• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, July 31, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pemiskinan Petani dan Tidak Efektifnya Reklamasi

Ade Ubud by Ade Ubud
17 April 2016
in Kabar Baru, Opini
0
0

Petani di Ubud yang kian terjepit oleh vila

Apa benar over population adalah pemicu kerusakan lingkungan dan krisis sosial?

Apa benar dunia ini sudah kelebihan populasi (overpopulated)? I doubt it, I don’t think this world is overpopulated. Bahwa greed adalah satu satunya penyebab kerusakan lingkungan, itu benar.

Alih fungsi profesi dari petani menjadi buruh, membuat banyak orang mengandalkan urusan perut pada petani yang jumlahnya menurun tajam. Konsentrasi penduduk di kota kota besar juga memberi kesan dunia ini penuh sesak. Dunia ini kekurangan petani, jarang yang mau bertani, padahal doyan makan, dan dengan terpaksa harus senang berkumpul di satu tempat.

Jarak antara produksi makanan dan konsumen makin jauh. Hingga muncul istilah rantai distribusi, yang makin panjang dan membuat harga meningkat terus seiring memanjangnya rantai distribusi.

Perkotaan yang dipadati penduduk tercipta karena adanya sentralisasi perindustrian yang mematikan penghidupan para petani Indonesia lewat banyak kebijakannya, justru tidak mengayomi petani yang harusnya merupakan tulang punggung satu wilayah. Alih alih dimakmurkan, justru dimiskinkan. Inilah syarat terciptanya buruh murah untuk industri.

Jika saja penduduk tersebar merata dan jarak antara produsen dan konsumen tidak jauh, maka tidak akan ada masalah masalah khas kota besar, seperti kepadatan penduduk, macet, meningkatnya harga perumahan dan kebutuhan pokok lain.

Sistem perekonomian yang didasarkan pada pola seperti ini tidak akan menciptakan kesejahteraan yang merata. Bahkan perekonomian yang mendukung praktik ini adalah salah satu biang kerok segala krisis sosial dan ekologi. Jika ingin dibenahi, pola pemukiman, alur produksi dan konsumsinya yang dikaji ulang.

Sistem “closed loop” adalah sistem yang memungkinkan terbentuknya pemukiman yang mandiri, mendapatkan semua sumber kebutuhannya dari lingkungan sekitarnya.

Pertukaran barang dan jasa serta lalu lintas manusia yang sekarang ada benar benar hal yang sia-sia. Begitu banyak menguras energi, waktu serta ruang. Sistem seperti ini jika dipertahankan, hanya akan menguras lebih banyak uang, energi dan ruang.

Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dengan pola yang seperti ini? Alih alih menciptakan penghidupan di ruang ruang lain yang masih luas, justru berjejal di titik-titik tertentu.

Inilah yang membuat saya yakin, reklamasi sangat tidak efektif dari berbagai macam sudut pandang jika itu dilakukan di Indonesia. Ini sudah jelas tujuannya hanya mencari keuntungan dari menciptakan kelangkaan ruang dan menaikkan nilai ruang (tanah, bangunan). [b]

Tags: LingkunganOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ade Ubud

Ade Ubud

Petani

Related Posts

Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026

Mengenal Trend Asia, Penggerak Advokasi Energi dan Lingkungan

27 July 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Next Post
Prabu Udayana: Wiracarita dalam Rupa

Prabu Udayana: Wiracarita dalam Rupa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

(Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata”

Pemerintahan Autopilot: Berkaca dari Temuan Pansus TRAP tentang Pembangunan Ugal-Ugalan

31 July 2026
Jalan Panjang Desa Adat Mengelola Sumber Kehidupan Alas Mertajati

The Long Road of the Desa Adat in Managing the Life Source of Alas Mertajati

31 July 2026
Buku Seabad Relokasi Batur: Upaya Lingkar Studi Batur Merawat Ingatan Kolektif

Buku Seabad Relokasi Batur: Upaya Lingkar Studi Batur Merawat Ingatan Kolektif

30 July 2026
Manis-Kecut Pengguna Bus TMD

Manis-Kecut Pengguna Bus TMD

30 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia