Catatan Mingguan Men Coblong: Ipuk

Uji coba ujian masuk PTN. Foto Muri.org

Belakangan ini perasaan Men Coblong seperti roller coaster, entah mengapa.

Pokoknya tidak stabil. Kadang perasaannya menengok ke kanan, kadang ke kiri. Kadang ke bawah, belum selesai nengok ke bawah sudah nengok ke atas. Belum tuntas sudah melirik ke samping.

“Perasanmu itu mirip para pejabat saja. Hari ini ngomong A, besok B. Besoknya lagi Z, besoknya lagi I,” sahut sahabatnya serius.

Men Coblong mengamini pernyatakan ketus sahabatnya itu. Banyak sekali kejadian aneh minggu ini. Pertama, kabar yang membuat Men Coblong patah hati akut. Patah hati yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata.

Sebagai Ibu dari seorang anak lelaki, Men Coblong sudah merasa cukup memberi sedikit remah-remah ilmu untuk anak semata wayangnya. Anak lelaki kecil yang dulu selalu ditimang-timang, dikelonin, disuapin. Pokoknya perhatian Men Coblong full sejuta persen untuk anak lelakinya itu.

“Punya anak cuma satu saja, kau seperti punya anak sepuluh,” suatu hari sahabatnya berkata serius pada Men Coblong.

Men Coblong tidak menyalahkan sahabatnya itu karena dia memiliki anak lima orang. Tiga orang dokter spesialis, satu orang dokter muda, anak bungsunya baru saja diterima di jalur mandiri juga di fakultas kedokteran.

Setiap melihat mata Men Coblong menatap sahabatnya itu terbersit rasa seperti roller coaster. Bagaimana bisa perempuan itu membiayai penuh kelima orang anaknya di fakultas kedokteran. Bahkan nomor empat dan lima lolos di fakultas kedokteran di sebuah universitas ternama di Jawa dengan jalur mandiri.

Berapa biaya yang harus dia rogoh? Pasti sedalam sumur bor yang dibuat tetangga 60-80 meter ke bawah tanah.

Untuk sahabatnya itu pasti lebih, karena merogoh uang untuk jalur mandiri juga tidak kecil. Ah, enaknya jika punya duit. Walapun Men Coblong dengar bisik-bisik duit sahabatnya itu hasil korupsi yang ditanam di dalam tubuh masa depan anak-anaknya.

Mimih Dewa Ratu!

Men Coblong tidak ingin berpikir buruk, karena sahabatnya itu di depan Men Coblong tidak terlihat petantang-petenteng. Biasa saja. Walaupun Men Coblong tahu barang-barang yang melekat ditubuhnya branded, dijamin belum keluar di publik fashion di indonesia, apalagi muncul di Bali.

“Eh, jangan salah kamu Men Coblong. Sekarang ini banyak orang di Bali yang tidak kalah branded dengan orang-orang Jakarta, bahkan lebih gaya. Mau bukti?” tanya sahabat yang lain sambil menunjukkan betapa banyaknya artis-artis di Indonesia sudah migrasi bak burung ke tempat-tempat pariwisata dari Sanur, Kuta, sampai Ubud.

Ya, ya, ya! Orang yang tinggal di Bali saat ini memang tidak kalah fashionable dengan orang-orang di kota besar lain. Bahkan suatu hari sahabat Men Coblong yang berlibur ke Bali juga mengaku saat ini banyak orang-orang aneh.

“Bali sudah terlalu padat, sudah macet di sana-sini. Bagaimana menurutmu? Apakah pariwisata masih jadi andalan?” tanya sahabat Men Coblong itu serius.

Men Coblong terdiam menggaruk-ngaruk kepala. Bingung. Linglung. Meimkirkan sahabatnya yang uangnya sedalam sumur bor. Sehingga memudahkan perempuan itu untuk mencari sekolah-sekolah favorit.

“Ada uang, seluruh hidup ini bisa dibeli. Mau sekolah model apa?” tanya sahabat Men Coblong itu serius. Men Coblong menciut, persis seperti tikus-tikus cucut yang bersuara mencicit dan meninggalkan jejak yang baunya minta ampun.

Ah, mungkin seperti itukah rasa iri yang melabur hati dan pikiran Men Coblong.

Men Coblong meringis teringat bagaimana sulitnya mencari sekolah saat ini. Untungnya Men Coblong menerapkan sistem tak ketat. Bahkan sejak berumur dua tahun anak semata wayangnya sudah masuk sekolah. Untuk tingkat dasar sengaja dipilih sekolah swasta mahal sedikit dan buat migren asap dapur tidak apa-apa.

Karena jika pendidikan dasar tidak kuat, kasihan para siswa jika setiap ganti menteri ganti aturan main. Bayangkan kalau kemampuan akademik serba pas.

Berhubung kantong tidak sedalam sumur bor Men Coblong pun menyekolahkan anaknya di beragam sekolah non formal, dari les Kumon, sampai les di salah satu tempat les yang cukup mahal juga. Tujuannya jika masuk sekolah menengah bisa nyebur langsung ke sekolah negeri yang dijamin biayanya tidak mahal seperti sekolah swasta.

Men Coblong pun sedari awal sudah mempersiapkan kemana harus masuk SMP, lalu lanjut SMA yang mana. Terus mau kuliah ke mana?

“Kalau anak masih SD sudah mikir kuliah, bisa ambrol otakku, Men Coblong. Hidup sudah rumit kok terus ditambah kerumitan baru,” sahut teman lain.

Akhirnya benar saja. Tahun 2019 jalur masuk perguruan tinggi diubah. Jalur pertama alur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Seleksi masuk PTN berdasarkan prestasi dan juga portofolio akademik siswa. Penilaiannya dilihat dari kompetensi sekolah dan prestasi siswanya. Misalnya akreditasi sekolah, nilai rapor, dan persyaratan lain berdasarkan PTN yang dipilih.

Gagal di jalur undangan Men Coblong pun mencoba jalur kedua Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Ini menjadi jalur masuk PTN yang paling banyak mengalami perubahan.

Pertama, dari daya tampung yang berubah menjadi minimal 40 persen dari kuota daya tampung setiap prodi di PTN. Kuota ini berdasarkan hasil dari Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) saja atau hasil UTBK dan kriteria lain yang disepakati PTN.

Pelaksanaan tes juga tidak lagi berupa ujian tulis, melainkan menggunakan komputer. Peserta SBMPTN harus membayar biaya UTBK sebagai syarat pendaftaran sebesar Rp200.000 per satu kali tes. Target untuk sekolah di luar Bali harus dibuang karena sistem yang tidak bisa diprediksi.

Kalau ikut alur masuk yang ketiga adalah Ujian Mandiri. Jalur ini diatur dan ditetapkan oleh masing-masing PTN. Pada tahun 2019, kuota daya tampung untuk jalur Mandiri adalah maksimal 30 persen dari kuota daya tampung setiap prodi di PTN.

Proses seleksi dan penerimaan calon mahasiswa dari jalur ini dapat menggunakan hasil dari UTBK. LTMPT melayani jasa pengolahan data UTBK untuk jalur Mandiri bagi lulusan tahun 2017, 2018 dan 2019. Dijamin untuk jalur ini Men Coblong tidak punya tabungan sedalam sumur bor.

“Sebetulnya kalau kita mau ikut Bidikmisi bisa juga sih, Mi. Minimal biaya kuliah akan ditanggung dan dapat uang saku. Tetapi aku tidak mau cari surat miskin, karena kita kan tidak miskin. Miskin itu tidak punya rumah, tidak punya motor, apalagi mobil,” anak semata wayang Men Coblong berkata cukup detail.

Dia sempat berbisik, bagaimana kakak kelasnya yang tinggal di sebelah rumah justru mencari surat miskin. Padahal punya rumah di Denpasar, punya mobil besar dan harganya dua kali lipat dari harga mobil Men Coblong. Mobil itu selalu diparkir dipinggir jalan, tidak peduli tetangga terganggu atau tidak, yang penting dia tidak terganggu. Jika ada anak-anak menyentuh mobilnya dia akan ngamuk, dan penuh sumpah serapah.

Prestasi akademik anaknya di atas rata-rata, bahkan lolos di perguruan tinggi negeri favorit. Jalur undangan lagi. Hebat!

“Untuk apa pinter tapi punya moral seperti itu, masak tidak miskin ngaku miskin,” sahut anak Men Coblong. Men Coblong mengelus dada untunglah berarti pendidikan moral tumbuh baik, di dalam hati dan pikiran anaknya.

Men Coblong makin panas ketika mengetahui tetangga depan rumah bangga mampu mendapatkan beasiswa untuk orang miskin dengan mengaku miskin, bahkan tega memanipulasi rumah. Lalu rumah siapa yang dipotret?

“Rumah tetangga di kampung,” tawanya meringis penuh kemenangan. [b]