
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sering terlihat otomatis, cepat, dan sempurna. Namun, di baliknya ada pekerja yang harus membaca dan melabeli ribuan konten kekerasan dan ujaran kebencian supaya sistem AI belajar membedakan mana yang pantas.
Laporan The Guardian menyebutkan bahwa para content moderator yang melatih AI menanggung beban psikologis berat, sementara kerja mereka nyaris tak terlihat oleh penggunanya.
Isu itu menjadi pemantik diskusi kelompok dalam Youth Ethical Leadership Bootcamp, salah satu side event Global Ethics Forum (GEF) 2026 di Prama Sanur Beach Hotel Bali, 21 Oktober 2026. Para peserta diminta memikirkan trade-off kecerdasan manusia dalam pengembangan AI.
Sekilas tentang Global Ethics Forum (GEF) 2026
GEF 2026 diselenggarakan oleh Globethics dan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama beberapa mitra. Forum ini pertama kalinya digelar di Indonesia. Membawa tema Responsible Governance in a Fragmented World dengan menghadirkan 165 pemimpin, akademisi, pelaku usaha, pembuat kebijakan, dan perwakilan masyarakat sipil dari 18 negara.

Dalam sesi doorstop, Dicky Sofjan, pendiri YADEMA, menjelaskan alasan forum ini digelar di Indonesia. Global Flourishing Study yang terbit 2025 menyebut Indonesia sebagai negara yang paling flourishing. Studi itu mengukur enam domain, termasuk kebahagiaan, makna hidup, karakter, dan hubungan sosial. “Kita punya gotong royong, dan budaya serta tradisi ada di mana-mana,” katanya.
Sementara itu, Presiden Globethics Dietrich Werner menjelaskan pentingnya penerapan etika teknologi yang selaras. “Technology is inclusive and not creating an additional divide between people. It’s used in a really safe way that protects people (Teknologi bersifat inklusif dan tak menciptakan kesenjangan tambahan di antara masyarakat. Digunakan dengan cara yang sangat aman sehingga mampu melindungi orang-orang),” jelasnya.
Pesan itu sejalan dengan harapan bahwa manusia sebagai pengguna ikut andil. “Etika membantu kita bertanya bagaimana kita hidup bersama dan masa depan seperti apa yang ingin kita bangun,” ujar Dicky Sofjan.
Etika pembuatan konten

Berbicara tentang pengembangannya, segmen anak muda dilibatkan karena tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga ikut membentuk percakapan publik.
Sesi “Mengulik Perkembangan Konten Media Sosial” diisi Dendi Andrian, kreator jurnalis National Geographic Indonesia. Ia memulai dengan studi kasus konten kebakaran hutan yang ramai dibagikan ulang. National Geographic yang selama ini identik dengan foto indah, justru tampil tanpa visual dan hanya berisi teks “Maaf sekali lagi, tak ada gambar indah untuk kebakaran hutan dan krisis iklim.”
Menurut Dendi, kontras itu disengaja. “Segala visual di majalah dan media sosial itu dekat dengan alam yang baik, padahal hari ini alam sedang tidak baik,” ujarnya.
Dendi memaparkan kerangka kerja tiga tahap. Pertama, perencanaan dengan menentukan topik, argumen, dan target audiens. Kedua, data dan etika menggunakan bukti ilmiah yang bisa diverifikasi. Ketiga, kreativitas dengan memakai hook, personifikasi, dan narasi yang relevan.
“Tidak semua orang merasa data itu penting. Itu sebabnya kita butuh storytelling untuk menggerakkan hati masyarakat,” katanya. Contohnya, ukuran anggrek baru di Kalimantan digambarkan “tidak lebih besar dari kancing baju”, bukan sekian milimeter. Lahan 600.000 hektare di Papua dibandingkan dengan sepuluh kali luas Jakarta. Menggunakan analogi sebagai cara bercerita data.

Bagian etika berpijak pada prinsip melihat narasumber sebagai manusia, bukan objek. Narasumber memberi consent dengan memahami tujuan dan dampak konten. “Belakangan kan pakai orang yang bikin video, ngerekam pakai kacamata, orang lain enggak tahu dia ngerekam dan itu tidak melihat orang sebagai manusia. Dia hanya melihat orang sebagai objek untuk konten,” ungkapnya.
Pembuat konten harus berempati terhadap dampak yang ditimbulkan. Narasumber ditampilkan dengan agency, sebagai pihak yang berjuang dan bukan korban pasif. Liputan dibuat unbiased dengan mendengar semua pihak. Terakhir, semua data harus akuntabel dan penggunaan AI harus diungkap dengan keterangan.
Ia mencontohkan liputannya tentang seorang perempuan yang mempertahankan lahan bambu. Sebelum produksi ia menjelaskan tujuan konten, ia mengonfirmasi pihak pemerintah yang bersengketa, dan setelah tayang ia meminta narasumber memeriksa ulang.
“Konten yang bertanggung jawab adalah konten yang memiliki bukti yang kuat. Semua orang bisa berpendapat, tapi tidak semua orang punya pendapat yang bagus,” kata Dendi.




