• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 26, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Pakai Kompor, Ngaben pun Makin Praktis

Anton Muhajir by Anton Muhajir
8 February 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Teknologi
0
1

ngaben-kompor-01

Tak lebih dari dua jam, pembakaran jenazah pun selesai.

Karena itulah Ni Nyoman Sari memilih menggunakan kompor untuk membakar jenazah anaknya yang meninggal pertengahan Januari lalu. Kompor menjadi pilihan praktis bagi Sari untuk mengantarkan arwah anak ketiganya itu menuju dunia barunya.

Sari dan keluarganya melakukan pengabenan anak perempuannya tersebut di setra desanya, Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung. Sekitar seratus orang menyaksikan salah satu bagian dari ngaben, upacara pembakaran jenazah ala Hindu Bali tersebut.

Saya turut di sana siang itu. Menyaksikan ngaben mantan istri kakak ipar yang meninggal di usia muda, sekitar 30 tahun ini. Salah satu yang menarik bagi saya adalah karena makin banyaknya warga Hindu Bali menggunakan kompor sebagai alat untuk membakar jenazah.

Sebulan sebelumnya, saya juga ikut ngaben suami salah satu teman di Singaraja. Di sana pun pakai kompor untuk membakar, bukan dengan kayu seperti orang Bali pada zaman dulu. Nenek mertua saya juga ngabennya waktu itu, sekitar tiga tahun lalu, pun menggunakan kompor.

ngaben-kompor-02Meledak
Sambil melihat proses pembakaran jenazah tersebut, saya pun ngobrol dengan petugas pembakaran, Putu Eka. Menurut Eka, tren untuk ngaben menggunakan kompor di Bali memang hal baru. Kira-kira sepuluh tahun terakhir. Salah satu alasannya, sama seperti alasan Sari, biar praktis saja.

Menurut Eka, dulunya orang ngaben biasa pakai kayu untuk membakar jenazah. Pembakaran pun lama. Bisa sampai seharian dari pagi hingga sore. “Bisa lebih lama kalau hujan,” kata Eka. Selain lebih lama, pembakaran juga lebih repot karena pakai kayu bakar.

Dengan menggunakan kompor, prosesi pembakaran jenazah pun tak lebih dari dua jam. Kadang malah lebih cepat dari itu. Jenazah sudah jadi abu menyisakan tulang belulang yang biasanya dilarung di laut atau sungai.

Bahan untuk pembakaran dengan kompor, menurut Eka, jauh lebih praktis. Dalam setiap pembakaran satu jenazah, Eka menghabiskan sekitar 30 liter bahan bakar terdiri dari 29 liter solar dan 1 liter bensin. Kalau terlalu banyak bensin, menurutnya, bisa meledak.

Dia mengaku pernah mengalami kejadian tidak enak tersebut, meledak kompornya ketika membakar jenazah.

Melingkar
Peralatan untuk ngaben dengan kompor ini terdiri dari kompresor untuk mendorong bahan bakar, tabung gas sebagai tempat bahan bakar, selang untuk mengalirkan bahan bakar, dan pipa besi untuk keluarnya api. Pipa besi ini serupa yang dipakai untuk mengalirkan air di kamar mandi sehingga tak terlalu cepat panas.

“Juga tidak cepat kotor karena bisa mengganggu aliran bahan bakar,” ujar Eka.

Pada ujung pipa besi ini bentuknya melingkar serupa obat nyamuk bakar. Tujuannya agar kekuatan api yang keluar lebih besar. Makin besar api, makin cepat selesai pembakaran.

Eka sendiri sudah menjalani pekerjaan sebagai tukang kompor ngaben selama 10 tahun. Dia melayani permintaan di sekitar desanya, Blahbatuh. Misalnya di Mengwi, Sangeh, dan sekitarnya. Dia tidak mau melayani jauh-jauh karena, menurutnya, di tempat lain juga pasti sudah ada petugas.

Biaya satu kali bakar ini sekitar Rp 1 juta. Padahal kalau pakai kayu bisa lima sampai sepuluh kali lipat hanya untuk pembakaran, belum termasuk bahan lain seperti bade, tempat jenazah.

Jadi, selain praktis, ngaben dengan kompor juga lebih murah. [b]

Tags: AgamaBadungBali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Next Post
Jamsos Mengapa Hanya untuk Pekerja?

Jamsos Mengapa Hanya untuk Pekerja?

Comments 1

  1. imadewira says:
    13 years ago

    Iya betul, ngaben pakai kompor ini sekarang sudah umum, semua orang ngaben hampir pasti pakai kompor.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Aksi Tolak Terminal LNG ke DPRD Bali 

Antisipasi Risiko Proyek Energi Gas di Bali

26 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

25 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia