Membangun Solidaritas di Tengah Pandemi COVID-19

Pengukuran suhu tubuh pada turis di Bali untuk antisipasi COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Rasanya sulit sekali belakangan ini untuk tidak panik.

Sulit sekali untuk percaya bahwa semua baik-baik saja. Meski setiap kita tahu bahwa badai, sehebat apapun adalah sementara. Sebagai seorang manusia yang hidup di era canggih, pada zaman di mana seharusnya kematian sia-sia adalah aib, pandemi ini mewakilkan banyaknya ketiadaan kita. Ketidaksempurnaan kita sebagai manusia. Baik sebagai individu pun mahluk sosial.

Saya ingat buku Albert Camus yang sudah lama sekali saya baca, The Plaque. Buku ini bercerita tentang penduduk Oran yang tidak percaya bahwa wabah penyakit yang berasal dari sebuah virus dari tikus mati tengah mengintai daerah mereka. Mereka berpikiran bahwa wabah itu adalah sesuatu yang tak nyata hingga akhirnya setengah dari populasi Oran tumbang menjadi nama.

Ketika saya menulis ini, rasanya sulit sekali untuk mengurainya. Sesekali saya ingin bercerita tentang virus ini dan keluarganya secara teori kedokteran. Pada menit berbeda, saya ingin menyampaikan sejarah pandemi di alam semesta ini. Pada saat bersamaan saya juga ingin mengatakan bahwa Camus sudah tahu hal seperti ini mungkin sekali terjadi dan akan terjadi lagi.

Saya pun ingin menyampaikan kepedihan hati. Tentang bagaimana kita mengalami krisis kepercayaan terhadap pemimpin yang bingung dan tertutup mengenai langkah-langkah mereka untuk menyelesaikan krisis ini. Kita bagai berada di sebuah jembatan rapuh dan tengah menyeberangi jurang dalam yang siap menelan kita kapan saja kita terpeleset.

Akhir Desember, di sebuah pasar ikan di tengah kota Wuhan, beberapa orang mengalami batuk, demam, gejala yang mirip dengan peradangan paru-paru. Siapa sangka, sindrom yang bermula dari Wuhan tersebut mengganas melampaui batas-batas negara. Menjangkit siapa saja yang lengah dan tengah lemah. Melahirkan kepanikan. Membikin lonjakan-lonjakan pasien di rumah sakit berbagai negara.

Hingga 21 Maret, terdapat 276.462 kasus terinfeksi. Pasien berhasil sembuh sekitar 91.954. Pasien meninggal sebanyak 11.417 kasus.

Kemudian, apakah virus SARS- COV 2 itu? Secara singkat, SARS-COV 2 adalah bagian dari famili Corona virus. Corona virus umumnya dapat menginfeksi hewan dan manusia menyebabkan infeksi pernafasan, pencernaan, hepar juga sistem persarafan.

SARS-COV 2 adalah corona virus ketujuh yang mampu menginfeksi manusia. Sebelumnya terdapat alpha-CoVs HCoVs-NL63 dan HCoVs-229E, beta-CoVs HCoVs-OC43, HCoVs-HKU1, severe acute respiratory syndrome-CoV (SARS-CoV), dan Middle East respiratory syndrome-CoV (MERS-CoV).

Cerita berawal dari laporan terdapat sindrom serupa radang paru di daerah Wuhan. Pemerintah setempat menemukan bahwa penyebabnya adalah virus yang belum diketahui. Akhir Desember, pemerintah China menemukan bahwa penyebabnya adalah virus corona baru yakni SARS-COV 2.

Lalu pada 30 Januari WHO mendeklarasikan bahwa wabah ini adalah situasi emergensi. Per tanggal 12 maret, WHO mengumumkan bahwa COVID 19 adalah pandemik.

Masih banyak yang belum kita pahami dengan sempurna tentang virus SARS COV 2. Menurut Van Doramelen N dan tim, penularan dapat terjadi melalui droplet yang keluar saat penderita bersin, batuk atau bicara. Namun, droplet tersebut dapat menular ke orang lain hanya jika droplet tersebut berkontak dengan mulut, hidung atau mata kita. Artinya ia memiliki jalan masuk.

Masih menurut sumber sama, droplet tersebut tidak bisa menularkan jika antara satu orang ke orang lain berjarak sekitar 6 kaki atau 2 meter. Ini penting sekali untuk kita pahami sebagai bentuk pencegahan. Bahwa berjarak saat ini adalah mutlak. Mencuci tangan sehabis memegang benda asing juga merupakan kunci utama. Pun menghindari menggosok mata, hidung dan mulut sama pentingnya dengan mencuci tangan.

Menurut CDC, sekitar 81 persen dari total penderita yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala atau hanya menunjukkan gejala batuk pilek dan demam ringan. Sekitar 15 persen pasien menunjukkan gejala berat seperti sesak napas dan sekitar 5 persen datang dengan gejala yang lebih parah yakni kegagalan fungsi banyak organ vital seperti gagal fungsi paru.

Imbauan untuk menjaga ciri sebagai bagian dari pencegahan COVID-19 di Bali. Foto Anton Muhajir.

Lalu, jika 81 persen datang dengan gejala ringan, mengapa wabah ini menimbulkan kepanikan?

Buatlah sebuah perumpamaan. Jika terdapat 1.000 orang yang terinfeksi, maka sekitar 80 persen atau sekitar 800 orang akan datang dengan gejala ringan yang tidak khas. Kemudian, 15 persen atau sekitar 150 orang akan datang dengan gejala sedang hingga berat. Lalu, 50 orang atau sekitar 5 persen akan dirawat inap di ruang intensif dan memerlukan alat bantu nafas.

Bayangkan jika hal ini terjadi bersamaan di seluruh dunia yang kita ketahui sendiri bahwa fasilitas ruang intensif tidak tersebar merata.

Maka akan terjadi lonjakan pasien kritis yang akan menimbulkan masalah baru. Seperti yang terjadi di Italia, yakni pemilihan triase. Jika ada pasien berada pada keadaan tak tertolong dengan angka keberhasilan rendah, dengan berat hati para dokter akan menyelamatkan dahulu pasien-pasien yang masih mungkin berhasil.

Siapakah mereka yang rentan untuk terinfeksi dan berada dalam keadaan kritis? Para lansia, pasien dengan gangguan imun atau mengomsumsi obat-obat yang berpengaruh pada sistem imun, pasien kanker dan pasien yang sedang kemoterapi, pasien yang baru melakukan transplantasi organ, pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes militus, gangguan ginjal, infeksi liver, pasien dengan penyakit jantung dan hipertensi.

Untuk itu, sementara ini penting sekali bagi kita untuk melakukan karantina diri kita sendiri melalui tinggal di rumah saja. Tindakan ini akan memutus rantai penularan dan juga mengurangi risiko penularan dan kondisi yang tak kita inginkan pada saudara-saudara kita yang rentan.

Sebenarnya, jika kita menilik ke masa lalu, pandemi tidak terjadi kali ini saja. Pada abad ke-14, jauh sebelum era globalisasi di mana pesawat hadir menerbangkan manusia. Terjadi sebuah pandemik Black Death yang tersebar dari Asia Timur hingga Eropa Barat dan membunuh 75 juta – 200 juta manusia. Lebih dari seperempat populasi asia eropa saat itu.

Kemudian, pada Maret 1520, Francisco de Eguía sampai di Meksiko tanpa bus atau pesawat. Dia ternyata pembawa (carrier) virus smallpox. Setelah itu hingga Desember di tahun yang sama sepertiga populasi Amerika Tengah meninggal akibat virus tersebut.

Pada tahun 1918, pandemi flu Spanyol menimpa muka bumi dan menyebabkan kematian sekitar 100 juta manusia dalam 1 tahun. Jauh lebih banyak daripada jumlah korban 4 tahun Perang Dunia I.

Apa yang bisa kita pelajari dari kumpulan fakta di atas adalah bahwa pandemi bisa terjadi kapan saja, karena sama seperti manusia. Virus juga bermobilisasi melalui mahluk hidup yang ia tumpangi. Virus yang pagi ini ada di Tokyo sore nanti berada di Singapura, juga virus terus mencari cara agar bertahan hidup. Dia mampu bermutasi.

Dan, bukan tidak mungkin hasil mutasi tersebut menghasilkan virus baru yang bisa lebih tidak berbahaya daripada virus sebelumnya atau justru sebaliknya menjadi virus baru yang lebih sulit ditaklukan.

Namun, jangan kita lupa, bahwa smallpox yang dulu merupakan penyebab pandemi maka hari ini dunia berhasil bebas darinya. Pada abad ini, epidemi tidak lagi memakan korban sebanyak di masa lalu.

Semakin berkurangnya korban epidemi menunjukkan secercah harapan bagi kita untuk memenangkan perang ini. Ada harapan yang jika kita melihat secara saksama dapat membantu kita mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi.

Pada 1967, Smallpox masih menginfeksi sekitar 15 juta jiwa dan membunuh 2 juta orang. Namun, lihatlah pada tahun 2019 lalu tak satupun manusia mengeluhkan smallpox. Ini menunjukkan bahwa ketika para ilmuwan kita berhasil mempelajari virus ini maka mereka akan segera menemukan vaksin, obat-obatan yang mampu membebaskan manusia dari infeksi dan gejala klinis yang ditimbulkan oleh virus ini.

Penyemprotan disinfektan untuk mengantisipasi COVID-19 di Bali. Foto Anton Muhajir.

Saya rasa, ada dua hal yang dapat kita pelajari dari sejarah wabah-wabah di atas.

Pertama, Berbagi & Bersolidaritas.

Hal ini dapat kita mulai dari berbagi data. Data apapun tentang virus ini akan sangat bermakna bagi para ilmuwan dan dokter untuk mempelajari sifat dan bagaimana kita dapat mengalahkan virus ini. Penting sekali bagi siapapun yang berwenang terhadap data ini untuk membaginya kepada negara lain yang juga terdampak. Hal ini untuk melihat bagaimana pola sebaran, kemungkinan mutasi dan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan semakin mempercepat temuan yang mungkin saja bisa menjadi solusi bagi pandemi ini.

Hendaknya setiap negara atau otoritas saling bersama, berbagi data temuan. Karena seperti bagaimana kita berhasil menang melawan epidemi smallpox adalah dengan berbagi data sains dan mempelajarinya.

Berbagi data sains hingga data lainnya akan sangat membantu para ilmuwan, dan ini juga langkah awal untuk solidaritas yang lainnya.

Kedua, Keterbukaan dan Kepercayaan.

Dalam situasi seperti saat ini, kita bukan hanya panik tapi juga mengalami krisis kepercayaan terhadap pemegang otoritas. Kita berada pada suatu kondisi di mana kita tidak yakin apakah kita akan segera terbebas dari pandemi ini. Pun, kita semakin ngeri karena jumlah korban yang semakin bertambah, ditambah sangat sulit bagi kita tuk mengetahui sumber informasi yang terbuka.

Kita bagai anak kecil yang hilang di keramaian hiruk pikuk pasar.

Di tengah krisis kepercayaan ini, sulit sekali menata harapan. Padahal hakikatnya keterbukaan dan kepercayaan adalah modal mutlak bagi kita untuk bersolidaritas. Salah satu hal baik yang pemerintah Jerman lakukan adalah membuka informasi bahwa jika setiap rakyatnya tidak patuh terhadap self-distancy maka sekitar 70 persen populasi mereka akan terinfeksi dan ini dapat menimbulkan krisis baru lainnya.

Keterbukaan sejak awal menjadi modal kepercayaan antara rakyat dan otoritas. Mereka berhasil meminimalisasi dampak pandemi ini.

Perlu sekali bagi kita untuk kembali melihat bagaimana langkah awal penanganan pandemi ini di negeri kita dan bagaimana kita memperbaiki diri. Kita di sini adalah semua, otoritas yakni pemimpin dan kita sebagai warga negara.

Kejujuran akan mengikis krisis kepercayaan kita, jika memang kita tak mampu menangani ini agar segera kita meminta bantuan negara tetangga yang berhasil belajar dan meminimalkan dampak pandemi. Pandemi ini mengajarkan kita untuk mengikis saling curiga dan sementara mengesampingkan isu politik antar negara. Karena dengan saling terbuka dan percaya kita semua bisa melangkah maju.

Rasanya memang sangat suram, ngeri dan juga tidak pasti melihat kondisi belakangan ini. Namun, saya percaya kita anak muda bisa belajar banyak dan belajar bertahan hidup. Belakangan saya juga jadi berpikir untuk menanam sayur mayur di sekitar halaman rumah yang jika seandainya isolasi diri diperpanjang, maka setidaknya kita bisa bertahan makan dengan nasi dan sayur. Pun mungkin kita bisa bertukar hasil kebun dengan para tetangga sekitar melalui jendela dapur.

Agak melankolis tapi ini solusi yang realistis.

Saat teman-teman membaca tulisan ini, saya ingin kalian menemukan harapan dan sebongkah solusi juga refleksi bagaimana seandainya jika virus bermutasi dan menyebabkan kepanikan global di masa depan, apakah kita siap? Apakah pemimpin yang kita coblos setiap lima tahun siap? Apakah tanah dan sawah kita bisa memberi makan 200 juta mulut dengan sama rata?

Jawaban-jawaban akan pertanyaan ini hendaklah menjadi perenungan kita setiap kali kita mendengar mereka berjanji di kampanye. [b]