• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, April 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
14 December 2025
in Kabar Baru, Pertanian
0
0
Perajin ate di Banjar Dinas Gumung, Desa Tenganan

Dari luar rumahnya Wayan Sadri (70) tampak menganyam dengan serius. Beberapa kali ia menegakkan dan meregangkan punggung setelah lama menunduk. Tangan kanannya memegang pisau kecil, sedangkan tangan kirinya memegang batang paku hata atau yang lebih dikenal dengan nama ‘ate’ di desanya.

Ate yang tebal dibagi menjadi tiga helaian. Helaian tersebut dianyam oleh Sadri hingga membentuk lingkaran yang menjadi dasar keben. Meski sudah berusia lansia, tangan Sadri masih gesit memasukkan helaian ate ke tutup botol yang dilubangi. Ate dimasukkan ke lubang tutup botol untuk menghaluskan tekstur ate sebelum dianyam.

Selain ate, ada beberapa alat yang selalu siap di samping Sadri ketika menganyam, yaitu pisau kecil, pita ukur, tutup botol yang dilubangi, dan pisau biasa. Tangannya cekatan memasukkan ujung ate dari lubang satu ke lubang lainnya.

Wayan Sadri, salah satu perajin ate di Banjar Dinas Gumung, Desa Tenganan

Di rumahnya, Sadri tak menganyam sendirian. Dua orang saudaranya juga tampak sibuk menganyam. Kegiatan itu mereka lakukan dari pagi hingga sore hari. Pada malam hari mereka hanya istirahat karena mata tak lagi kuat bekerja dalam gelap malam.

Banjar Dinas Gumung, Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem menjadi tempat berkumpulnya para perajin ate. Perajin didominasi oleh perempuan, terutama ibu rumah tangga dan lansia.

Dalam ingatan Sadri, kerajinan ate mulai masuk ke Banjar Dinas Gumung pada tahun 1990, terhitung 35 tahun lamanya. Sebelum itu, sebagian besar masyarakat bekerja di ladang dan kebun.

Kerajinan ate dimulai oleh seorang kakek tua pengembali sapi. Awalnya, ia membuat tempat sirih dari ate untuk dirinya sendiri. Lokasi Banjar Dinas Gumung yang tak jauh dari Tenganan Pegringsingan membuat kerajinan ate milik kakek tersebut dilirik oleh wisatawan. Wisatawan yang melihat tempat sirih kakek tersebut tertarik untuk membelinya. Dari situlah kerajinan ate mulai berkembang, dari segi sumber daya hingga bentuk yang diproduksi.

Batang salur pohon ate dibagi menjadi tiga bagian
Batang salur pohon ate setelah dikeringkan

Salah satu alasan kerajinan ate berkembang di Banjar Dinas Gumung karena ate mudah dijumpai di hutan sekitar. Bahan bakunya sangat dekat karena ate merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di pohon-pohon besar.

Ate merupakan istilah singkat untuk menyebut batang sulur pohon hata. Sebelum dimanfaatkan sebagai kerajinan, pohon hata dianggap sebagai gulma, tumbuhan sebangsa rumput yang mengganggu kehidupan tanaman utama.

Masifnya kerajinan ate berbuah kepunahan. Ate semakin jarang dijumpai di hutan karena produksi kerajinan tidak dibarengi penanaman kembali. Meskipun ditanam kembali, ate tidak bisa tumbuh dengan cepat. Akhirnya, bahan produksi didatangkan dari luar pulau dan luar daerah, seperti Kabupaten Buleleng dan Flores.

Terlepas dari bahan baku yang didatangkan dari luar, kerajinan ate masih eksis hingga saat ini. Kerajinan ini menjadi satu-satunya cara bagi para lansia dan ibu rumah tangga seperti Sadri mendapatkan pundi-pundi penghidupan.

Pasalnya, Sadri saat ini tinggal seorang diri bersama cucunya yang masih kecil. Anak-anaknya sudah pergi merantau. Satu-satunya yang ia butuhkan adalah uang untuk mengisi perut hingga beberapa hari. “Anggon masak, napi kebutuhanne. Kebutuhan orang sembahyang cukup (Pakai masak, apa saja kebutuhannya. Kebutuhan sembahyang juga cukup),” kata Sadri terkait penghasilan yang ia dapatkan dari menganyam.

Satu anyaman seperti keben – tempat sarana upacara, membutuhkan waktu seminggu. Keben yang sudah jadi dibawa ke pengepul atau distributor. Satu keben biasanya dibayar Rp100.000 hingga Rp200.000 tergantung ukurannya. Penghasilan dari menganyam keben itulah yang digunakan Sadri untuk memenuhi kebutuhan hidup selama seminggu.

Dari perajin menjadi distributor

Sri Lestari dan Oka merupakan pasangan suami istri yang menjadi salah satu distributor kerajinan ate di Banjar Dinas Gumung. Sri mengawali karirnya sebagai perajin ate sejak menduduki bangku Sekolah Dasar (SD). Ketika beranjak remaja, Sri tak hanya menjadi perajin, tetapi juga mengirim produk ate ke Desa Tenganan Pegringsingan.

Sri Lestari (kanan) bersama Wayan Mita (kiri)

Sedikit demi sedikit Sri mulai mengumpulkan modal untuk mengirimkan produknya ke Denpasar dan Badung yang lebih ramai wisatawan. Pada tahun 2002 ketika Sri mulai mengirimkan produk ke luar Tenganan, terjadi peristiwa bom Bali. Namun, peristiwa bom Bali tidak terlalu memengaruhi hasil penjualan. 

Seiring waktu, produk kerajinan ate semakin beragam. Perajin tak hanya memproduksi tas selempang, tetapi juga tas tangan, tas gendong, topi, tempat tisu, kotak cincin, dan masih banyak bentuk lainnya. Permintaan pun tak hanya datang dari wisatawan yang berkunjung ke Bali, tetapi juga dari negara lain. Sejauh ini permintaan yang paling banyak datang dari Jepang.

Tas kerajinan ate
Tas kerajinan ate dipadukan dengan ukiran kayu
Berbagai produk kerajinan ate sedang dijemur

Hadirnya beragam permintaan membuat Sri mengajak beberapa orang di sekitarnya untuk bekerja sama. Ada tetangganya yang ia minta untuk menjahit kain, ada juga tetangganya yang ia minta untuk memasang ornamen pada produk kerajinan.

Pembuatan kerajinan ate tidak instan. Satu produk bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu. Prosesnya tidak hanya lama di perajin ate, tetapi juga setelah produk dibentuk. Kerajinan ate yang sudah diselesaikan oleh perajin harus dikeringkan terlebih dahulu.

Pengeringan dilakukan di halaman rumah Sri, dijemur di bawah sinar matahari. Proses penjemuran membutuhkan waktu dua minggu hingga produk ate berubah warna menjadi coklat gelap. Setelah dijemur, kerajinan ate dimasukkan dalam oven besar. “Biar kuat dan warnanya beda,” kata Sri sembari mengeluarkan salah satu produk dari oven. Sri meminta saya untuk mencium aroma produk ate yang sudah dioven. Aromanya seperti kelapa yang dibakar. Hal ini terjadi karena pembakaran di bawah oven menggunakan sabut kelapa.

Pengovenan produk ate

Proses pengovenan dilakukan seharian, dari pagi hingga sore hari. Apinya mesti ditakar agar produk ate tidak gosong. Setelah api mati keesokan harinya, barulah produk ate dikeluarkan dari oven dan siap dibawa ke penjahit untuk pemasangan kain maupun ornamen.

Turunnya penjualan kerajinan ate terjadi pada tahun 2020 ketika Covid-19 melanda. Saat itu banyak produk kerajinan ate yang menumpuk di rumah Sri karena keterbatasan ekspor dan sepinya pariwisata. Pasalnya, kerajinan ate sangat bergantung pada ekspor dan pariwisata. Kualitasnya yang berbeda dari kerajinan kebanyakan membuat harga produk ate mencapai dua kali lipat dari produk rotan. Ancaman kerugian besar pun membayangi Sri.

Di tengah krisis tersebut, Sri akhirnya mengenal Tanda Sayang dan Cinta (TSDC), distributor berbagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sri dan suaminya meminta bantuan TSDC untuk mendistribusikan tumpukan produk kerajinan ate melalui marketplace.

Merelakan karir demi rumah tangga

TSDC dibentuk pada tahun 2020 oleh Sri Mustika (37), seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Gianyar. Sebelum Covid-19 melanda, Mustika bekerja sebagai pegawai bank di perusahaan swasta. Bekerja sebagai pegawai bank membuat geraknya terbatas. Belum lagi saat itu Mustika memiliki tiga orang anak, salah satunya baru berusia hitungan bulan.

Sri Mustika memegang tas kerajinan ate

Saat Covid-19 melanda, Mustika memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk merawat anaknya di rumah. Sembari mengurus pekerjaan rumah, Mustika mencoba berjualan berbagai macam barang di marketplace Facebook. Barang pertama yang ia jual adalah masker kain.

Masker kain tersebut dibuat oleh temannya yang juga dirumahkan saat itu. Hingga akhirnya produk yang dijual oleh Mustika mulai dilirik pemerintah. Dari sanalah Mustika mulai memberdayakan produk UMKM dengan menjual produk mereka. Dalam waktu singkat, Mustika tak hanya berjualan di marketplace, ia juga menyalurkan berbagai produk UMKM ke hotel dan toko oleh-oleh.

Ketika sedang merintis bisnisnya, Mustika dihubungi oleh Loka dan Sri. Mereka meminta bantuan Mustika memasarkan kerajinan ate yang menumpuk di rumah mereka karena tidak bisa dijual. Mustika pun menyalurkan kerajinan ate ke sebuah toko oleh-oleh di Bali. Momen itu yang membuat kerajinan ate dikenal sebagai produk utama TSDC.

Dalam sejumlah pameran, Mustika selalu membawa kerajinan ate untuk dipasarkan. “Memang dari awal kita merintis itu memang ate yang kita tonjolkan,” kata Sri. Dalam katalog TSDC setidaknya ada lebih dari 20 jenis produk kerajinan ate.

Produk kerajinan ate yang dipasarkan di pasar seni dengan pameran TSDC berbeda. Di pameran TSDC, produk kerajinan ate lebih eksklusif karena tidak diproduksi dalam jumlah yang banyak. Satu produk kerajinan ate hanya diproduksi dalam jumlah tertentu untuk memberikan kesan unik.

Selain distribusi ke toko oleh-oleh, pemasaran kerajinan ate yang dilakukan TSDC menggunakan metode Business to Consumer (B2C). Ini berbeda dengan produk lain yang didistribusikan Mustika menggunakan skema Business to Business (B2B). Skema B2B artinya menjual produk ke bisnis lain, sedangkan B2C menyasar konsumen individu. “Beda dia kelasnya. Makanya saya nggak fokus ke ate untuk souvenir karena memang kelasnya dia beda. Kelasnya memang untuk hadiah,” ujar Mustika.

Sama seperti yang dikatakan Sri, produk kerajinan ate lebih mengandalkan ekspor, terutama ke negara Jepang. Sementara itu, pemasaran produk ate secara lokal lebih menyasar para pejabat pemerintah yang tertarik dengan produk eksklusif.

Berjalan selama lima tahun, TSDC telah memasok ratusan produk UMKM, baik itu yang berasal dari Bali maupun luar Bali. Produk UMKM yang disalurkan kebanyakan buatan tangan, seperti anyaman ate, anyaman pandan, hingga rajutan.

Mustika tak sebatas menjalankan distribusi saja, ia juga kerap mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu yang membanggakan untuknya adalah meraih hibah belasan juta dari salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tak ada rasa penyesalan dalam diri Mustika ketika berhenti menjadi pegawai bank. Ia justru merasa bersyukur. Di sela-sela pekerjaannya ia bisa mengerjakan pekerjaan domestik perempuan, seperti merawat anak, mengurus rumah, memasak, maupun tuntutan sosial di lingkungan masyarakat.

Ketika bekerja sebagai pegawai bank, Mustika mengaku sering mendapat omelan dari mertuanya. Pasalnya, ia kerap pulang malam karena lembur. Akhir pekan pun sering digunakan untuk mendatangi nasabah. Kini, pekerjaan Mustika lebih fleksibel.

Di sela-sela ceritanya, tampak beberapa kali Mustika tersenyum. Senyuman ini juga terbit pada wajah Sadri dan Sri. Perjalanan tiga perempuan ini membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap ekonomi rumah tangga. Perempuan juga bisa menjadi tokoh utama dan pembuka peluang bagi banyak orang. Sadri, Sri, dan Mustika merupakan tiga perempuan yang saling terhubung satu sama lain melalui anyaman ate.

(Karya dari Pelatihan Jurnalistik Metangi Bali oleh New Energy Nexus)

aafikotasarni.org sangkarbet
Tags: kerajinan atekerajinan di Balikerajinan tanganpohon hata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

No Content Available
Next Post
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia