• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pemiskinan Petani dan Tidak Efektifnya Reklamasi

Ade Ubud by Ade Ubud
17 April 2016
in Kabar Baru, Opini
0
0

Petani di Ubud yang kian terjepit oleh vila

Apa benar over population adalah pemicu kerusakan lingkungan dan krisis sosial?

Apa benar dunia ini sudah kelebihan populasi (overpopulated)? I doubt it, I don’t think this world is overpopulated. Bahwa greed adalah satu satunya penyebab kerusakan lingkungan, itu benar.

Alih fungsi profesi dari petani menjadi buruh, membuat banyak orang mengandalkan urusan perut pada petani yang jumlahnya menurun tajam. Konsentrasi penduduk di kota kota besar juga memberi kesan dunia ini penuh sesak. Dunia ini kekurangan petani, jarang yang mau bertani, padahal doyan makan, dan dengan terpaksa harus senang berkumpul di satu tempat.

Jarak antara produksi makanan dan konsumen makin jauh. Hingga muncul istilah rantai distribusi, yang makin panjang dan membuat harga meningkat terus seiring memanjangnya rantai distribusi.

Perkotaan yang dipadati penduduk tercipta karena adanya sentralisasi perindustrian yang mematikan penghidupan para petani Indonesia lewat banyak kebijakannya, justru tidak mengayomi petani yang harusnya merupakan tulang punggung satu wilayah. Alih alih dimakmurkan, justru dimiskinkan. Inilah syarat terciptanya buruh murah untuk industri.

Jika saja penduduk tersebar merata dan jarak antara produsen dan konsumen tidak jauh, maka tidak akan ada masalah masalah khas kota besar, seperti kepadatan penduduk, macet, meningkatnya harga perumahan dan kebutuhan pokok lain.

Sistem perekonomian yang didasarkan pada pola seperti ini tidak akan menciptakan kesejahteraan yang merata. Bahkan perekonomian yang mendukung praktik ini adalah salah satu biang kerok segala krisis sosial dan ekologi. Jika ingin dibenahi, pola pemukiman, alur produksi dan konsumsinya yang dikaji ulang.

Sistem “closed loop” adalah sistem yang memungkinkan terbentuknya pemukiman yang mandiri, mendapatkan semua sumber kebutuhannya dari lingkungan sekitarnya.

Pertukaran barang dan jasa serta lalu lintas manusia yang sekarang ada benar benar hal yang sia-sia. Begitu banyak menguras energi, waktu serta ruang. Sistem seperti ini jika dipertahankan, hanya akan menguras lebih banyak uang, energi dan ruang.

Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dengan pola yang seperti ini? Alih alih menciptakan penghidupan di ruang ruang lain yang masih luas, justru berjejal di titik-titik tertentu.

Inilah yang membuat saya yakin, reklamasi sangat tidak efektif dari berbagai macam sudut pandang jika itu dilakukan di Indonesia. Ini sudah jelas tujuannya hanya mencari keuntungan dari menciptakan kelangkaan ruang dan menaikkan nilai ruang (tanah, bangunan). [b]

Tags: LingkunganOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ade Ubud

Ade Ubud

Petani

Related Posts

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Next Post
Prabu Udayana: Wiracarita dalam Rupa

Prabu Udayana: Wiracarita dalam Rupa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia