• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, September 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menjaga Nyala Pers Mahasiswa di Tengah Sunyinya Dukungan Kampus

Maya Ayu Revalina by Maya Ayu Revalina
14 October 2025
in Kabar Baru, Opini
0
0

Lembaga Pers Mahasiswa atau yang kerap dikenal dengan singkatan LPM telah mengalami reduksi kuantitas dari tahun ke tahun. Sedikitnya jumlah sumber daya manusia (SDM) yang ada menandakan penurunan minat mahasiswa untuk bergabung di bawah naungan pers. Fenomena ini menjadi pertanyaan besar dari berbagai kalangan. Beragam asumsi datang untuk berkecamuk dalam pikiran masing-masing, sehingga tidak dipungkiri didapati adanya perdebatan sengit perihal itu.

Beberapa kampus agaknya gentar akan keberadaan LPM. Sebab, kritis menjadi hal yang mengerikan bagi para birokrat di dalamnya. Sebagaimana mestinya penguasa yang tidak suka jika ada yang mengusik kekuasaannya, aneh rasanya jika hal serupa terjadi di lembaga pendidikan yang sudah seharusnya menjunjung tinggi nilai integritas. Kampus idealnya menjadi ruang aman untuk berdialog secara kritis di mana mahasiswa dan civitas akademika bebas untuk berpikir, berdiskusi, berekspresi, dan menyuarakan pendapat tanpa rasa takut. 

Di sisi lain, mereka yang bersuara justru dibungkam dengan aksi pembredelan, intimidasi, bahkan melibatkan kekerasan. Coba tanyakan kepada anggota LPM berapa kali sudah ikut perjamuan bersama rektorat untuk membahas tulisannya yang dianggap mengancam itu. Sikap otoriter dan enggan menerima kritik ternyata masih saja mengakar kuat di kalangan birokrat kampus. 

Dilansir dari catatan kasus Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) periode 2020-2021, terjadi 185 represi yang dialami pers mahasiswa. Mayoritas pelaku represi adalah kampus dengan jumlah 48 kasus. Hasil riset yang didominasi oleh birokrat kampus, dalam hal ini rektorat sebagai pelaku, tentu menimbulkan ironi. Sebab, kampus yang semestinya melahirkan mahasiswa yang kritis, justru melarang mahasiswa untuk kritis.

Beberapa kampus menginginkan LPM untuk menjadi humas yang sekedar membawakan berita baik terkait aktivitas kampusnya. Belum lagi tuntutan terkait prestasi ini itu yang seolah mengejar tenggat publikasi supaya nama instansinya dapat bertengger di laman postingan media sosial. Namun, ketika tiba soal pendanaan, kampus seolah berlagak tuli, sehingga mekanisme yang ada terkesan rumit. 

Kerasnya dunia politik kampus memang tidak untuk sembarang orang. Tidak hanya rektorat saja, bahkan mahasiswa turut andil dalam memainkan dinamika kampus. Sama halnya dengan Trias Politika, organisasi mahasiswa juga meliputi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pembentukan koalisi dan saling sikut menyikut sudah menjadi hal biasa selama berlangsungnya Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira). Maka, tidak heran jika kampus dijuluki sebagai “Miniatur Negara”.

Setiap organisasi yang ada mempunyai kepentingan politik yang berbeda. Mahasiswa cenderung memilih organisasi yang dapat mengantarkannya menuju tujuan politisnya, istilahnya mencari  “batu loncatan” kalau kata pejabat kampus. Mungkin untuk saat ini, itu yang mendasari kenapa pada akhirnya terdapat organisasi yang sepi peminat, hingga yang sangat ramai peminat. 

Kendati demikian, LPM baiknya juga membenahi internalnya dengan meningkatkan kapasitas individu. Kurangnya kapasitas untuk menyajikan liputan yang komprehensif dapat berujung pada petaka. Di tengah rapuhnya perlindungan terhadap pers mahasiswa saat ini, satu-satunya perisai utama adalah diri mereka sendiri. Situasi ini menuntut mereka untuk membekali diri dengan pengetahuan yang matang, baik sebelum, selama, maupun setelah liputan.

Seringkali pelatihan jurnalistik di pers mahasiswa berakhir pada tahap Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklat Dasar). Sementara, setiap individu datang melalui latar belakang yang beragam, sehingga diperlukannya rancangan yang lebih terarah agar pemahaman mereka bisa selaras. Proses ini seharusnya tidak hanya berhenti di masa pengkaderan, melainkan berlanjut hingga akhir masa keanggotaan. Kapasitas individu tersebut pada akhirnya akan bersinergi dengan kekuatan kolektif pers mahasiswa secara keseluruhan. Karena itu, upaya memperkuat ketahanan terhadap represi perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas individu, agar LPM memiliki pijakan yang jelas saat menghadapi berbagai bentuk konflik.

sangkarbet
Tags: JurnalismeOpiniPers Mahasiswa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Maya Ayu Revalina

Maya Ayu Revalina

Related Posts

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Next Post
Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

10 September 2026
Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

10 September 2026
Transisi Energi Mesti Diikuti Pemanfaatan PLTS Atap dan Menghentikan Pembangkit Gas

Transisi Energi Mesti Diikuti Pemanfaatan PLTS Atap dan Menghentikan Pembangkit Gas

9 September 2026
Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia