• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, December 13, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Mewujudkan Perlindungan Anak dalam Aturan Adat

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
21 December 2017
in Berita Utama, Budaya
0 0
0
Pameran gambar yang bertajuk “Anak-anak bercerita dengan gambar, tentang desanya” diikuti oleh empat komunitas. Mereka adalah anak-anak dari Sanggar Anak Tangguh, Sanggar Bungan Sandat, Maha Putra Art dan Komunitas Seni Jari Menari.

Desa adat merekomendasikan perlindungan anak agar masuk dalam aturan adat.

Rekomendasi tersebut termasuk salah satu poin yang dibahas Majelis Desa Pekraman (MDP) pada pertemuan bersama 200 pengurus desa adat pada pertengahan November lalu di Denpasar.

Perlindungan anak dalam aturan adat tertulis, misalnya awig-awig atau perarem, merupakan salah satu daru tiga agenda yang dibahas. Dua agenda lain adalah komisi eksistensi desa pakraman sebagai subjek hukum menghadapi tantangan global dan komisi evaluasi program Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) yang menjadi payung di tingkat provinsi.

Hal menarik dari rapat besar ini adalah adanya barisan pengurus (prajuru) MDP perempuan di kursi terdepan. Sejak Pesamuhan MDP 2010, perempuan kini ambil bagian dan juga memasukkan agenda perempuan dan anak untuk diadopsi dalam aturan atau imbauan adat.

Ketua panitia Pesamuhan Agung untuk kali pertama juga perempuan, aktivis Yayasan Bali Sruti dan staf ahli (nayaka) MUDP Bali Luh Riniti Rahayu.

Demikian juga Pesamuhan tahun ini. Terlebih saat diskusi di komisi perlindungan anak di desa pakraman, aktivis lembaga sawadaya masyakarat (LSM) dan akademisi yang bukan pengurus MDP juga diundang untuk menambah kajian.

Ketua MUPD atau Bendesa Agung Jero Gede Suwena Putus Upadesa mendukung masuknya agenda perlindungan anak pada pesamuhan 2017 karena makin banyak kasus melibatkan anak yang harus mendapat perhatian lingkungan sekitarnya. Ketiga agenda utama sudah dibahas mendalam dalam focus group discussion sebelum dibawa ke pesamuhan.

Dalam rancangan rumusan pesamuhan ini disebut keberadaan anak atau keturunan bagi keluarga krama desa penting diperhatikan agar yang bersangkutan dapat melanjutkan tanggung jawab orang tuanya terhadap keluarga maupun masyarakat sebagai warga adat. Itu sebabnya pasangan suami istri Hindu memiliki keinginan kuat untuk memiliki keturunan.

Kalau tak dikarunia anak, biasanya mengusahakan dengan mengangkat anak yang sudah diatur dalam awig-awig. Tapi belum ada ketentuan upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama anak dan remaja. Untuk itu, Pesamuhan Agung VI MDP Bali merekomendasikan sejumah hal.

Pertama, MUPD agar menyusun contoh awig-awig atau perarem tertulis tentang usaha meningkatkan kualitas sumberdaya manusia krama desa khususnya anak-anak dan remaja. Dengan cara menentukan usia minimal perkawinan 18 tahun, sistem pendidikan menuju asrama grahasta/pra nikah, dan perlindungan anak berhadapan dengan hukum.

Kedua, desa pakraman agar memasukkan dalam revisi awig-awig dan atau perarem tertulis untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia itu.

Ketiga, meningkatkan pemahaman dan peran desa pakraman (DP) dalam memajukan adat dan budaya Bali melalui pendidikan dan pemberdayaan remaja. Keempat, DP bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan non permerintah merealisasikan harapan dalam butir-butir di atas.

Prof Budiana yang memimpin diskusi komisi perlindungan anak mendorong restorative justice melibatkan DP. Ia juga terlibat dalam riset LBH Bali tentang draft aturan adat berbentuk perarem yang sudah didiskusikan di 5 desa di Denpasar, Karangasem, dan Buleleng.

“Intinya sepakat kah adopsi isi UU SPPA ketika anak diserahkan ke desa, restorative justice. Mengurangi stigma dan pelabelan,” ia memandu diskusi.

Nyoman Marjaya dari MDP Klungkung mendukung ide ini dan bagaimana menuangkan ke perarem agar tidak memberatkan. Gede Dastra dari MDP Karangasem membagi pengalaman di desanya ada perkelahian anak dan diselesaikan di bawah peradilan adat.

Luh Putu Anggreni, salah satu pengurus MUDP mengatakan penegasan usia perkawinan penting mencegah perkawinan anak. Dalam UU Perkawinan masih berlaku 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki, dan di bawah itu harus melalui dispensasi pengadilan.

“Akan berpengaruh pada prajuru yang jadi takut sebagai saksi dan tanda tangan perkawinan anak,” kata perempuan yang juga aktivis LSM ini.

Ketika ada kasus harus ada tanda tangan persetujuan orangtua dan dispensasi Pengadilan Negeri sebagai bentuk tanggung jawab orangtua pada perkawinan anak agar tetap bisa sekolah. Dalam pesamuhan ini usia masih jadi perdebatan, minimal 18 atau 20 tahun.

Sementara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali didukung Yayasan TIFA sedang mendiskusikan draft perarem untuk uji coba sistem penyelesaian anak berhadapan dengan hukum berbasis kearifan lokal di 5 desa pakraman di Bali.

Tujuannya menghidupkan partisipasi desa pakraman dalam penyelesaian kasus anak berhadapan dengan hukum berbasis keadilan restorasi (restorative justice) dengan mengedepankan pembinaan dan pengembangan anak. Karena pemidanaan adalah upaya terakhir untuk mencegah stigma berkepanjangan.

Dalam draf ini ada landasan filosofis bahwa terkait dengan Tata Agama, yadnya tertinggi adalah pengorbanan diri untuk kepentingan sesama manusia, apalagi keluarga khususnya anak (Manava Seva, Madhava Seva). Kemudian hak anak dijabarkan dalam Tata Pawongan (lingkungan sekitar).

Misalnya anak berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Anak dengan disabilitas juga berhak mendapat rehabilitasi sosial dan bantuan.

Secara teknis bagaimana desa adat bisa bekerja sama dengan penegak hukum untuk menghindari pemenjaraan ini saat ada upaya perdamaian. Ini mendorong desa pekraman terlibat dan berkomunikasi agar bisa melakukan pembinaan sesuai kearifan lokal.

Denda di tingkat desa bisa berupaya uang, minta maaf, atau upacara ritual. Hukum yang dilanggar adalah ringan merujuk UU No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak misalnya terkait perkawinan, pencurian, perkelahian, dan lainnya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat membuka pesamuhan mengingatkan desa pekraman soal keberagaman yang harus dijaga bukan dipertentangkan. “Kepekaan terhadap komunitas lainnya harus ditumbuhkan sesuai filosofi menyama braya, jangan terkesan arogan karena otonominya,” dia mengingatkan. [b]

Tags: AnakBaliDesa Adat
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

3 November 2025
Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

18 October 2025
Next Post
Lahan Pertanian pun jadi Korban Pembangunan

Aktivis, Petani, dan Pencarian Jati Diri Orang Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Memperjuangkan Bali Bebas Macet: Catatan Akhir Tahun demi Transportasi Berkelanjutan di Bali

Memperjuangkan Bali Bebas Macet: Catatan Akhir Tahun demi Transportasi Berkelanjutan di Bali

13 December 2025

Konsep Lascarya dan Nasmita Memudar di Tren Berbusana Adat ke Pura

13 December 2025
Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan 2025

Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan 2025

12 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Pemetaan Lokasi Sidak Pansus TRAP

12 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia