan sampah di Bali. Bukti konkret di atas kertas dan di lapangan masih menjadi bayang-bayang gelap yang menyelimuti pulau surga kini. Ada ironi yang terjadi pada pulau Bali yang merupakan pusat pariwisata, spiritual, hingga budaya yang diakui dunia. Faktanya selain limbah dari aktivitas rumah tangga, hasil dari produk pariwisata dan budaya yang indah justru turut menjadi penyumbang limbah terbesar bagi pulau surga.
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), menunjukkan bahwa komposisi sampah di Bali pada tahun 2024 masih didominasi oleh sampah organik seperti sisa makanan, kayu/ranting, hingga kertas. Sedangkan untuk sumber sampah sendiri paling besar berasal dari rumah tangga.

Selain itu penelitian dari Bali Partnership mencatat bahwa total produksi sampah di Pulau Bali mencapai sekitar 4.281 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 60% berupa sampah organik, 20% merupakan sampah plastik, sementara sisanya terdiri atas kertas, logam, kaca, serta limbah yang berasal dari area pura.
Dengan sekitar tiga juta umat Hindu yang rutin melakukan persembahyangan, volume sampah upakara (upacara) pun meningkat signifikan. Sayangnya, lonjakan ini belum ditopang oleh sistem pengelolaan yang memadai. Sampah dari pura umumnya hanya dikumpulkan lalu diangkut ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) untuk ditimbun bersama jenis limbah lainnya. Rendahnya tingkat pemilahan di rumah tangga memperburuk keadaan, dan membuat sampah canang masih sering bercampur dengan sampah domestik lain.
Ditambah lagi jika melihat tren sampah upakara di Bali kini, berdasarkan laporan BaleBengong pada 2025, canang dan banten-banten di Bali makin banyak mengalami modifikasi yang menyebabkan bahan penyusunnya tidak hanya terbuat dari bahan organik tetapi juga bercampur dengan anorganik yang sulit terurai dan memerlukan waktu pemilahan yang lebih lama.
Sampah-sampah seperti itu yang langsung dibawa ke TPA dan ditimbun tanpa pengolahan terlebih dahulu akan memproduksi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana. Kedua gas ini, terutama metana memiliki potensi pemanasan jauh lebih tinggi dibandingkan CO2, dan mempercepat laju perubahan iklim. Menurut data World Resources Institute (WRI), emisi gas rumah kaca global sebetulnya masih didominasi oleh sektor energi yang menyumbang sekitar 75,7% dari total emisi dunia, meliputi listrik, panas, transportasi, hingga konsumsi energi di bangunan dan industri. Selanjutnya diikuti sektor pertanian, industri, penggunaan lahan dan kehutanan sekitar.
Dalam hal ini sektor limbah (waste) memang terlihat kecil, yaitu hanya 3,4% dari total emisi global. Namun WRI menegaskan bahwa sektor limbah sebetulnya menyumbang gas-gas super-polutan seperti metana (CH4) dan nitrous oxide (N2O), yang memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih kuat dari CO2, sehingga berdampak signifikan dalam jangka pendek. Jika diilustrasikan sebagai sebuah korek api yang kecil namun dijentikkan di tumpukan jerami kering, gas-gas seperti metana dan N2O bisa hadir dalam jumlah lebih sedikit dibanding CO2, tetapi daya rusaknya jauh lebih cepat dan intens dalam membakar jerami.
Hal tersebut turut menjadi sorotan Lunar, bahwa mengapa pada akhirnya bisnis di sektor limbah seperti yang mereka lakukan penting untuk didukung, sebab sebetulnya bisnis di sektor ini secara tidak langsung turut membantu pemerintah dan masyarakat Bali sendiri dalam menangani sampah-sampah organik termasuk sampah hasil upakara umat hindu agar tidak merusak lingkungan lebih jauh. “Karena kan sebetulnya bisnis kami juga turut membantu mengatasi persoalan itu (sampah),” terang Lunar.
Kata “KAMI” dalam bahasa Jepang berarti “Kertas” yang mana awal mula produk dari KAMI Studio adalah notebook (buku) yang terbuat dari limbah kertas dan canang. Tak berhenti disana, KAMI Studio kemudian mengembangkan produk-produk lain yang berfokus pada home decor, seperti tempat lilin, container, trinket dish, dan gantungan kunci. Bahan-bahan yang digunakan merupakan campuran limbah canang, kertas, kopi, dan cangkang telur. “Nah, karena produk kita itu material utamanya sebenarnya di kertasnya sih. Sedangkan yang kopi, canang, cangkang telur itu dia bahan campurannya,” jelas Lunar.
Sebagian besar limbah yang mereka gunakan dalam pembuatan produk didapat dari hotel, kafe, dan lingkungan sekitar kos. Untuk limbah dari hotel, Lunar dan kawan-kawan biasanya mengambil langsung di The Hava Ubud yang menjalin kerjasama dengan mereka. Sampah tersebut biasanya diambil setiap dua minggu sekali, dengan rata-rata 60 kilogram sampah sekali angkut. Sedangkan untuk ampas kopi, mereka juga mendapatkannya dari Traya Cafe di Renon. Kemudian sisanya didapat dari teman-teman dan tetangga sekitar.
“Tapi kita juga tidak menutup kemungkinan ngambil dari yang sekitar sini (sekitar rumah), misalkan ada teman-teman kita nih yang kayak di rumahnya ada sampah-sampah yang kita olah ini menumpuk, mereka boleh kasih ke kita,” ujar Lunar.
Pengelolaan limbah upakara di Bali sebetulnya sudah diatur dalam Peraturan Gubernur Bali No. 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, yang melarang pembuangan sisa upakara ke media lingkungan (sungai, laut) dan mewajibkan pemilahan sampah, serta diperkuat oleh Peraturan Desa Adat (Pararem) yang mengatur sanksi adat bagi pelanggar, mendorong pemilahan sampah organik (diolah mandiri) dan anorganik (ke bank sampah/TPS3R), serta membatasi plastik sekali pakai dalam upakara dan aktivitas sehari-hari melalui Pergub No. 97/2018.
Kedepannya Lunar dan kawan-kawan juga berinisiasi bekerjasama dengan banjar untuk membuat sebuah program yang dimulai dari satu banjar (dusun) guna menggaet keterlibatan masyarakat lebih luas. Dalam program tersebut, warga diharapkan bersedia memberikan sampah mereka, terutama sampah canang untuk kemudian diolah menjadi produk ramah lingkungan.
Lunar menegaskan sejauh ini respon beberapa masyarakat yang sempat mereka datangi ke rumah untuk mencari sampah cukup baik, bahkan ada yang merasa heran dan takjub dengan apa yang anak-anak muda itu lakukan. “Ya respon mereka udah pasti yang pertama pasti kaget, kayak kok bisa (mengolah menjadi produk seperti ini). Kebanyakan responnya positif dari masyarakat itu,” ujar Lunar. Selain itu saat workshop (bengkel kerja) mereka masih di Ubud, tak jarang ada warga sekitar yang penasaran dan bertanya-tanya tentang kegiatan mereka, kemudian memberikan sampah kertasnya secara cuma-cuma.
Setelah pengumpulan limbah selesai, proses pembuatan produk akan dilakukan langsung oleh kelima mahasiswi tersebut, biasanya di akhir pekan agar tidak berbenturan dengan jadwal kuliah. “Sejauh ini belum ada yang tabrakan banget (jadwalnya). Karena mau enggak mau, kuliah itu kewajiban,” terang Celine (21) ketika ditanya pembagian waktu antara KAMI Studio dan kuliah.Selama proses pembuatan, salah satu tantangan yang dihadapi kelima gadis itu adalah konsistensi dari kualitas paper clay yang dihasilkan.
Meskipun menurut Lunar takaran yang mereka gunakan selalu sama, namun hasil dari paper clay kadang kurang pas. Selain itu, alat-alat yang mereka gunakan untuk memulai usaha juga cukup sederhana, yaitu dengan mengandalkan alat dapur yang tersedia, seperti panci, kompor, blender, hingga dehydrator (alat pengering)yang dirakit sendiri oleh Lukman dengan memodifikasi bahan-bahan yang ada. “Kita pakai semua rata-rata alat dapur kayak blender, terus kompor, panci, kecuali dehydrator, kalau itu aku bikin sendiri,” ungkap Lukman.
Pemasaran produk menjadi kendala lain yang masih dialami oleh KAMI Studio. “Sejauh ini sih kita masih by event (di pameran) aja sih sebenarnya. Belum ada yang pesan langsung,” ujar Lunar. Selain itu, meski sudah mencoba menawarkan produk-produk tersebut ke perusahaan seperti beberapa hotel namun hingga kini mereka belum mendapatkan satupun kontrak resmi. “Sebenarnya kita lagi kerja sama dengan The Hava, cuman kayak kerja samanya belum yang fix tanda tangan kontrak,” imbuh Lunar.
Hotel sebagai bagian dari sektor jasa sering dianggap tidak menghasilkan polusi besar karena tidak memiliki cerobong atau pabrik. Tetapi jika diperhatikan lebih lanjut hotel merupakan salah satu generator limbah dari aktivitas pariwisata di Bali yang besar dan beragam, mulai dari penghasil limbah tekstil, limbah makanan, amenities sekali pakai, hingga limbah cair operasional. Apalagi sebagian besar sampah yang dihasilkan hotel memiliki karakteristik seperti sampah rumah tangga yang menjadi penyumbang lebih dari 90% sampah di Bali.
Data Pemerintah Provinsi Bali bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan bahwa Denpasar dan Badung menjadi pusat terbesar timbulan sampah di Bali, dengan produksi harian melampaui 1.200 ton. Sekitar 68% di antaranya berupa sampah organik, terutama sisa makanan dari hotel, restoran, dan rumah tangga. Kawasan hotel berbintang, restoran besar, serta permukiman padat menjadi kontributor utama, sementara kemampuan pengelolaan di tingkat desa melalui TPS3R masih jauh dari memadai.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq dalam Rapat Koordinasi Pelaku Usaha Perhotelan se-Provinsi Bali (26/11) menyoroti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) 2025 yang menunjukkan belum ada satu pun dari 229 hotel di Bali yang masuk kategori taat lingkungan, bahkan sebagian masih berada di peringkat merah. Data dari Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali juga menunjukkan dari 4,281 ton, 40% sampah dihasilkan oleh sektor komersial termasuk pariwisata. Artinya jumlah tersebut sebesar 1,712 ton atau setara 240 truk sampah penuh.
PHRI mencatat bahwa pada 2025 terjadi penurunan tingkat okupansi antara 10–20% di sejumlah hotel dan resor di Denpasar, Badung, dan Sanur. Wisatawan, khususnya turis mancanegara, kini semakin sensitif terhadap isu lingkungan, sehingga persepsi tentang kebersihan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan destinasi.
Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. I Putu Anom M.Par, turut menyoroti kemampuan Bali termasuk industri pariwisata terutama hotel dan restoran yang hingga kini masih banyak yang belum mampu mengolah sampah bisnisnya. Anom menilai dari banyaknya keuntungan dari penerimaan pariwisata, seharusnya pemanfaatan untuk pariwisata bisa lebih banyak. Terutama untuk pengolahan sampah dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. “Penerimaan pariwisata itu banyak, jadi pemanfaatan untuk pariwisata juga harusnya banyak,” terang Anom.
Dirinya melihat pemerintah harus bisa mengkoordinir dan memaksimalkan yang pertama terkait ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertugas membangun, mengembangkan, dan mengelola kawasan pariwisata terintegrasi di Indonesia, seperti Nusa Dua di Bali dan Mandalika di Lombok. Yang kedua terkait perizinan, Anom menilai sebelum izin usaha diberikan, hotel harus sudah mengetahui seperti apa sampahnya akan diolah. Lebih lanjut dirinya melihat perlu ada perusahaan yang membantu dan mampu mengolah limbah-limbahnya menjadi produk yang bermanfaat, sebagai contoh yang terjadi di Banyumas, Jawa Tengah. “Harus ada perusahaan yang mampu mengolah sampah jadi apa gitu (menjadi produk bermanfaat),” jelasnya.
Sehingga, kolaborasi antara sektor usaha pariwisata dengan pelaku usaha berkelanjutan seperti KAMI Studio sebetulnya dapat menjadi langkah strategis. Dukungan semacam ini bukan hanya meringankan beban pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah, tetapi juga membantu industri pariwisata memperbaiki pengelolaan limbahnya, memperkuat citra usaha yang ramah lingkungan, serta menyesuaikan diri dengan tuntutan kebijakan lingkungan yang semakin ketat.

Selama ini penjualan yang didapat dari KAMI Studio adalah saat menghadiri acara-acara seperti di Demo Day UMK tahun lalu, Home Deco Expo, dan pameran lainnya. Mengenai harga produk yang mereka bandrol bervariasi tergantung jenis produknya. Untuk produk tempat lilin bisa didapat mulai dari 50 ribu rupiah, sedangkan satu set dengan tatakannya menjadi 70 ribu rupiah. Container mulai dari 80 ribu rupiah, trinket dish seharga 35 ribu rupiah, dan gantungan kunci mulai dari 15 ribu rupiah.
Sejauh ini menurut penuturan Lunar, mereka sudah mengikuti sekitar lima pameran, dengan keuntungan rata-rata dari setiap event sebesar 500 ribu rupiah. “Hampir semua jenis produk terjual tapi yang bestseller itu produk Kamiki (gantungan kunci) dan rata-rata keuntungan penjualan sekitar 500 ribu per event,” terang Lunar. Selain itu Lunar juga menambahkan, apabila membeli produk dari KAMI Studio dan suatu saat mengalami kerusakan, bisa mendapatkan jasa perbaikan produk/ recycle sehingga membantu mendorong ekonomi sirkular (usaha mempertahankan nilai produk, bahan, dan sumber daya selama mungkin, dengan mendaur ulang produk).

Meski masih sulit menggaet investor, ke depannya mereka akan tetap mencoba untuk memasukkan produk-produknya ke perusahaan dengan sistem B2B (Bussines to bussines) di mana transaksi jual beli produk dan layanan akan difokuskan antar pelaku usaha (perusahaan). “Rencananya kita mau bergelutnya di B2B. Jadi kita masukin produk kita ini ke hotel-hotel yang mengusung event family, cafe, kayak gitu,” ujar Lunar.
Dalam dua bulan terakhir KAMI Studio belum mengambil sampah lagi karena masalah kesibukan anggota dan tempat yang belum memungkinkan menampung sampah lebih banyak, apalagi setelah tempat workshop (bengkel kerja) mereka tidak lagi di Ubud. Sehingga, September lalu menjadi bulan terakhir masa produktif mereka menerima limbah. “Sekarang sudah berhenti, sudah di postpone dari September,” terang Lunar dan Lukman.
Sejauh ini bantuan dari pemerintah dalam menjangkau mereka masih minim. Padahal sebetulnya usaha di bidang pengolahan sampah bisa menjadi solusi alternatif mengingat Bali yang masih kewalahan dalam mengolah limbah-limbahnya. “Sejauh ini kayak pemerintah yang langsung ke kami sendiri itu belum ada,” ungkap Lunar.
Selama ini sebagian besar kerjasama yang Lunar dan kawan-kawan peroleh dalam pameran adalah dari networking (usaha membangun relasi) dengan perusahaan swasta dan NGO (Organisasi non pemerintah). “Kebanyakan NGO sih. Terkadang kita juga yang nge-reach out (menghubungi mereka),” ujar Lukman.
Chief Marketing Officer Danantara Asset Management Dendi Tegar Danianto juga melihat potensi pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk bertumbuh melalui pendekatan ke sektor business-to-business (B2B) seperti yang sempat direncanakan Lunar. Dengan memanfaatkan platform yang terintegrasi, Dendi berharap instansi pemerintahan bisa memprioritaskan belanja barang dan jasa kepada UMKM lokal melalui sistem pembayaran yang mudah dan efisien. Selain itu, UMKM lokal yang telah terintegrasi dengan platform penghubung ke sektor B2B memiliki potensi transaksi yang lebih besar, salah satunya melalui pengadaan dari kementerian/lembaga.
Jika dilihat dari hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2024, menurut Peneliti Bidang Kajian Kewirausahaan, Inovasi, dan UMKM FEB UGM, Widya Paramita, saat ini belum ada produk pembiayaan hijau (layanan dan instrumen keuangan yang mendukung investasi atau pembiayaan untuk proyek dan kegiatan yang memberikan dampak positif pada lingkungan) dengan target UMKM hijau yang diimplementasikan di Indonesia, meskipun regulasi yang mengatur pembiayaan hijau telah tersedia. Mulai dari UU No. 6/2023 tentang CSR, UU P2SK, Perpres 98/2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, Perpres 59/2017 tentang SDGs, hingga POJK 51/2017 tentang keuangan berkelanjutan. Namun tidak banyak lembaga keuangan dan non keuangan mengimplementasikan pembiayaan hijau kepada UMKM.
Ke depan, upaya penguatan ekosistem industri berkelanjutan seperti KAMI Studio membutuhkan lebih dari sekadar regulasi. Akses pada pusat workshop atau produksi dengan biaya terjangkau, dukungan fasilitas dan alat, serta pendampingan pemasaran untuk UMKM penting agar usaha tidak terseok saat tidak ada investor.
Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal Bali dan Indonesia pada umumnya juga menjadi faktor penting. Sejumlah survei menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang isu iklim dan produk berkelanjutan masih terbatas, sehingga edukasi publik perlu diperluas agar permintaan pasar meningkat. Meski demikian, generasi muda di Indonesia sudah mulai menunjukkan minat tinggi pada produk berkelanjutan dan isu iklim sebesar 90% walaupun baru 0,47% yang konsisten menjalani gaya hidup rendah emisi.
Gerakan yang dilakukan KAMI Studio menjadi salah satu bara pemantik yang menunjukkan bagaimana inovasi berbasis inisiatif lokal dapat membuka jalan menuju ekonomi sirkular di tingkat daerah. Meski kapasitas mereka masih terbatas dan dukungan kelembagaan belum optimal, upaya kecil seperti ini memperlihatkan bahwa transisi menuju produksi yang lebih ramah lingkungan sebenarnya sudah mulai tumbuh dari akar rumput.
(Karya dari Pelatihan Jurnalistik Metangi Bali oleh New Energy Nexus)
aafikotasarni.org sangkarbet






