• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
14 October 2025
in Berita Utama, Kabar, Kabar Baru, Lingkungan
0
0
Kondisi Dusun Wanasari (6/10). Foto oleh: Kresnanta

Sapiah tengah duduk di antara perabot rumahnya yang masih tersisa. Hampir sebulan sejak banjir besar melahap habis rumahnya. Kini, yang tersisa hanya sebagian bangunan rumah. Setengah bagian belakang bangunan milik Sati Sapiah tak terselamatkan.

Sudah hampir sebulan pula Sapiah bersama suami dan anaknya tinggal di rumah tersebut. Bagian belakang yang terbuka ia lapisi terpal, berharap bisa menutup sisi rumah agar tak terlihat dari jalan utama. Atap rumahnya hilang sebagian terbawa air. Beberapa sampah tampak masih menggantung di atap.

Rumah Sapiah berlokasi di Dusun Wanasari atau yang lebih dikenal Kampung Jawa, tepatnya di sisi selatan jembatan. Jalan menempuh rumahnya harus melewati gang pemakaman yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Rumah Sapiah berlokasi paling bawah, tepat di bibir sungai. Di antara deretan rumah yang ada di bibir sungai, hanya keluarga Sapiah yang masih bertahan. Sisanya mengungsi ke posko pengungsian terdekat. “Kita bertahan di sini karena satu kita mau ngungsi ke mana, dua barang kita banyak,” ujar Sapiah.

Sapiah dan suaminya, Usman, bekerja sebagai ‘kuli’ ayam potong. Tempatnya tinggal merupakan tanah kontrak yang dimiliki bosnya. Sudah bertahun-tahun Sapiah tinggal di sana, sejak dirinya masih kecil.

Ketika mengingat tentang bencana banjir yang menghantam rumahnya beberapa bulan lalu, Sapiah hanya bisa tersenyum getir. “Kejadiannya cepat sekali,” ujarnya. Saat itu ia dan suaminya tengah bekerja. Waktu kerjanya memang pukul 12:00 dini hari hingga 08:00.

Sebelum berangkat kerja, Sapiah berpesan pada anaknya untuk menjaga rumah. Perasaannya tidak enak karena hujan terus mengguyur. Biasanya, banjir hanya mencapai bagian belakang rumahnya yang diisi dapur dan kamar mandi. Itu pun tidak menyebabkan kerusakan parah.

Musala di atas rumah Sapiah. Foto oleh: Kresnanta
Tumpukan barang di atas genteng pasca banjir. Foto oleh: Kresnanta

Namun, banjir kali ini berbeda. Pukul 01:30, air mulai naik mencapai kandang ayam yang ada di sebelah rumahnya. Usman pun bergegas pulang, memindahkan perabotan ke musala di atas rumahnya.

Perasaan khawatir dan gugup membuat perut Sapiah melilit. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Urusan perut belum tuntas, air sungai ternyata sudah naik mencapai musala. “Kalau orang bilang banjirnya jam 03:30 itu bohong, Gek. Karena kita paling bawah jam 02:00,” ungkap Sapiah.

Barang-barang yang bisa diselamatkan langsung diangkat Sapiah ke atas. “Banyak yang nggak ketolong. Kamar sampai jebol,” ujar Sapiah sembari menunjukkan bulu kuduknya yang merinding mengingat kejadian tersebut.

Belum ada sebulan sejak Sapiah merenovasi rumahnya. Ternyata banjir lebih dulu melahap rumahnya. Hingga kini, di sungai dekat rumah Sapiah masih tersisa sampah-sampah yang terbawa banjir.

Dua hari pasca banjir, pernyataan Sapiah sempat viral karena mengaku tak ada bantuan dari pemerintah. Pasca pernyataan tersebut ia lontarkan, sejumlah bantuan datang, kebanyakan bantuan berupa sembako. Salah satu anggota dewan dari daerah itu pun ikut memberikan bantuan.

Desas-desus bantuan pembenahan rumah didengar warga Dusun Wanasari, termasuk Sapiah. Data telah dikumpulkan sejak minggu lalu. Warga yang mendengar itu pun mulai membersihkan rumah mereka yang telah lama ditinggalkan ke posko pengungsian. Namun, bantuan tersebut belum ada kabar lagi. Daripada menunggu bantuan yang tak pasti, Sapiah memutuskan merenovasi rumahnya dengan uang pinjaman.

Jejak pembangunan di bibir sungai Dusun Wanasari terlihat dari Google Street View. sejak tahun 2013 hingga 2025, bangunan di bibir sungai masih sama. Namun, pembangunan semakin padat pada tahun 2022. Hal yang sama juga terlihat melalui citra historis Google Earth, dari tahun 2003 – 2025. Pada tahun 2025, bangunan semakin banyak dan semakin padat. Vegetasi di bibir sungai digantikan oleh pemukiman penduduk.

Sempadan sungai untuk mempertahankan keseimbangan

Sungai merupakan bagian penting bagi kehidupan, sebagai sumber air, sebagai habitat alami berbagai makhluk hidup, hingga menjadi identitas spiritual masyarakat. Dari sejumlah fungsi tersebut, sungai semestinya dirawat, bukan dicemari.

Bagian penting dalam menjaga fungsi sungai adalah memastikan adanya sempadan sungai. Sempadan merupakan kawasan sepanjang kiri-kanan sungai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Bali, pengaturan sempadan sungai disesuaikan dengan kedalaman sungai. Pada sungai bertanggul, lebar sempadan sungai minimal 3 meter. Pada sungai tidak bertanggul, lebar sempadan sungai 10 meter untuk kedalaman sungai 3 meter, 15 meter untuk kedalaman sungai 3-20 meter, dan 30 meter untuk kedalaman sungai di atas 20 meter.

Idealnya, sempadan sungai ditumbuhi vegetasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hal ini diungkapkan oleh Sayu Komang dari Yayasan IDEP. “Kalau kita lihat dulunya di hulu itu masih banyak tanaman-tanaman pemegang tanah, kemudian penyerap air seperti bambu,” ujar Sayu.

Sayangnya, kini vegetasi yang seharusnya tumbuh di sempadan sungai malah digantikan oleh bangunan, baik itu untuk pemukiman maupun kepentingan pariwisata. Bambu-bambu ditebang untuk memperlihatkan wilayah sungai agar lebih jelas ketika dilihat dari jauh.

Seperti yang terjadi pada aliran Tukad Badung, sebagian besar daerah aliran sungai (DAS) wilayah perkotaan atau di tengah pemukiman hampir tidak ada vegetasi. Penataan DAS dilakukan dengan mengganti vegetasi alami menjadi taman untuk jogging. “Padahal sempadan sungai itu harusnya benar-benar diberikan space (ruang) misalnya 10 meter untuk memastikan ada vegetasi atau ada tanaman,” terang Sayu.

Jika melihat aliran Tukad Badung, Sayu mengatakan masalahnya bukan hanya vegetasi di sempadan, tetapi juga pelurusan jalur sungai. “Jadi mereka membuat jalur ulang. Banyak sungai yang harusnya berkelok-kelok itu dibuat lurus,” ujarnya. Pelurusan jalur sungai biasanya dilakukan dengan pemanfaatan daerah aliran sungai untuk infrastruktur. Misalnya, satu kelokan sungai dijadikan lurus dengan pembangunan jalan, pembangunan taman, dan pembangunan lainnya. Ketika itu dilakukan, aliran sungai tidak lagi sesuai dengan jalur awalnya.

“Dan ketika banjir, ini sebenarnya bisa kita langsung pantau. Kita bisa langsung dapatkan jalurnya sendiri karena alam menunjukkan ini loh jalur saya yang sebenarnya, yang kalian alihkan di awal,” ungkap Sayu. Banjir seolah menjadi alarm untuk mendata kembali jalur awal Tukad Badung.

Sayu mengungkapkan masalah ekologis sungai tidak hanya terjadi di Tukad Badung, tetapi hampir di seluruh sungai di Bali. Salah satunya terjadi di Sungai Ayung yang panjangnya mencapai 68 km. Hulu Sungai Ayung mulai difungsikan sebagai rafting untuk menarik wisatawan. Selain itu, vegetasi di sempadan sungai dibersihkan untuk mempermudah akses turis. Sayu menilai penataan Sungai Ayung malah berdampak terhadap kecepatan laju air dan terjadi kikisan tanah di sempadan sungai, sehingga wilayah hilir semakin dangkal.

Pemanfaatan sungai sebagai kawasan ekowisata dinilai berpotensi menghilangkan ekologi asli sungai. “Malah ada penambahan atau penggantian tanaman yang dulunya memang dia sudah ada puluhan tahun di sana,” ujar Sayu. Ia menekankan hal yang seharusnya diprioritaskan saat ini adalah mengidentifikasi tanaman endemik dan mencoba mengembalikan kondisi ekologi di sepanjang sempadan sungai.

Inisiatif masyarakat menata Tukad Bindu

Tak jauh dari aliran Tukad Badung, ada Tukad Bindu. Sebelum tahun 2010, kondisi Tukad Bindu tak jauh beda dari Tukad Badung. Sejumlah tanah di tepi sungai dimiliki oleh masyarakat sekitar. Tanah tersebut difungsikan sebagai teba, tempat membuang sampah dan benda-benda tak terpakai. Pembangunan pun mulai masif di bantaran sungai, hingga kebersihan sungai tak lagi terjaga.

Lelah melihat Tukad Bindu yang kotor, sejumlah masyarakat yang tinggal di bantaran Tukad Bindu berinisiatif mengubah wilayah tersebut menjadi tertata. Pada tahun 2010, Gusti Rai Ari Temaja bersama sejumlah tokoh penggerak mulai menggandeng masyarakat bantaran Tukad Bindu. Tiga tahun setelahnya terbentuk Komunitas Tukad Bindu yang anggotanya terdiri dari masyarakat bantaran.

Komunitas ini mencoba mengaplikasikan Tri Hita Karana dengan Tri Kaya Parisudha untuk menjaga bantaran sungai. Artinya, menggabungkan konsep perilaku individu untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan.

Program Kali Bersih pun mulai digaungkan untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat sampah. “Kita ubah pola teba menjadi lebuh mekenyem,” ujar Ari Temaja. Teba yang awalnya identik dengan kotor dan sampah diubah menjadi bersih hingga membawa senyum.

Rekreasi air di Tukad Bindu

Aturan sempadan sungai pun mulai ditetapkan. Di Tukad Bindu, sempadan sungai dijaga minilai 2,5 meter. Namun, ada beberapa sempadan sungai yang tidak mencapai ukuran minimal karena sudah telanjur dibangun. Ari Temaja mengatakan itu tidak masuk pelanggaran karena sudah ada sebelum aturan sempadan ditetapkan.

Beberapa bangunan di bantaran sungai juga ditata agar menghadap sungai. Pasalnya, bangunan yang menghadap sungai dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan.

Ari Temaja menilai keberhasilan penataan Tukad Bindu disebabkan oleh sistem yang terintegrasi. “Ada penggerak, ada yang digerakkan. Karena kita mempunyai suatu rencana nyata, tujuan jelas, dan batas ruang yang tegas,” ujarnya.

Seluruh masyarakat di bantaran Tukad Bindu dilibatkan dalam proses penataan. Penolakan pada awal inisiasi adalah hal yang lumrah. Seiring berjalannya waktu, masyarakat merespons dengan positif. Bahkan, pemilik tanah di bantaran dengan sukarela menyerahkan tanahnya untuk ditata. “Harus punya nilai dulu. Jika sudah punya nilai, baru ada keterikatan tugas tanggung jawab yang berkelanjutan,” ujar Ari Temaja.

Proses yang dilalui Tukad Bindu tidak mudah. Butuh waktu sekitar 8 tahun untuk menjadikan Tukad Bindu seperti sekarang ini. Kini, Tukad Bindu dijadikan tempat rekreasi. Sejumlah fasilitas ada di bantaran sungai tersebut, mulai dari coworking space, warung, tempat bermain anak, hingga tempat olahraga.

Di kanan dan kiri sungai dipenuhi pepohonan. Mengubah Tukad Bindu menjadi tempat rekreasi tidak serta merta membuat Komunitas Tukad Bindu menghilangkan tanaman endemik di sana. Sebaliknya, pohon dibiarkan tumbuh, tanaman ditambah agar vegetasi bantaran sungai tetap terjaga.

Ari Temaja mengakui pembangunan di sekitar Tukad Bindu semakin masif. Meski begitu, Komunitas Tukad Bindu yang kini menjadi Yayasan Tukad Bindu berkomitmen menjaga sempadan sungai dan aliran sungai agar tidak tercemar.

Tukad Bindu yang berlokasi di Kelurahan Kesiman, Kota Denpasar merupakan Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Badung yang bermuara di Suwung. Luas kawasannya kurang lebih 2,2 hektar.

Hingga kini, Tukad Bindu masih eksis sebagai ruang publik. Ruang di Tukad Bindu juga kerap difungsikan sebagai penyelenggaraan acara dan kunjungan.

sangkarbet
Tags: daerah aliran suungaiekologis sungaisempadan sungaisungai di BaliTukad Badung
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Menelisik Ancaman Bencana di Bali melalui Analisis Sosial

Menelisik Ancaman Bencana di Bali melalui Analisis Sosial

15 November 2025
Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Memetakan Lokasi Banjir dari Media Sosial

9 November 2025
Tukad Badung, Keindahan yang Menyamarkan Pencemaran

Tukad Badung, Keindahan yang Menyamarkan Pencemaran

22 June 2019
Para Penjaring Sampah Sungai Badung

Para Penjaring Sampah Sungai Badung

1 October 2013
Next Post
Diskusi Sejarah dan Dinamika Pers Mahasiswa

Menjaga Nyala Pers Mahasiswa di Tengah Sunyinya Dukungan Kampus

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

15 March 2026
Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia