
Oleh: Ni Komang Diah Wiryatami
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-23 akan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di Taman Baca, Ubud. Tahun ini, festival mengangkat tema Samarasa: Awareness, Empathy, Action. Tema ini diperkenalkan dalam konferensi pers di Artotel Sanur, Denpasar, Rabu (7/10/2026).
I Ketut Suardana, pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati, membuka sesi dengan menjelaskan tiga gagasan yang menjadi dasar tema tersebut: citta, rasa, dan karsa. Citta berkaitan dengan pikiran, rasa berkaitan dengan hati, sementara karsa berkaitan dengan tindakan. Menurutnya, persoalan sosial, politik, dan ekonomi juga berkaitan dengan kondisi manusia yang menjalaninya. Karena itu, keselarasan tidak hanya dicari melalui perubahan di luar diri, tetapi juga melalui kesadaran yang tumbuh dari dalam.

Founder dan Director UWRF, Janet DeNeefe, mengingatkan bahwa festival ini lahir setelah Bom Bali, sebagai upaya menyembuhkan masyarakat. Ia membandingkannya dengan Festival Edinburgh yang muncul setelah Perang Dunia II. Menurut Janet, media sosial dan layar membuat orang makin terpisah dan hanya membaca pandangan yang sudah ia setujui. Di festival, situasinya akan berbeda. Orang duduk bersama dan mendengarkan. Mereka tetap boleh tidak setuju, tetapi setidaknya memiliki kesempatan untuk memahami pandangan orang lain.
Akademisi, penulis, dan penekun spiritualitas Nusantara, W. Mustika, membuka dengan film James Bond Tomorrow Never Dies, tentang pemilik media yang menciptakan konflik antarnegara. Baginya, media dan tulisan adalah “peluru kendali”. Salah digunakan, ia menghancurkan. Digunakan dengan benar, ia mendamaikan.
Ia mengutip Bhagavad Gita (bab 5, sloka 18) tentang orang bijak yang memandang semua makhluk dengan rasa yang sama. Dari gagasan itu, Mustika menghubungkan sama rasa dengan empati dan penerimaan. Menerima orang lain dengan rasa yang sama, menurutnya, dapat melahirkan empati. Sementara, menerima suka dan duka dengan rasa yang sama dapat membawa seseorang pada keikhlasan. Ia juga mengajak pembaca waspada. Tulisan yang membuat kita ikut cemas dan marah biasanya datang dari ego penulisnya, sedangkan tulisan yang datang dari jiwa kadang membuat pembacanya menitikkan air mata. Ia menyebutnya “virus akal budi”.
Marlowe Bandem, seorang praktisi kreatif, menjadi penyeimbang dalam diskusi tersebut. Ia menolak amnesia sejarah. Marlowe mengingatkan kembali pada Prasasti Blanjong yang mencatat identitas asli Bali sebagai Walidwipa sebuah “island of perpetual devotion” atau pulau pengabdian suci tiada akhir. Ia mengkritik bagaimana identitas luhur itu kini sering direduksi oleh industri menjadi “The Last Paradise”, sebuah surga buatan demi pariwisata. Oleh karena itu, Marlowe menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh pasrah menelan narasi “mulut hidup” (menerima keadaan apa adanya). Generasi masa kini harus berani mempertanyakan kegagalan sistem dan memiliki daya cipta (Karsa) untuk merespons zaman.
Nityasa Wijaya, salah satu Emerging Writer 2026, bercerita bahwa selama ini ia menulis cerpen sendirian di rumah, mengirimkannya ke media, lalu selesai. Lewat UWRF ia menemukan teman diskusi lintas generasi. Cerpennya yang terpilih, Perempuan Ular, mengangkat sudut pandang perempuan di tengah masyarakat patriarkal.
UWRF 2026 adalah ruang dialog lintas batas. Meski demikian, kita perlu menyadari bahwa Samarasa baru akan bermakna utuh ketika ia keluar dari ruang-ruang diskusi itu nantinya. Harapannya, Citta dan Rasa yang terkumpul di Ubud nanti tidak hanya menjadi perayaan, tetapi bisa sungguh-sungguh melahirkan Karsa yang berpihak pada persoalan yang kita hadapi setelahnya.







![Private: [Indepth Report] The Last Dragonfly](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2016/04/Agung-Parameswara_The-Last-Dragonfly_26.jpg)