
Akhir tahun mulai memasuki musim hujan lagi. Memori peristiwa bulan September lalu masih membayangi. Pada 10 September 2025, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat 288 laporan kejadian, mulai dari banjir, tanah longsor, pohon tumbang, jembatan jebol, jalan rusak, dan kejadian lainnya.
Dua komunitas di Bali, U-INSPIRE Indonesia dan Capybara Unit Visual, memetakan lokasi bencana di Bali melalui pengumpulan data media sosial atau crowdsourcing. Pemetaan ini sebagai respons minimnya keterbukaan data dari pemerintah mengenai bencana di Bali. Crowdsourcing dilakukan dengan mengumpulkan unggahan publik berua video, foto, story, hingga repost yang beredar sepanjang 9-11 September 2025. Sebagian besar titik banjir berada di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Capybara Unit Visual mencatat gelombang Rossby sebagai pemicu banjir terparah di Bali selama sepuluh tahun terakhir. Dilansir dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), gelombang Rossby terbentuk akibat rotasi planet. Di laut, gelombang ini merupakan gerakan besar yang membentang secara horizontal ke arah barat. Gerakan gelombang Rossby di laut berdampak pada iklim laut, sehu laut, dan el nino. Sementara itu, di atmosfer, gelombang Rossby terbentuk akibat geografi bumi. Gelombang ini mentransfer panas dari daerah tropis ke kutub dan udara dingin dari kutub ke tropis. Fungsinya untuk mengembalikan keseimbangan atmosfer. Gerakan yang lambat membuat gelombang Rossby menghasilkan pola cuaca yang panjang dan persisten.
Sementara itu, U-INSPIRE Indonesia mengidentifikasi curah hujan di Bali mulai meningkat sejak Selasa, 9 September 2025, dari hujan ringan berangsur menjadi hujan lebat di beberapa daerah. Selama periode 9-10 September, hampir seluruh kabupaten/kota di Bali mengalami hujan deras dengan curah hujan antara 50 mm hingga lebih dari 150 mm per hari. Puncaknya mencapai sekitar 380 mm dalam satu hari di beberapa tempat. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Bali mencatat beberapa wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Jembrana (385,5 mm), Tampaksiring (373,8 mm), Klungkung (296 mm), dan Karangasem (316,6 mm). Menurut kategori BMKG, curah hujan 300 mm per hari mencapai dua kali lipat batas ekstrem (>150 mm/hari).
Hasil crowdsourcing U-INSPIRE Indonesia mengidentifikasi 57 titik banjir di Denpasar dan Badung dengan tinggi genangan bervariasi dari selutut hingga sepinggang orang dewasa. Angka yang sama juga didapatkan oleh Capybara Unit Visual, 8 titik mengalami banjir dengan ketinggian >2 m, 33 titik mengalami banjir ketinggian 1-2 m, dan 16 titik mengalami banjir dengan ketinggian 0-1 m.
Banjir dengan genangan tinggi paling banyak terjadi di Kota Denpasar, terutama di aliran Tukad Badung. Di Kampung Jawa – Jalan Ahmad Yani, banjir terjadi di kawasan pemukiman. Limpasan Tukad Badung menyebabkan sejumlah bangunan tenggelam. Dalam video yang dicantumkan U-INSPIRE Indonesia, tampak bangunan yang hanya terlihat atap saja. Sementara itu, banjir di Jalan Hasanuddin menyebabkan bangunan roboh total. Akibatnya, dua orang hilang dan bangunan di sekitarnya harus dirobohkan karena pondasi bangunan terancam. Pasar Badung juga merasakan dampak bencana, perekonomian lumpuh total, pedagang diungsikan, dan akses kendaraan terhambat.
Kabupaten Badung juga tak luput dari banjir. Banjir dengan genangan tinggi terjadi di dua kawasan, yaitu Gadon di Kapal dan Underpass Patung Dewa Ruci. Di lingkungan Gadon, banjir setinggi pinggang orang dewasa hingga menyebabkan longsor. Capybara mencatat lokasi banjir berada dekat dengan sungai hingga mengakibatkan bangunan roboh. Sementara itu, genangan air di Underpass Dewa Ruci menyebabkan akses jalan lumpuh total dari pagi hari hingga siang. U-INSPIRE Indonesia menulis bahwa kondisi tersebut diperparah dengan drainase yang buruk.
Peta U-INSPIRE Indonesia dapat diakses di sini.
Peta Capybara Unit Visual dapat diakses di sini.
U-INSPIRE menemukan bahwa wilayah dengan populasi tinggi berada dalam zona risiko tinggi. Ada beberapa faktor pemicu utama yang memperparah banjir, yaitu hujan ekstrem, alih fungsi lahan, keterbatasan drainase perkotaan, kerentanan geomorfologi dataran rendah, pola sungai meandering, dan sedimentasi.
Tahun sebelumnya, pada 2024, Capybara juga melakukan pemetaan banjir Denpasar dan sekitarnya selama bulan November hingga Desember. Pemetaan dilakukan melalui pengumpulan data media sosial dan digabungkan dengan pengamatan perubahan wilayah di lokasi terdampak banjir. Wilayah yang dipetakan Capybara pada tahun 2024 tak luput dari banjir September 2025, seperti wilayah aliran Tukad Badung, Jalan Ratna, dan beberapa area di Kuta. Dari pemetaan tersebut disimpulkan banjir dengan tinggi 20-30 cm banyak ditemukan di area pemukiman yang mengalami pertumbuhan bangunan pesat. Sementara, banjir dengan tinggi 60 cm terjadi di daerah padat dan kurang ruang terbuka hijau. Posisi jalan dekat sungai paling banyak terjadi genangan, kemungkinan sungai mengalami sedimentasi, penyempitan, atau aliran terhambat. Selengkapnya dapat diakses di sini.
Banjir bukan hal baru, Nuturang melalui unggahannya berjudul Kabar dan Kliping Banjir dari Masa Lalu mengumpulkan arsip banjir Bali sebelum abad ke-21. Arsip tersebut menunjukkan gagalnya pemerintah dalam menanggulangi banjir. Banjir yang terus menerus terjadi dibiarkan begitu saja. Perhatian hanya tertuju sesaat. Ketika keributan di media sosial mereda, isu banjir tenggelam bersama genangan air yang perlahan surut.
grenetwork.org shortlybusiness.com sangkarbet










