Mendengar Teman Tuli Menuturkan Kisah Mereka


Warga bisu tuli di Desa Bengkala, Buleleng berkomunikasi dalam bahasa isyarat. Foto Anton Muhajir.

Orang-orang Tuli adalah kelompok minoritas linguistik. Bukan tuna rungu.

Empat ratus meter dari kediaman saya di kota Denpasar. Di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) berdiam sekelompok orang yang tidak “biasa”. Orang-orang yang eksistensinya menjadi bukti konkret keberagaman. Orang-orang yang tidak berujar seperti saya maupun Anda.

Mereka tak suka berbisik. Juga tak lekas naik pitam kala ada yang berisik. Mereka kerap saya pandang dengan tanda tanya. Begitu terus hingga akhirnya saya lelah menerka-nerka.

Sabtu pagi itu untuk pertama kalinya saya bertatap muka dengan mereka. Mata beradu mata dan mulut terbuka, dialog dua arah itu terjadi. Tanpa suara.

Lalu, Sabtu berikutnya saya kembali. Begitu juga Sabtu selanjutnya. Dan Sabtu-Sabtu juga Minggu-Minggu yang tiba setelahnya?rajin terisi oleh kisah tentang mereka. Biar saya cerita sedikit tentang kumpulan orang yang tampak seperti kita, berpikir seperti kita, bermimpi seperti kita.

Orang-orang ini saya panggil teman. Lengkapnya “Teman Tuli”. Mereka memanggil saya teman. Tepatnya “Teman Dengar”. Mereka tergabung dalam sebuah wadah bernama Komunitas Tuli Bali.

Pada komunitas inilah saya berguru, mempelajari bahasa isyarat. Melalui perkenalan dengan bahasa isyarat, saya pelan-pelan mulai memahami pula kehidupan orang Tuli. Pemahaman tersebut kemudian mendatangkan suatu perasaan yang sama sekali lain. Bukan perasaan remeh, apalagi kasihan. Hanya kagum yang saya rasakan.

Mereka begitu mahir bernarasi, tanpa peduli pada gengsi. Bagi orang yang tumbuh diiringi lantun melodi, yang terlahir dengan kedua gendang yang mampu mendengar, rasanya sulit sekali membayangkan diri menyuarakan isi hati dan pikiran tanpa mengenal suara itu sendiri.

Minoritas Linguistik

Namun, tidak demikian bagi orang Tuli. Tak ada suara tak ada masalah. Mereka lincah menggerakan jari ke sana kemari, dengan mata lurus memandang, dan raut wajah silih berganti sedemikian cepatnya mengiring cerita yang mereka tuturkan. Kala itu saya tersentak, menyadari bahwa dunia Tuli bukan sekadar dunia sunyi tak mengenal bunyi. Dunia Tuli adalah dunia kaya akan ekspresi. Dan pada dunia Tuli, takkan kau jumpai air muka pucat pasi.

Decak cengang saya berlanjut ketika menyimak penuturan mengenai siapa diri mereka. Orang-orang Tuli mendeklarasikan diri sebagai kelompok minoritas linguistik. Bukan tuna rungu. Mereka tak memandang diri sebagai kelompok orang berpendengaran rusak. Belenggu istilah “cacat” ditolak mentah-mentah olehnya.

Bagi mereka, bahasa isyarat yang dikawinkan dengan gestur dan ekspresi sesuai hanyalah satu dari sekian keberagaman yang dunia tawarkan. Mereka memilih menyebutnya budaya. Orang Dengar hidup dengan audio dan bahasa verbal sedangkan orang Tuli hidup dengan budaya Tulinya sendiri.

Budaya tersebut bukan pengingkaran terhadap hukum atau kaidah yang ada, melainkan suatu cara hidup yang berkembang di antara mereka. Suatu cara hidup yang dianut olehnya. Sehingga label “abnormal” terasa kurang tepat untuk digunakan. Jabaran tadi seolah meluluhlantakan anggapan awam mengenai Tuli yang kerap diidentikan dengan gangguan pendengaran sebab lebih dari itu, Tuli adalah identitas.

Pertemuan ini juga telah mengantar saya berkenalan dengan liku kesulitan hidup yang mereka alami. Stigma “orang-orang dengan hambatan” yang kerap melekat cenderung menjadikan Teman Tuli kelompok yang diragukan kompetensinya, dan seringkali mengundang rasa prihatin juga kasihan.

Orang-orang Tuli pada hakikatnya adalah manusia sehingga memiliki kapabilitas sama. Mereka mampu berkomunikasi, tetapi melalui cara yang berbeda dengan orang Dengar. Seperti halnya pengguna kursi roda yang memiliki kapabilitas untuk bermobilisasi, atau orang Netra yang juga memiliki kemampuan untuk mempersepsikan atau memberi makna terhadap hal-hal di sekitarnya, sekali lagi dengan cara berbeda.

Memang benar dalam melangsungkan hidupnya mereka menghadapi kendala atau hambatan, tetapi hambatan tersebut tak semata ada pada fisik, seperti yang kerap kita kira. Hambatan ada pada minimnya sarana yang memungkinkan mereka mengakses dunia. Hambatan ada ketika Teman Tuli menjalani kegiatan perkuliahan tanpa disediakan Juru Bahasa Isyarat. Hambatan ada ketika Teman Tuli menonton tayangan film atau video tanpa paham betul isi kontennya akibat ketidaktersediaan teks untuk membantu akses mereka terhadap informasi.

Hambatan ada, dan masih terus ada terlepas dari kenyataan bahwa kebutuhan-kebutuhan ini adalah hak yang dilindungi oleh undang-undang. Hak untuk mengembangkan diri, hak untuk meningkatkan kualitas hidup, hak untuk memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, hak untuk memperoleh informasi, semuanya merupakan hak asasi manusia.

Sudut Pandang Baru

Perjalanan saya berinteraksi dengan orang Tuli sampai hari ini telah membantu menghadirkan sudut-sudut pandang baru terhadap hidup pada diri saya. Membantu saya mengenal lebih dekat arti kata inklusif. Mengerahkan saya membuka mata dan menyadari bahwa rasa iba lebih tepat ditujukan pada minimnya fasilitas-fasilitas pendukung yang diperlukan untuk berkembang, dibandingkan masalah pendengaran itu sendiri.

Pengalaman ini telah menggugah saya untuk berbuat lebih, menumbuhkan keinginan dalam diri saya untuk menjadi penyambung lidah antara mereka yang mendengar dan mereka yang tidak. Saya ingin membantu teman-teman Tuli mencapai kesetaraan yang dicita-citakannya. Saya ingin orang Tuli memperoleh kesempatan yang sama sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat.

Melalui rentetan paragraf ini, saya berharap Teman-teman Dengar di luar sana dapat ikut tergugah. Saya berharap Teman-teman Dengar mampu memandang perbedaan ini sebagai suatu komponen penyusun harmoni yang indah. Perbedaan bersifat mutlak dan tak terelakkan namun perbedaan tak seharusnya mengurangi nilai dan tanggung jawab diri kita sebagai makhluk sosial.

Saya berharap hati kita sama-sama tergerak untuk peduli pada orang lain. Untuk mau solider dan terlibat dalam usaha pemenuhan hak orang-orang di sekitar kita, termasuk kaum Tuli.

Orang tidak lantas disebut “hidup” hanya karena dia bergerak. Bagi Saya, orang dikatakan hidup ketika batinnya tergerak, ketika ia mau bergerak, dan ketika dirinya mampu menggerakan. [b]