• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, July 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Melihat Hukum dari Lubang Toilet

Dananda Paramartha by Dananda Paramartha
19 May 2025
in Kabar Baru, Opini
0
0
pixabay

Di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali, ada satu tempat yang sering luput dari perhatian: toilet umum. Tempat yang seharusnya menjadi ruang paling privat, justru bisa memberi gambaran paling jujur tentang wajah masyarakat kita, termasuk soal bagaimana kita memperlakukan hukum.

Malam itu, saya mampir ke sebuah toilet umum karena tidak tahan dengan “panggilan alam.” Apa yang saya temui di dalam cubicle toilet itu adalah kekacauan yang menjijikkan: bau pesing menusuk, bercampur dengan sisa muntahan, dan tisu yang meluber ke lantai dari tempat sampah yang penuh. Padahal, tepat di dinding tertempel imbauan sederhana,“Tinggalkan toilet dalam keadaan bersih dan kering seperti semula.”

Ironisnya, imbauan itu seolah jadi dekorasi belaka. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Mungkin dianggap terlalu sepele untuk ditaati. Tapi bagi saya, justru di sanalah masalahnya. Jika kita tidak bisa patuh pada hal kecil yang menyangkut kenyamanan bersama, bagaimana kita bisa diharapkan patuh pada hukum yang lebih besar dan kompleks?

Toilet Sebagai Cermin Peradaban

Bill Gates pernah mengatakan bahwa toilet adalah indikator peradaban. Cara kita memperlakukan toilet bisa mencerminkan kesejahteraan, kedisiplinan, bahkan kepedulian kita terhadap sesama. Dan saya percaya, toilet juga bisa menjadi indikator kesadaran hukum masyarakat.

Ambil contoh Jepang. Di sana, toilet umum dijaga bukan oleh petugas, melainkan oleh budaya malu dan kesadaran kolektif. Tak ada yang mencoret dinding, membuang tisu sembarangan, atau membiarkan air menggenang. Teknologi memperkuat budaya ini: tombol-tombol air hangat, dudukan otomatis, hingga pembersih khusus. Meski tidak ada aturan keagamaan seketat kita dalam hal najis, toilet mereka tetap bersih dan manusiawi.

Bandingkan dengan Indonesia. Negara yang punya perangkat aturan agama dan sosial yang sangat rinci tentang kebersihan. Namun, realitas di toilet umum sering kali menunjukkan hal yang berlawanan: lantai becek, aroma menyengat, tisu berserakan, dan tulisan di dinding yang menyandingkan nomor HP dengan ajakan “call me, baby.”

Antara Aturan dan Kesadaran

Persoalan kebersihan toilet bukan semata-mata soal kebersihan fisik, melainkan tentang bagaimana relasi kita yang rumit dan rapuh dengan hukum. Cara kita memperlaukan toilet umum mencerminkan bahwa kepatuhan kita terhadap aturan bukan lahir dari kesadaran, melainkan dari rasa takut – takut ditegur, takut dipermalukan, atau takut dikenai sanksi.

Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di toilet umum. Kita bisa melihat pola yang sama dalam hal-hal lain, misalnya penggunaan helm. Banyak orang memakai helm bukan karena menyadari pentingnya keselamatan, melainkan karena takut ditilang polisi. Begitu pengawasan menghilang, begitu pula kepatuhan.

Konteks tersebut menunjukan bahwa hukum lebih sering dipandang sebagai alat kekuasaan, bukan sebagai kesepakatan etis bersama yang dihasilkan dari proses menjadi manusia yang beradab. Banyak orang yang mematuhi aturan hanya demi kepentingan pribadi atau karena takut dihukum, bukan karena kesadaran bahwa norma tersebut benar dan layak dipatuhi. Alhasil, kita lebih sering pura-pura tertib daripada benar-benar tertib.

Refleksi Dari Lubang Toilet

Toilet adalah ruang sosial yang paling sunyi, namun juga paling jujur. Tak ada kamera pengawas, tak ada polisi, tak ada saksi. Hanya kita dan pilihan: apakah kita akan meninggalkan tempat itu lebih baik atau lebih buruk dari saat kita menemukannya?

Pengalaman mengunjungi toilet umum itu setidaknya membuat saya mawas bahwa di Indonesia, aturan-aturan tertulis atau tak tertulis tak mempan membuat orang menjadi disiplin untuk dirinya sendiri.

Agaknya kita menjaga kebersihan kalau dijaga saja, sama seperti kita tak akan melawan arus jalan searah karena ada polisi berjaga di sana. Kita tak pernah turut pada hukum, kita hanya pura-pura patuh saja, seperti aturan di toilet itu.

Tingkat kedewasaan kita dalam menghargai hukum sejatinya bisa dilihat dari lubang toilet. Apakah bersih atau tidak? Silahkan kunjungi toilet umum terdekat.

Penulis adalah Paralegal dan Ketua Komunitas Rechtforma

sangkarbet journal.stikesaisyogya.ac.id kampungbet
Tags: HukumOpinitoilet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dananda Paramartha

Dananda Paramartha

Related Posts

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Next Post
Warisan Kuliner dan Talenta Lokal dalam Ubud Food Festival 2025

Warisan Kuliner dan Talenta Lokal dalam Ubud Food Festival 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lagu “Selaras” Hadirkan Pelita di Tengah Gulita Hari Anak Nasional

Lagu “Selaras” Hadirkan Pelita di Tengah Gulita Hari Anak Nasional

25 July 2026
Festival 100 Tahun Rarud Batur

Festival 100 Tahun Rarud Batur

24 July 2026
Majelis Hakim Mempertanyakan Surat Keterangan Mahasiswa Tomy

Selain Intimidasi, Fakta Persidangan Tomy Membuktikan Alasan Aksi sebagai bagian dari Kritik Warga

24 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia