• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Munculnya Nilai Lokal dalam Karya Sastra

Anton Muhajir by Anton Muhajir
10 February 2011
in Agenda, Buku, Kabar Baru
0
0

Teks Bentara Budaya Bali, Ilustrasi I Nyoman Darma Putra

Bali, dengan segala problematikanya, selalu menyimpan hal-hal yang menarik untuk ditelisik, seakan tak habis-habis dikikis.

Hingga kini, nilai serta warna budaya lokal masih mampu menyita perhatian para novelis ataupun cerpenis Bali, sebagai titik berangkat karya-karya  mereka. Dua di antaranya adalah Wayan Artika dan Komang Ariani.

Dalam diskusi Sandyakala Sastra # 8 yang digelar Bentara Budaya Bali pada Rabu kemarin, kedua sastrawan Bali tersebut berupaya membagikan pengalaman kreatif proses penulisan novel mereka yang secara kebetulan keduanya mengusung topik “Kembar Buncing”. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, kelahiran kembar buncing dipandang sebagai sebuah kutukan atau aib. Karenanya, berbagai ritualpun dilakukan termasuk pengucilan dari desa setempat (kasepekang).

Dalam novel Incest, Wayan Artika menguak kasus Kembar Buncing yang memang pernah terjadi di desa kelahirannya, Batungsel, Tabanan. Hanya saja, ketika tulisan itu dimuat secara bersambung di Bali Post, dia sering mendapat teror dan ancaman.

“Mereka menganggap saya telah merusak adat dan keberadaan saya tidak bisa diterima lagi,” tutur Wayan Artika, yang juga menulis Rumah Kepompong dan antologi esai budaya Kembali ke Bali, mengawali dialog malam itu.

Walaupun tema yang diangkat sama, namun Komang Ariani, tidaklah mengalami perlakuan sebagaimana dialami Wayan Artika. Penulis kelahiran 19 Mei 1978 yang juga sempat bergiat sebagai penyiar dan jurnalis global Bali FM serta KBR 66 H ini, melalui novel “Senjakala”nya (2010), mengisahkan bocah laki-laki bernama Raka yang kembar buncing dengan Naka.

Raka menghilang tanpa jejak. Masyarakat percaya kalau ia disembunyikan makhluk halus di kawasan wisata Gunung Kawi. “Dalam proses pencarian itu, muncullah Lily, wartawan keturunan Tionghoa yang kemudian jatuh cinta pada Cakra, pemuda Bali,” tambah Komang Ariani yang pernah meraih pemenang Pertama Lomba Menulis Cerita Bersambung Femina 2008.

Sastra, media kritik sosial
Apa yang ditulis oleh Komang Ariani maupun Wayan Artika bolehlah dibaca sebagai upaya merespon dan menyikapi secara kritis tradisi yang mengakar dalam masyarakat. Bali tidaklah semata dilihat sebagai pulau elok nan eksotik, karena pada nyatanya masyarakat tengah menghadapi permasalahan yang kompleks; ketegangan antara keinginan untuk menjadi manusia modern dan keteguhan mempertahankan tradisi yang ada. Karenanya, sastra dipandang sebagai media yang mampu menjadi kontrol sosial sehingga masyarakat mampu menyikapi fenomena yang ada dengan lebih bijak.

Seorang penanya yang bergiat di Kajian Budaya, juga mengungkapkan kecemasannya akan adat Bali yang dirasa kurang humanis. Terlebih mengenai masalah pelarangan penguburan mayat bagi mereka yang dipandang tidak se’arah’ dengan masyarakat setempat. Apabila tidak disikapi dengan cerdas dan penuh pengendalian, persoalan yang rentan ini, bukan tidak mungkin akan menciptakan massa yang radikal, yang tidak lagi memahami philosofi yang mendasari adat itu sendiri.

“Dalam hal ini, bolehlah dikatakan bahwa sastra merupakan penjaga kesadaran masyarakat,” tambahnya.

Dalam diskusi, sempat mengemuka tetang kemungkinan adanya tren mengangkat konflik adat, terumata bagi para penulis muda. “Saya berpikir, untuk mengangkat nilai-nilai lokal, kita tidak mesti melulu mengacu pada permasalahan antar atau intern adat. Misalkan saja Putu Wijaya, dalam karyanya yang fenomenal, Malam bertambah Malam, ia berhasil memunculkan spirit Bali,” ucap sastrawan Aryanta Soetama.

Juwita Lasut, staf Bentara Budaya Bali, berharap diskusi ini mampu menjadi ruang dialog yang sehat bagi siapapun untuk mengemukakan pikiran dan gagasannya serta tak ragu untuk bersilang pendapat. Menurutnya, Sandyakala Sastra ini memang sengaja dibuka untuk publik, agar sastra tak semata hanya ditujukan untuk kalangan tertentu saja.

“Kami tentu sangat senang, apabila pada pertemuan-pertemuan berikutnya semakin banyak kalangan yang terlibat, terutama teman-teman kaum muda,” ujarnya. [b]

Ilustrasi diambil dari Dasar Bali.

Tags: BudayaBukuDiskusiSastra
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

28 May 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

22 July 2024
Next Post
Tata Ruang untuk Siapa?

Tata Ruang untuk Siapa?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia