• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, August 24, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Aktivis, Petani, dan Pencarian Jati Diri Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
22 December 2017
in Gaya Hidup, Opini
0
1
Petani menggarap sawah di antara bangunan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri Tabanan. Foto Made Argawa.

Seorang kawan bercerita saat kami bertemu.

Dia menceritakan aktivitasnya saat ini sebagai petani di kampung halamannya. Ia sangat bersemangat dan antusias menceritakan hal tersebut. Kawan saya pembuat film. Beberapa filmnya memenangkan berbagai festival dan kompetisi film.

Saya mengenalnya sebagai pemuda Bali yang cerdas dan kritis. Ia pernah masuk kuliah di beberapa universitas namun tak satupun yang selesai. Mungkin karena kegelisahan yang dirasakan tak mendapat jawaban dari menuntut ilmu.

Sejak beberapa tahun terakhir ia balik ke kampung halaman setelah lama tinggal di Denpasar. Sesekali ia pergi ke Denpasar jika ada acara seni atau ditunjuk menjadi juri festival dan pembicara diskusi seni.

Kawan lain, seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) kini juga menjadi petani. Saya kerap melihatnya menggunggah foto aktivitasnya di kampung halaman dengan latar belakang ladang dan sawah.

Ia dikenal kritis dan pernah bergabung di beberapa LSM serta sering menulis ide dan pemikirannya di koran. Saya bertemu dengannya di sebuah kedai kopi di Denpasar beberapa waktu lalu dan melihat semangat dan jiwa kritisnya tetap sama seperti lima belas tahun lalu saat pertama kali berkenalan dengannya.

Aktivitas terkini dua teman saya tersebut menerbitkan pertanyaaan di benak saya; kenapa memilih menjadi petani? Bukankah masih banyak aktivitas lain yang bisa dilakoni yang berhubungan dengan bakat dan minat mereka?

Soal pilihan hidup tentu saya tak mau mencampuri, namun menarik dicermati tentang bidang yang digeluti yakni pertanian. Saya melihat pilihan dua kawan itusemacam kerinduan pulang ke kampung halaman dan kembali mengulang kenangan masa kecil dalam kultur agraris; menyabit rumput atau memetik kelapa bersama ayah, atau menggembala sapi sambil mandi di sungai.

Kenangan yang mengendap di alam bawah sadar dan muncul kembali saat menginjakan kaki pulang ke kampung halaman.

Setelah lama tinggal di kota dan bergelut dalam aktivitas kota yang banal pulang ke kampung halaman memang semacam oase. Sering kita rasakan ketika pulang kampung merasa betah dan ingin berlama-lama disana serta enggan kembali ke kota.

Namun, karena tuntutan pekerjaan kita mesti balik ke kota dan hidup lagi sebagai pekerja atau orang kantoran. Sedikit orang yang berani memilih pulang dan bekerja sebagai petani, profesi yang kini dipandang sebelan mata dan mulai ditinggalkan generasi muda Bali.

Pilihan kedua kawan saya tersebut tidak salah. Bali kini memang krisis petani. Apalagi alih fungsi lahan begitu masif terjadi. Banyak orang Bali yang menjual tanahnya yang kemudian dijadikan hotel, vila, atau ruko. Tak jarang warga lokal yang menjual tanahnya lalu menjadi pekerja hotel atau vila di bekas tanah yang dijualnya.

Ironis memang.

Di tengah arus pariwisata yang menenggelamkan jati diri orang Bali menjadi petani menjadi semacam “arus balik”, kembali kepada kesejatian orang Bali yang dulunya memang sebagai petani dan hidup dalam budaya agraris. Tak aneh jika program transmigrasi yang menawarkan tanah untuk digarap di luar Bali begitu diminati orang Bali.

Ini menunjukkan bahwa pertanian adalah jiwa orang Bali, bukan industri pariwisata yang semu dan menyilaukan.

Kisah kedua kawan saya di atas bisa dijadikan cermin di tengah kegamangan orang Bali kini yang mencari identitas dan jati diri. Arus perubahan yang begitu dahsyat membuat pertanian sebagai jati diri orang Bali kian terpinggirkan. Sangat mendesak diberlakukannya regulasi untuk melindungi petani dan pertanian. Misalnya dengan menekan atau bahkan meniadakan pajak sawah atau ladang. Dengan demikian petani tidak diberatkan kewajiban membayar pajak yang berujung pada keputusan menjual tanah daripada menderita kerugian karena hasil yang didapat dari pertanian tidak sebanding dengan pengeluaran.

Perlu juga membuat regulasi bagi hotel, vila, atau restoran di Bali untuk menggunakan produk pertanian lokal sehingga petani Bali bisa memasarkan produknya dengan harga bersaing. Namun, semua itu hanya akan menjadi sebatas wacana jika pemerintah tidak mempunyai keberpihakan terhadap Bali.

Para aktivis sudah waktunya menyuarakan pentingnya pertanian bagi Bali dan terjun langsung merasakan hidup sebagai petani seperti yang dilakukan kawan saya. Bukan hal yang mustahil di masa depan pertanian hanya menjadi sebuah cerita dan generasi mendatang melihat sawah sebagai sesuatu yang langka dan klasik, serta menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak-cucu kita kelak. [b]

Tags: BaliBudayaPertanian
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Angga Wijaya

Angga Wijaya

Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Menyukai dunia literasi sejak SMA. Pernah kuliah Prodi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

Related Posts

Kebun Melon di Kaki Gunung Agung

Kebun Melon di Kaki Gunung Agung

16 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Next Post
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Comments 1

  1. El siregar says:
    9 years ago

    Setelah sekian lama di kota yang gemerlapan dan cita-cita setinggi bintang, pulang ke desa seperti kembali ke dunia kenyataan.

    Bukankah perjalanan yang paling jauh adalah perjalanan ke hati sendiri?
    Kita melihat lagi sungai mengalir, nyiur melambai dan burung berlagu dengan pandangan yang baru.

    Tak ada salahnya menggantung cita-cita setinggi bintang kejora.
    Tapi kaki ini harus berpijak di bumi kelahiran. Ibu pertiwi.
    Welcome home!

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak di Ambang Krisis, Ancaman Banjir dan Serbuan Tikus

Subak di Ambang Krisis, Ancaman Banjir dan Serbuan Tikus

23 August 2026
Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

23 August 2026
Jalan Panjang Desa Adat Mengelola Sumber Kehidupan Alas Mertajati

Penolakan pada Rencana Pemekaran Desa Tamblingan atas Nama Pemerataan Pembangunan

22 August 2026
Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

21 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia