Dengan ijazah SMP apa yang bisa kulakukan?
Penggalan puisi Wiji Thukul, Surat Seorang Buruh kepada Adik-Adiknya
Ketika aku berpikir aku merasa hidup
Kemiskinanku semakin sewenang-wenang
Tapi itu bukan alasan bagi kita
Untuk lari dari kehidupan dan tidak melawan

Mendung perlahan bergeser ke Ubud. Langit semakin gelap, padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 16.00 sore. Sebelum hujan semakin lebat, saya telah tiba di Honeymoon Garden. Sore itu, Kamis, 30 Oktober 2025, salah satu acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) diselenggarakan di Honeymoon Garden.
Sebelum masuk ruangan, saya mengambil kertas biru yang berisi stiker di meja registrasi. Ruang kecil di Honeymoon Garden penuh sesak. Fokus tertuju pada para pembicara di depan.
Ruangan di Honeymoon Garden ternyata disulap menjadi sebuah pameran kecil dengan tajuk “Map of Memory: An Interactive Exhibition of Indonesia’s Collective Past”. Pameran ini dikembangkan dari majalah terbitan Peron House yang sudah diterbitkan dalam dua edisi, yaitu Porter 01: Coming of Age dan Porter 02: Living Dangerously.
Sebuah peta dunia dicetak dalam banner berwarna biru. Peta tersebut menampilkan wilayah-wilayah yang dilintasi oleh para penulis Porter dalam perjalanan karyanya. Porter merupakan majalah yang menghimpun kisah-kisah di luar jalur umum bagi para pelancong, kreator, dan pembuat karya dengan rasa ingin tahu tinggi. Berbeda dengan edisi pertama yang memuat perjalanan pribadi, Porter edisi kedua mengangkat kisah tentang risiko, perlawanan, dan ketangguhan.
Penggalan isi Porter 02 ditampilkan di Honeymoon Garden. Ada penggalan puisi Surat Seorang Buruh kepada Adik-Adiknya oleh Wiji Thukul, tulisan Rahasia Sultan Agung oleh Seno Gumira Ajidarma, hingga esai foto oleh Yoppy Pieter. Pameran itu seolah menggambarkan bahwa Porter tak hanya berisi kisah berupa cerita, tetapi juga dibalut dalam puisi, komik, dan karya visual.
“Our personal goal itu for more people who work in publishing, bukan hanya penulis, tapi juga editor, curator, translator, book designer, book illustrator untuk mendapat platform dan mendapat exposure yang lebih besar. Because at the end of the day, the writer work with them equally to create these very beautiful books,” jelas Rain Chudori, salah satu penggagas Peron House.
Setiap pengunjung yang datang diberikan tiga stiker berwarna biru, kuning, dan merah. Stiker ini ditempelkan pada peta untuk berbagi lokasi yang menggambarkan setiap kenangan, mulai dari cinta, kehilangan, dan keterikatan.
Di tengah hujan yang makin deras, Fajar Merah, anak Wiji Thukul, menampilkan musikalisasi puisi. Puisi-puisi karya Wiji Thukul dinyanyikan dengan iringan senar gitar. Fajar Merah mengundang salah satu peserta membacakan puisi Peringatan, masih dengan iringan gitarnya. Sore itu hanya suara rintik hujan, petikan gitar, dan nyanyian Wiji Thukul yang memenuhi ruang pameran.
Kala hujan reda, saya langsung menuju Indus Restaurant, bersebelahan dengan lokasi utama UWRF. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk melihat los buku patjarmerah. Patjarmerah merupakan festival literasi dan pasar buku keliling yang melawan pola pameran buku yang terkesan mahal dan eksklusif. Di UWRF, patjarmerah hadir berkolaborasi dengan Singaraja Literary Festival (SLF).
Ini kali pertama patjarmerah hadir di Bali, membawa buku-buku yang jarang ada di toko buku. Begitu masuk, seorang penjaga pasar buku tersebut menghampiri saya dan menanyakan buku yang sedang dicari. Tak berbekal judul buku yang ingin dibeli, saya hanya menunjuk salah satu buku yang sudah saya baca. Langsung saja seseorang menghampiri dan memberikan rekomendasi buku yang mungkin saya suka.
Konsep patjarmerah sangat berbeda dari toko buku besar. Mereka menghampiri pengunjung, mengajak kami mengobrol sebagai teman, dan merekomendasikan buku-buku yang sekiranya akan kami suka. Para penjaga los buku pun tak sekadar menjaga, tetapi juga membaca sejumlah buku di sana. Hal yang tak pernah saya dapatkan ketika berkunjung ke Gramedia, Periplus, maupun acara besar seperti BBW. Patjarmerah membawa sejumlah buku terbitan penerbit indie, seperti Marjin Kiri, Mahima, Mizan Publisher, Penerbit Haru, dan penerbit-penerbit lainnya. Harga jualnya pun lebih murah daripada harga jual yang tertera pada buku.
Patjarmerah meninggalkan perasaan berandai-andai. Andai lebih banyak toko buku maupun los buku serupa di Bali, seperti yang terjadi di Yogyakarta. Di kota yang katanya kota pelajar itu, hadir berbagai pilih toko buku indie, seperti Buku Akik, Berdikari Book, Bawabuku, dan toko buku indie lainnya. Toko buku di Yogyakarta tak hanya sebagai tempat bertransaksi, tetapi juga sebagai tempat berdiskusi dan berinteraksi. Sementara, toko buku indie di Bali sangat terbatas.
Perdebatan buku yang dianggap eksklusif dan mewah juga kerap terjadi di komunitas baca buku X (Twitter). Pengguna X kerap membandingkan harga buku di Indonesia dengan luar negeri. Misalnya, buku Norwegian Wood karya Haruki Murakami dijual seharga Rp204.000 di Periplus dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) rata-rata Rp3.3 juta per tahun 2025. Sementara itu, judul buku yang sama dijual $26 di Australia (setara Rp285.291) dengan rata-rata gaji $7.900 per bulan. Artinya, buku di Indonesia bagaikan barang semi-luxury bagi kebanyakan orang. Membeli buku di Indonesia setara dengan menghabiskan 2 hari kerja, sedangkan di Australia hanya beberapa menit dari upah harian. Meski perbandingan ini dilakukan pada buku impor, buku terbitan Bahasa Indonesia pun mengalami hal serupa. Harga melambung tinggi, rata-rata di bilangan ratusan.
Ketika gaji tak bisa mengimbangi harga buku, pilihan lain pun muncul, seperti beredarnya buku bajakan, baik dalam bentuk digital maupun fisik. Dalam opini saya, bukan harga buku yang mahal, tetapi UMP yang terlalu rendah.
idikotasorong.org grenetwork.org shortlybusiness.com



![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-75x75.jpg)



