Sudah sekian lama saya tidak menempuh perjalanan motor jarak jauh. Namun, rute yang saya lalui pagi itu cukup familiar, jalan yang sama yang selalu saya lewati setiap kali pulang kampung. Desa Gobleg menjadi tujuan saya kali ini. Berangkat dari Denpasar dengan langit cerah, cuaca tiba-tiba berubah di Wanagiri. Hujan deras mengguyur sehingga harus menepi sesaat dan berganti ke jas hujan. Tapi begitu memasuki wilayah Gobleg, hujan reda dan matahari menyambut dengan teriknya.
Saya datang untuk mengikuti Melasti Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, ritual yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Catur Desa ini terdiri dari empat desa adat yaitu Desa Gobleg, Munduk, Gesing, dan Umajero. Keempatnya berbagi ikatan spiritual dan tanggung jawab menjaga kawasan suci Alas Mertajati sebagai sumber air dan kehidupan bagi masyarakat.

Tahun ini, bertepatan dengan Anggara Kasih, Selasa, 4 November 2025, saya berkempatan datang tepat di rangkaian terakhir Melasti ini di Pura Pemulungan Agung, Desa Gobleg. Ritual dimulai dengan prosesi Mepamit atau Penerus Bakti. Tradisi ini dilakukan oleh perempuan yang menikah ke luar Catur Desa sebagai simbol pamit dan wujud bakti kepada leluhur. Menariknya, dalam sistem adat di sini tidak ada laki-laki yang nyentana. Tahun ini, sebanyak 91 pasangan mengikuti prosesi. “Dua tahun lalu hanya sekitar lima puluh,” ujar I Nyoman Werdiasa, warga asli Gobleg.

Dari Pura Pemulungan Agung, ribuan warga berjalan menuju Mendaung, sumber air suci di tengah hutan. Jaraknya sekitar dua kilometer menembus jalan pedesaan yang kelilingi pepohonan dan hutan bambu. Suasananya sejuk dan teduh, mengingatkan saya pada perjalanan ke Yeh Cacapan Semer di Desa Pedawa beberapa bulan lalu.
Iring-iringan berjalan tertib diatur oleh pecalang. Di barisan depan, pemangku membawa tirta, diikuti dengan para pemuda dan pemudi membawa sarana upacara, lalu tabuhan sekaa gong dan masyarakat lainnya mengiringi. Sepanjang jalan, warga menggelar meja membagikan air minum dan makanan untuk semua yang lewat. Semua dilakukan dengan sukarela sebagai bentuk ngayah.

Setiba di Mendaung, suasananya sangat tenang dan sejuk. Terdapat pepohonan lateng dan hutan bambu dengan sungai mengalir di sekelilingnya. Kidung melantun bersamaan dengan suara tonggeret di tengah hutan. Masyarakat mengambil tirta sebagai esensi utama penyucian pada upacara Melasti ini. Warga mengantre dengan tertib, mengikuti arahan sesuai urutan.







Di sini, saya benar-benar merasakan makna Melasti sebagai wujud penyucian diri sekaligus penghormatan kepada alam. Terlebih, wilayah Alas Mertajati telah lama dijaga sebagai kawasan konservasi adat. Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari sistem ekologis yang diwariskan untuk menjaga keseimbangan alam.
grenetwork.org shortlybusiness.com sangkarbet







