• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, January 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Megalungan Iklim 2025: Menyapa Isu Iklim Lewat Tradisi Bali

Alya Daniyah Rosyadah by Alya Daniyah Rosyadah
15 December 2025
in Kabar Baru
0
0

Tidak semua orang familiar dengan isu iklim, beberapa memalingkan wajah karena merasa topik tersebut terlalu berat, jauh, dan mungkin tidak relevan untuknya. Namun, bagaimana jika isu iklim dipadukan dengan semangat tradisi Galungan dimana ada perayaan, permainan, pameran, dialog inklusif, dan penampilan musik?

Megalungan Iklim adalah sebuah event terbuka yang diselenggarakan oleh New Nexus Energy pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Bokashi Farm, Denpasar. Sore itu, para pengunjung event menyaksikan pembukaan acara sambilmenikmati minuman dan makanan ringan tradisional yang tersaji menggunakan wadah ramah lingkungan dari daun pisang.

Budaya Bali Menjadi Ruang Belajar Keberlanjutan dan Kebersamaan

Keseruan dimulai ketika pembawa acara membagi pengunjung menjadi sembilan kelompok. Peserta yang berasal dari daerah dan latar belakang yang berbeda-beda jadi mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dan saling mengenal. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah permainan tradisional bali, yaitu memotoh. Perwakilan dari masing-masing kelompok menebak dadu dengan memperjudikan daun sebagai pengganti uang.

Permainan memotoh dalam Megalungan Iklim 2025. Foto: Alya Rosyadah.

Permainan ini menyimpan pesan penting untuk memangkas keserakahan diri. Dalam konteks krisis klim, rasa cukup dan tidak berlebihan amat penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian sumber daya yang kita manfaatkan. Prinsip keberlanjutan jauh lebih penting dibandingkan keuntungan besar jangka pendek.

Selanjutnya, masing-masing kelompok membagi tugas anggotanya. Ada yang bertanggung jawab membuat penjor, gebogan, dan mempersiapkan hidangan untuk makan malam. Oka, salah seorang fasilitator kelompok, sedang berdiri di dekat para peserta yang asik berkegiatan. Sebagai pendatang dari luar Pulau Bali, saya menghampirinya untuk menanyakan definisi dari beberapa hal yang masih baru di telinga saya.

Keseruan kegiatan kelompok membuat penjor dan gebogan. Foto: Alya Rosyadah.

“Penjor ini bambu melengkung yang dihiasi lilit, gembol, kober, pale gantung, sampian, sanggah cucuk, dan nyuh. Ini lambang rasa syukur kepada Tuhan”,jelas Oka. Ia juga menjelaskan bahwa gebogan adalah kegiatan menyusun hasil bumi untuk persembahan dalam agama Hindu. Ketika ngeju (menangkap) bahan-bahan untuk gebogan, kita diarahkan untuk mengambil secukupnya dan berbagi agar saling mencukupi.

Inovasi Iklim Ramaikan Area Pameran

Setelah kegiatan kelompok selesai, para pengunjung menyebar ke area pameran. Ada 10 start-up inovasi iklimdari Program Inkubasi Matangi Bhumi Lestari. Mereka mengusung konsep bisnis yang tidak hanya sekedar mencari keuntungan tetapi juga dapat berdampak bagi keberlanjutan iklim.

Saya mengunjungi stanUma Impact, sebuah Sustainability Hub yang dibangun untuk mendukung bisnis dan komunitas dalam menciptakan masa depan berkelanjutan. Terdapat hal menarik di stan Uma Impact yaitu pengunjung dapat membuat rancangan baju dengan memanfaatkan kain perca. Ketua timnya yaitu Ni Kadek Nia Nandita, mengatakan bahwa acara seperti Megalungan Iklim mampu mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki satu visi untuk berkontribusi pada lingkungan atau orang-orang yang baru memupuk ketertarikan.

Disana, hadir juga Kami Studio yang menjual gantungan kunci kekinian dari limbah canang, kopi, kertas, dan kulit telur, Pesona Plastic yang mengolah sampah plastik menjadi furnitur, Green Oil Solution yang membangun mesin priolisis untuk menghasilkan bahan bakar alternatif dari limbah, dan start-up lain yang tak kalah luar biasa seperti Energi Suryamertha, EconiQ, Munchies, Balisynwwood, Phalam, dan MyAmbu.

Green Oil Solution dalam pameran Megalungan Iklim 2025. Foto: Alya Rosyadah.

Akselerasi Bali Net Zero, Kolaborasi Jadi Kunci

Pembawa acara meminta para pengunjung untuk kembali ke area utama ketika Dialog & Diskusi akan dimulai. Sekar Trisnaning memandu jalannya dialog bersama I Putu Gatot Adiprana (Manajer Ikubator Bisnis Pemerintah Provinsi Bali), Gusti Ayu Kade W (Ketua Asosiasi Panel Surya Abadi Bali), dan Putu Yindy Kurniawan (CEO Percik Daya Nusantara). Di samping moderator dan para pembicara, hadir juga dua orang penerjemah bahasa isyarat.

Dialog & Diskusi bertajuk ‘Akselerasi Bali Net Zero: Inovasi, Komunitas, dan Aksi Nyata’. Foto: Alya Rosyadah.

Para pembicara mengungkapkan optimismenya soal target nol emisi di Bali, namun masing-masing juga menyampaikan pesan yang perlu kita perhatikan. Pak Gatot mengingatkan bahwa semua elemen dari akademisi, pemerintah, media, dan pelaku usaha perlu ikut membangun ekosistem yang mempu mendorong target tersebut, “Bisnis yang baik itu tidak merasa pintar, tapi pintar merasa” ungkap Pak Gatot.

Selaras dengan hal tersebut, Bli Yindy setuju bahwa kolaborasi yang bisa mengesampingkan ego adalah kunci. Diperlukan aktor lokal, pengembang teknologi, dan regulasi yang mendukung untuk melakukan transisi ke energi bersih. Bu Tari menutup sesi diskusi dengan menekankan pesan serupa, “Penting bagaimana kita menjalankan transisi energi dengan energi kolaborasi, bukan energi kompetisi” ujarnya.

Penutup Megalungan Iklim 2025

Langit sudah gelap ketika para pengunjung duduk membentuk beberapa lingkaran, siap bersantap makan malam. “Makan malam kali ini adalah gabungan dari konsep megibung dan piknik”,pembawa acara menjelaskan. Megibung sendiri adalah kegiatan makan bersama untuk mempererat kekerabatan khas dari Kabupaten Karangasem, Bali.

Tari Sekar Jagad dan Tari Topeng Munju menjadi pengiring selama makan malam berlangsung. Obrolan hangat seusai makan mulai terdengar, lalu berganti canda tawa ketika Pejoget Bumbung datang dan menarik beberapa pengunjung secara bergantian untuk ikut menari ke depan.

Tak terasa sudah hampir enam jam berdinamika di Megalungan Iklim 2025, event ini diakhiri dengan penampilan musik dari Dialog Dini Hari. Iramanya membuai, liriknya begitu kontemplatif sekaligus tajam menyoroti hubungan manusia dan alam, serta tantangannya yang tengah kita hadapi hari-hari ini.

Megalungan Iklim 2025 telah memberikan contoh nyata bahwa berbicara dan berbuat sesuatu soal isu iklim tidak selalu harus kaku dan formal, tapi bisa juga dimulai dari pilihan dan langkah yang dekat seperti menghindari potensi sampah plastik, membangun mindset soal cukup, dan terus berbagi informasi lewat obrolan ringan sehari-hari. Pintu masuk yang mampu mengajak lebih banyak orang untuk mulai peduli seringkali adalah lewat hal-hal yang mudah dikenali seperti tradisi dan seni seperti ini. Apresiasi kepada panitia dan semua yang terlibat, kehangatan dan esensi Megalungan Iklim 2025 terasa begitu kental bagi saya.

aafikotasarni.org sangkarbet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Alya Daniyah Rosyadah

Alya Daniyah Rosyadah

Related Posts

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
Kekerasan terhadap Perempuan di Bali Meningkat Sepanjang 2025

Kekerasan terhadap Perempuan di Bali Meningkat Sepanjang 2025

14 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Next Post
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia