• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Menimbang Program Ecobrick di Sekolah Jembrana

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
13 June 2025
in Berita Utama, Gaya Hidup, Kabar Baru, Lingkungan, Pendidikan
0
1
Oleh Ni Putu Ayu Sri Parartha Maharani, Dona Halfinur, Gusti Agung Ayu Kade Rasmini — Negara

Sejak tahun 2023, sejumlah sekolah Kabupaten Jembrana berbondong-bondong membuat ecobrick. Penerapan ecobrick ini menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Namun, ecobrick bukan solusi efektif pengurangan sampah plastik ke TPA atau yang disebut daur ulang sampah. 

Sampah plastik adalah salah satu tantangan utama yang mendesak untuk diselesaikan di Kabupaten Jembrana. Berdasarkan data dari balisatudata, Jembrana memproduksi sampah sebanyak hampir 60 ribu ton sampah pada tahun 2023. Bahkan disebut berkontribusi pada sampah laut yang terdampar tiap tahun di pantai-pantai selatan Bali karena sungainya berujung di jalur arus laut bersama sampah dari selat Bali. Peneliti dari Universitas Udayana Gede Hendrawan, dikutip dari Mongabay, membuat riset modeling arus laut terakhir dan menyebut sampah dari Banyuwangi lebih banyak dari Jembrana saat angin barat bergerak ke timur.

Dikutip dari ojs.unud, timbunan sampah di wilayah pesisir Desa Banyubiru, Baluk dan Cupel tersebar di seluruh wilayah dengan nilai konsentrasi sampah laut berkisar antara 1,20 sampai dengan 6,71 gram/m2. Berdasarkan jumlah sampah golongan plastik lunak 30%, sedangkan berat didominasi golongan kayu 23%. Total berat semua jenis sampah laut adalah 37.370 gram. Sampah di wilayah pesisir sebanyak 46% berupa sampah utuh dan 54% berupa sampah terfragmentasi. Secara umum sampah laut pesisir sebagian besar berupa produk konsumen.

Tingginya persentase sampah plastik mendorong Pemerintah Kabupaten Jembrana meluncurkan Project STOP Jembrana sebagai inisiatif berani dengan pendekatan radikal untuk menghentikan kebocoran sampah ke lingkungan. Pendekatan radikal yang dimaksud semua sampah harus dipilah mulai dari rumah dan semua masyarakat harus berlangganan dengan jasa sampah. Dengan demikian sampah tidak dibuang sembarangan ke lingkungan. Dilansir dari stopoceanplastics, Project STOP Jembrana dimulai sejak tahun 2019. Program ini berfokus pada upaya antisipasi kebocoran sampah di laut, selain itu Pemerintah Kabupaten Jembrana dan mitra Project STOP memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam mencapai target mengurangi polusi plastik laut sebanyak 70% di tahun 2025. Namun, faktanya program ini berjalan di tempat, tidak ada kemajuan yang berarti.

Sekolah, sebagai tempat berkumpulnya para siswa, menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar selain sektor industri, rumah tangga, dan pasar. Surat Edaran  Nomor :100.3.4/ 274/DLH/2025 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai yang dikeluarkan Bupati Jembrana, menginstruksikan semua perkantoran termasuk sekolah-sekolah di Jembrana tidak diperkenankan menyediakan air minum dalam kemasan plastik (gelas maupun botol) serta makanan atau jajanan dalam kemasan plastik. Peraturan ini menjadi dasar hukum untuk menekan jumlah plastik di Jembrana. 

Maka dari itu pihak sekolah menghimbau para siswanya untuk tidak membawa botol kemasan plastik dan beralih menggunakan tumbler (botol minum guna ulang). Contohnya seperti di SD Negeri 2 Perancak dan SLB 1 Jembrana, kami menelusuri dan menemukan bahwa sekolah tersebut telah menerapkan aturan untuk tidak membawa botol plastik sekali pakai, dan wajib membawa tumbler. Namun, kenyataannya, kantin sekolah tersebut masih menjual air mineral kemasan botol plastik dan makanan-makanan yang dibungkus kemasan plastik. 

Solusi Ideal Penanganan Sampah Plastik

Menurut hasil survei Waste Analysis and Characterization Studies (WACS) Sekolah Ekologis Bali 2024 dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali (PPLH) sampah non organik yang dihasilkan oleh sembilan sekolah dasar (SD) memiliki total berat 27,08 kilogram. Sedangkan di sekolah menengah pertama (SMP) memiliki total berat 100,422 kilogram. Sampah non organik yang dihasilkan berupa botol mineral, kertas, plastik, kaleng dan lain sebagainya. 

“Pendidikan lingkungan di sekolah tidak cukup sebatas lomba tetapi diberikan terus menerus mulai teori dan praktik. Banyak hal sederhana yang dapat dilakukan seperti memilah sampah sesuai jenisnya, mengurangi plastik sekali pakai, mengolah sampah organik jadi kompos, mengumpulkan sampah kertas dan membawanya ke bank sampah agar didaur ulang. Selain itu mengurangi penjualan makanan berbungkus plastik di kantin, dan membiasakan diri untuk membawa tumbler dan kotak makan. Maka dari itu, jika hal sederhana seperti ini dilakukan setiap hari maka akan menjadi kebiasaan,” ujar Catur Yudha Hariyani selaku Direktur PPLH Bali. 

Selain itu, Catur juga menegaskan bahwa untuk mengurangi sampah plastik, hal yang perlu dilakukan adalah mengurangi penggunaan plastik itu sendiri. Bukan hanya mengutamakan pembuatan ecobrick yang sesungguhnya merupakan solusi palsu dan dapat menimbulkan masalah baru. Hal ini perlu menjadi pembelajaran penting di sekolah-sekolah bahwa ecobrick bukanlah solusi yang efektif untuk mengurangi sampah plastik.

Dari pengamatan penulis, 3 dari 5 sekolah menganggap strategi mengurangi pengiriman sampah plastik ke TPA dengan membuat proyek ecobrick. 

Kegiatan Ecobrick di SD Negeri 2 Perancak 

SD Negeri 2 Perancak merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan kegiatan ecobrick sejak tahun 2023 sampai saat ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dimana setiap tahap mulai dari pemilahan, pencucian, pengeringan, hingga pemotongan sampah plastik yang diawasi secara ketat oleh para guru guna memastikan proses pembuatan ecobrick berjalan dengan baik. 

“Selama pembuatan ecobrick, sudah pasti saya sebagai kepala sekolah senantiasa mengingatkan anak-anak untuk selalu menjaga kebersihan dan keamanan selama proses kegiatan membuat ecobrick,” ujar Gusti Ayu Putu Yuni Artini, akrab disapa Bu Yuni selaku kepala SD Negeri 2 Perancak. Program ini telah rutin dijalankan oleh anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 6. Banyak model-model yang sudah dibentuk dari ecobrick ini. 

Namun para siswa mengaku merasa tidak nyaman saat membuat ecobrick dikarenakan saat proses mencuci dan memotong, sampah mengeluarkan baunya yang sangat tidak sedap. “Perasaan saya senang, kita bisa mengasah  kreativitas diri sendiri. Hanya saja, dalam proses pengerjaan agak sedikit kurang nyaman karena baunya yang tidak sedap dan cukup memakan waktu karena harus dijemur dan nunggu kering. Tapi tetap aja berbau,” ujar Vidya siswi kelas 5. Beberapa siswa juga mengeluh merasa kelelahan saat membuat ecobrick. Bahkan mereka sengaja membuatnya dengan buru-buru karena tidak tahan dengan sampah yang bau. “Meski sudah betul cara bikinnya tetap saja berbau. Ya mungkin karena sampah… Ya begitu deh kak,” tambah Calista siswi kelas 5. Ecobrick yang dipajang di SD Negeri 2 Perancak adalah ecobrick yang masih baru. Hanya dijadikan pajangan sebagai papan nama sekolah. Tidak ada fungsi yang lain.

Program di SLB Negeri 1 Jembrana

SLB Negeri 1 Jembrana juga memiliki keprihatinan terhadap permasalahan sampah plastik yang cukup serius di wilayah Jembrana. Melalui program P5 bertema “Gaya Hidup Berkelanjutan” sekolah ini memulai kegiatan dengan menyediakan tempat pemilahan sampah. Selanjutnya sampah botol-botol plastik yang terkumpul dibuat menjadi sebuah kursi sederhana. Terlihat di sekolah ini botol-botol plastik yang sudah dibuat menjadi kursi kini sebagai barang berguna. SLB Negeri 1 Jembrana memiliki upaya pengelolaan sampah yang berbeda dari sekolah lain, dimana botol plastik yang diguna ulang tidak berisi potongan-potongan kemasan sampah plastik seperti ecobrick yang kita lihat pada umumnya.

Selain itu, SLB Negeri 1 Jembrana dikenal dengan salah satu programnya yang mewajibkan membawa tumbler pribadi dari rumah. Program ini mulai dilaksanakan pada tahun 2025, dengan kebijakan utama mewajibkan seluruh warga sekolah membawa tumbler pribadi. Baik siswa, guru, maupun staf diwajibkan menaati aturan tersebut.

Kepala sekolah berharap program ini dapat memberi dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan karakter siswa. Selain itu, siswa SLB 1 Jembrana berpatisipasi dalam memilah sampah plastik. Para guru mclakukan pendekatan kepada siswa-siswa dengan mengajari mereka cara membuang sampah yang baik dan benar berdasarkan jenis sampah dan warna tong sampahnya. 

“Langsung diajarkan kalau sampah plastik dibuang di tong sampah berwarna kuning, dan sampah daun di tong sampah warna hijau, dan untuk sampah baterai, kaleng, dan botol kaca ada dibuang di tong sampah warna merah,” urai Ni Luh Eva Gloria Dewi, salah satu siswi SLB Negeri 1 Jembrana. Selain itu, membuat kursi yang terbuat dari botol plastik menjadi salah satu upaya bagi SLB Negeri 1 Jembrana dalam  memanfaatkan sampah plastik. 

Namun sampah plastik masih nampah di kantin SLB Negeri 1 Jembrana yang merupakan tempat beristirahat untuk makan dan minum siswa siswi beserta guru di sekolah. Makanan dan minuman yang dijual pada kantin sekolah masih berbahan dasar plastik. Mulai dari bungkus makanan ringan hingga minuman berkemasan botol plastik. “Hal Ini berkaitan dengan kebutuhan makan dan minum anak-anak itu sendiri,” jelas Kepala Sekolah Komang Sri Mariati. Olch karena itu, untuk menghadapi dilema ini, perlu solusi yang efektif dari pemerintah.

Mengenal Ecobrick 

Apa itu ecobrick? Ecobrick adalah sebuah karya yang terbuat dari sampah plastik, seperti botol dan kemasan plastik. Proses pembuatannya dimulai dengan mengumpulkan sampah plastik, mencucinya hingga bersih, lalu mengeringkannya. Setelah kering, sampah tersebut dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam botol plastik hingga padat, sehingga terbentuk ecobrick yang kita kenal saat ini. Ecobrick umumnya digunakan untuk keperluan konstruksi, seperti bata, meja, dan kursi. Karena manfaatnya, ecobrick dianggap sebagai solusi pengurangan sampah plastik ke TPA, terutama bagi lembaga pendidikan, maupun di lingkungan masyarakat.

Proses pembuatan ecobrick membutuhkan banyak kesabaran, dikarenakan botol plastik yang berisikan sampah plastik harus diperhatikan kepadatannya. Botol ecobrick yang tidak padat akan menyebabkan botolnya menjadi penyok, sehingga hasil finishing-nya tidak merata dan dapat menimbulkan kerusakan pada ecobrick itu sendiri. Misalnya, ketika botolnya penyok, lemnya tidak bisa menempel sempurna sehingga pembuatan ecobrick tidak membuahkan hasil yang baik. Bahkan, ecobrick dapat menimbulkan jamur dan bakteri apabila kurang padat dan tidak kedap udara. 

Selain botol, sampah plastik yang digunakan juga mesti ditinjau kembali, dan perlu dipastikan bahwa sampah plastik yang digunakan dalam keadaan kering dan bersih. Made S. Budi Atmaja, S.Pd selaku Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jembrana. mengakui masalah ecobrick. “Ecobrick sebenarnya adalah salah satu cara mengelola sampah plastik multilayer. Namun, ini bukan satu-satunya solusi yang bisa diandalkan. Justru, program ecobrick dapat mendorong peningkatan jumlah sampah plastik,” katanya. 

Misalnya, dalam proyek sekolah bertema gaya hidup berkelanjutan, siswa diminta membuat ecobrick. Alih-alih menggunakan sampah plastik yang ditemukan, mereka malah membeli makanan ringan hanya untuk mendapatkan bungkusnya. Padahal, seharusnya ecobrick dibuat dari sampah plastik yang dikumpulkan, dibersihkan, dikeringkan, dipotong-potong, lalu dimasukkan ke dalam botol dan dipadatkan. Selain itu, saat ini terdapat program melarang kantin sekolah menjual makanan dengan kemasan plastik. Akibatnya, siswa mencari kemasan plastik di luar sekolah, bukan dengan memungut sampah yang sudah ada, tetapi bisa saja dengan membelinya. “Hal ini membuat konsep awal ecobrick semakin bergeser,” tambah Budi. Ketika ecobrick tidak dibuat dengan metode yang tepat, maka pastinya ecobrik tersebut menjadi sampah baru yang tidak memiliki fungsi nyata dan menjadi limbah baru yang umurnya “diperpanjang” saja. Maka dari itu pembuatan ecobrick di lingkungan sekolah dinilai tidak relevan, dikarenakan ecobrick yang dihasilkan belum memenuhi fungsi yang sebenarnya, apabila hanya dijadikan sebagai pajangan semata. 

Bahaya Mikroplastik di Balik Ecobrick

Permasalahan sampah plastik akan berujung ke mikroplastik yang sangat membahayakan bagi lingkungan dan manusia. Mikroplastik adalah partikel-partikel plastik yang ukurannya sangat kecil. Dalam mengkaji bahaya mikroplastik, dilansir dari ecoton MI Darussalam Jembrana mewujudkan aksi Zero Waste School guna mengurangi penggunaan sampah plastik di sekolah. Bersama Ecoton, para siswa, guru dan staf diberikan edukasi perihal pentingnya mengurangi sampah plastik dan menanamkan nilai budaya tanggung jawab lingkungan. Sebagai bagian dari aksi ini, para siswa diajak menjadi “Detektif Sungai” yang dilatih oleh para ahli dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation) untuk memeriksa kontaminasi mikroplastik di perairan dekat sekolah. Dan hasilnya mereka menemukan kontaminasi mikroplastik jenis fiber, fragmen, dan filamen yang berpotensi merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Untuk menindaklanjuti hal ini MI Darussalam berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik, termasuk kemasan makanan sachet yang berbahan plastik.

Sumber foto: Dokumen pribadi

“Bahaya mikroplastik pada kesehatan manusia sangat mengkhawatikan karena mikroplastik ini dapat mengganggu kekebalan tubuh, resiko tumor, kanker, peradangan, dan info terakhir dapat masuk sel imun otak. Maka menjadi pilihan bagi manusia jika ingin sehat pastinya kurangi penggunaan plastik,” jelas Catur Yudha Hariyani Direktur PPLH Bali.

Ecobrick yang kini masih diterapkan di Jembrana merupakan akar dari mikroplastik. Saat kami membelah salah satu ecobrick yang sudah lama dan tidak terpakai, kami mencium aroma yang sangat menusuk. Tutup botolnya belum tertutup dengan erat, sehingga ecobrick ini rawan menimbulkan kebocoran sampah, sehingga terjadilah masalah baru. 

Meninjau Kembali Ecobrick dan Solusi Yang Lebih Efektif

Ibu Yuni, Kepala Sekolah SD Negeri 2 Perancak mengakui bahwa metode ecobrick belum sepenuhnya efektif, alih-alih mengurangi limbah, proses ini justru bisa menambah jenis limbah baru apabila tidak dilakukan dengan benar. Oleh karena itu, untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, pihak sekolah menghimbau anak-anak untuk membawa tumbler dan kotak makan pribadi. Menurutnya ecobrick di SD Negeri 2 Perancak sampai saat ini belum pernah mengalami kerusakan yang berarti, namun mengeluarkan bau yang tidak sedap. 

Ia berharap pemerintah mesti mempertimbangkan dan memperhatikan kembali mengenai aktivitas yang dilakukan anak-anak sebagai bentuk partisipasi untuk mengurangi limbah plastik. Ecobrick yang terpapar sinar matahari atau cuaca esktrem pastinya akan rapuh dan rusak dari tahun ke tahun. Maka dari itu, harapannya pemerintah dan pihak sekolah meninjau kembali supaya apa yang dilakukan dan yang dihasilkan para siswa memiliki dampak serta memenuhi fungsi yang sebenarnya dan bukan jadi pajangan semata. Karena metode pembuatan yang kompleks dan perlu perhitungan khusus dan dikhawatirkan dapat menjadi boomerang bagi anak-anak itu sendiri. Ecobrick bukanlah solusi, karena ecobrick menimbulkan masalah baru.

Untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik, kita perlu menekan penggunaan atau produksi plastik itu sendiri. Karena akar dari permasalahan menumpuknya sampah plastik berasal dari jumlah plastik yang kita pakai sehari-hari. Jadi, ecobrick hanya menunda sampah plastik tersebut berakhir ke TPA, bukan melenyapkan sampah plastik itu. Melalui sekolah-sekolah, para siswa bisa diajak berlatih dan menuangkan ide untuk menciptakan hal baru yang lebih berdampak.

Karya ini merupakan hasil liputan mendalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2025 dengan tema “Anak Muda Bicara Kota-kota di Bali”.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet
Tags: AJW 2025ecobrickecobrick di sekolahJembranamikroplastikNegarapenanganan sampah plastik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
UMKM Terseok-Seok Hadapi Penataan di Pantai Sanur

Inilah Proyek Investasi Daerah Bali

23 August 2025
TPA Linggasana Overload,  Sistem Pengelolaan Sampah Belum Jelas, TPS Liar pun Meluas

TPA Linggasana Overload, Sistem Pengelolaan Sampah Belum Jelas, TPS Liar pun Meluas

31 July 2025
Cita-Cita Anak Muda Bali dan Upah yang Main-Main

Cita-Cita Anak Muda Bali dan Upah yang Main-Main

14 July 2025
Menyusuri Langkah Lelah Tukang Suun di Pasar Badung

Menyusuri Langkah Lelah Tukang Suun di Pasar Badung

11 July 2025
TAKSU Reuse di AJW 2025: Solusi Cerdas Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai

TAKSU Reuse di AJW 2025: Solusi Cerdas Kurangi Sampah Plastik Sekali Pakai

8 July 2025
Next Post
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Penciptaan Ancaman di Pulau Para Jagoan

Comments 1

  1. stn says:
    10 months ago

    PENULISNYAA KEREN KEREN BANGETT NII ??? dari berita ini makin mengenal ecobrick jugaa, berita mantapp??

    Reply

Leave a Reply to stn Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia